1 dari 4 Orang Kurus Berisiko Kena Penyakit Jantung, Ini Sebabnya

1 dari 4 Orang Kurus Berisiko Kena Penyakit Jantung, Ini Sebabnya
Ilustrasi - Pemicu Penyakit Jantung. (Foto: NET)

JAKARTA - Penyakit jantung serta pembuluh darah hingga kini masih menduduki posisi pertama sebagai penyebab kematian global. Lewat deteksi sejak dini serta manajemen faktor risiko, gangguan jantung pada dasarnya bisa diantisipasi. 

Akan tetapi, anggapan di masyarakat bahwa penyakit ini cuma mengintai individu dengan obesitas sering kali membuat banyak orang tidak menyadari bahwa diri mereka sendiri atau kerabat dekatnya punya tingkat risiko yang serupa.

Hasil studi yang dipaparkan oleh PT Daewoong Pharmaceutical Indonesia bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) pada sesi edukasi media, Kamis (23/07), memperlihatkan bahwa individu dengan berat badan normal namun mengidap gangguan metabolik memiliki risiko terkena penyakit kardiovaskular sekitar 2 hingga 3 kali lipat lebih besar dibanding mereka yang metaboliknya normal.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari PERKI, Dr. dr. Susetyo Atmojo, Sp.JP, menyampaikan bahwa pandangan mengenai penyakit jantung yang cuma menyerang individu bertubuh gemuk masih melekat kuat di tengah masyarakat.

"Hampir 1 dari 4 orang yang bertubuh kurus itu menyimpan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah," papar dr. Susetyo dalam acara yang dihelat di Revenue Tower, Jakarta Selatan.

Oleh karena itu, indikator penentu tingkat risiko penyakit jantung tidak hanya dipatok berdasarkan angka yang tertera pada timbangan.

Nyatanya, terdapat pelbagai aspek yang menetapkan tingkat risiko penyakit jantung, contohnya kadar kolesterol LDL (kolesterol jahat), timbunan lemak visceral di area organ dalam, hingga unsur genetik yang punya andil besar dalam memicu munculnya gangguan kardiovaskular.

"Memang benar obesitas atau ukuran berat badan itu berhubungan secara langsung atau linier dengan peningkatan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah. Tapi, bukan hanya obesitas atau kalau kita tarik kembali bukan hanya angka yang tampak di timbangan berat badan yang menentukan apakah kita nanti akan mengalami penyakit jantung dan pembuluh darah," ungkap dr. Susetyo.

Kemunculan masalah ini utamanya bersumber dari kadar kolesterol LDL. Bagi orang dewasa yang tidak mempunyai faktor risiko kardiovaskular, mereka umumnya disarankan menjaga kadar LDL di bawah 100 mg/dL. 

Namun, bagi individu yang pernah mendapat serangan jantung ataupun stroke, batas targetnya menjadi jauh lebih ketat, yakni di bawah 55 mg/dL.

"Kalau kita sudah dewasa dan tidak memiliki faktor risiko kardiovaskular yang jelas, kolesterol LDL-nya di bawah 100 mg/dL. Tapi bagi mereka yang sudah pernah mengalami serangan jantung atau stroke, maka kolesterol LDL-nya harus di bawah 55," jelas dr. Susetyo.

Kadar LDL ini wajib dikontrol karena penumpukan LDL di dalam darah secara perlahan akan mengendap di area dinding dalam pembuluh darah, yang kemudian membentuk plak aterosklerosis. 

Plak tersebut lambat laun memicu penyempitan saluran pembuluh darah, sehingga pasokan darah menuju organ-organ vital menjadi terhambat. Padahal, darah bertugas mendistribusikan oksigen, nutrisi, hormon, enzim, serta zat penting lain agar tubuh bisa berfungsi normal.

"Kalau pembuluh darah kita kadar kolesterol jahat LDL-nya rendah, maka tidak akan tercipta atau terbentuk yang disebut plak aterosklerosis, yaitu tertimbunnya atau menempelnya lemak jahat pada dinding dalam pembuluh darah," jelas dr. Susetyo.

Beliau mengumpamakan saluran darah layaknya pipa air yang bagian dalamnya diselimuti kerak. Semakin tebal lemak yang menempel, maka ruang gerak darah untuk mengalir akan semakin sempit. 

Dampaknya, jantung, otak, ginjal, maupun organ tubuh lainnya tidak mendapatkan pasokan oksigen serta nutrisi secara maksimal.

Apabila dibiarkan terus-menerus, penyempitan ini bisa berujung pada penyumbatan total. Akibatnya, organ yang kehabisan suplai darah berpotensi mengalami kerusakan fatal yang memicu serangan jantung, stroke, gagal ginjal, hingga kelumpuhan fungsi organ lainnya.

Di samping itu, faktor keturunan atau genetik turut memegang andil krusial. Pada kasus familial hypercholesterolemia, misalnya, seseorang telah memiliki kadar kolesterol jahat yang tinggi bawaan sejak lahir kendati sudah menerapkan pola makan yang sehat.

"Makan sehat pun kadar kolesterol darahnya sudah tinggi. Kenapa? Karena secara genetik memang dia ada abnormalitas, secara genetik dalam hal produksi atau sintesis dan pemecahan dari kolesterol, sehingga kadar kolesterol jahat di dalam darahnya tinggi," tutur dr. Susetyo.

Minimnya aktivitas fisik juga menjadi faktor pemicu lain yang kerap diabaikan. Dr. Susetyo menjelaskan bahwa orang yang porsi makannya sedikit namun malas bergerak tetap memiliki risiko penumpukan kolesterol lantaran proses pembakaran di dalam tubuh tidak berjalan secara maksimal.

Selain perihal kolesterol, dr. Susetyo mengingatkan masyarakat untuk tetap memantau ukuran lingkar pinggang. Seseorang bisa saja terlihat kurus secara fisik, tetapi sebenarnya menyimpan tumpukan lemak visceral yang berlebih di sekitar organ dalamnya.

Untuk populasi di Asia, ukuran lingkar pinggang yang melebihi 90 cm bagi pria dan di atas 80 cm bagi wanita sudah dikategorikan sebagai obesitas sentral. Masalah kesehatan ini berkaitan erat dengan kenaikan kadar kolesterol jahat serta munculnya peradangan pada tubuh.

"Lemak visceral atau obesitas sentral itu secara langsung merupakan faktor risiko untuk mengalami penyakit jantung dan pembuluh darah," pungkas dr. Susetyo.

Individu dengan tubuh kurus juga kerap kali tidak mendapatkan sinyal atau gejala peringatan awal sebelum serangan jantung datang menyerang. Dr. Susetyo memaparkan bahwa banyak kasus baru terdeteksi saat serangan jantung telah terjadi.

"Orang yang mengalami serangan jantung tetapi dia kurus, tidak obesitas, itu sebagian kecil saja yang sebelumnya sudah ada tanda peringatan. Jadi rata-rata orang yang mengalami serangan jantung dengan tanda peringatan sebelum serangan terjadi, rata-rata orang yang gemuk," seru dr. Susetyo.

Dr. Susetyo pun meminta masyarakat luas agar tidak memakai bentuk tubuh sebagai satu-satunya tolok ukur kondisi kesehatan. 

Pengecekan profil lipid secara rutin tetap wajib dilakukan, khususnya bagi mereka yang mempunyai riwayat penyakit jantung, diabetes, ataupun hipertensi dalam keluarganya, agar kadar kolesterol serta risiko gangguan kardiovaskular dapat dideteksi sedini mungkin.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index