Tantangan Likuiditas 2026, CIMB Niaga Fokus Dana Murah

Tantangan Likuiditas 2026, CIMB Niaga Fokus Dana Murah
PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA). (Foto: NET)

JAKARTA — PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) mengambil langkah untuk mengoptimalkan perolehan dana murah atau current account saving account (CASA). 

Langkah ini menjadi strategi utama perseroan dalam merespons tantangan likuiditas menyusul proyeksi pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) industri perbankan yang diperkirakan bakal melandai sepanjang tahun 2026.

Mengacu pada data Survei Perbankan Bank Indonesia (BI) Kuartal II/2026, ekspansi DPK sampai dengan penghujung 2026 diestimasi hanya mencapai 6,18% secara tahunan (yoy). 

Angka tersebut memperlihatkan perlambatan yang cukup signifikan jika disandingkan dengan capaian pertumbuhan DPK tahun 2025 yang mampu menyentuh level 13,83% yoy.

Pada saat yang sama, industri perbankan dituntut untuk tetap meningkatkan ketersediaan likuiditas demi menopang ekspansi pembiayaan. Berdasarkan laporan BI, penyaluran kredit baru pada kuartal II/2026 terpantau masih bergairah dengan raihan Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 93,08%.

Direktur Utama CIMB Niaga Lani Darmawan mengungkapkan bahwa perseroan berkomitmen penuh untuk memacu pengumpulan dana murah demi mempertahankan efisiensi biaya dana (cost of fund). 

Strategi ini dinilai krusial mengingat penyaluran pembiayaan ke depan diprediksi akan berjalan lebih selektif, yang turut dipengaruhi oleh kondisi daya beli masyarakat yang masih penuh tantangan.

“DPK masih akan difokuskan ke CASA untuk memaksimalkan cost of fund yang relatif lebih rendah,” ujar Lani kepada Bisnis, dikutip Selasa (21/7/2026).

Aktivitas penguatan porsi CASA ini bakal diakselerasi lewat optimalisasi beragam saluran, mulai dari ekosistem sistem penggajian (payroll), kanal digital yang menyasar segmen pasar massal (mass market), akun operasional (operating account), hingga penyediaan layanan pengelolaan kas (cash management). 

Skema tersebut diharapkan dapat menjaga kapasitas CIMB Niaga dalam menyalurkan kredit tanpa memicu lonjakan pada beban biaya pendanaan.

Sementara dari aspek penyaluran pembiayaan, Lani berpendapat bahwa data proyeksi pertumbuhan kredit nasional dari BI perlu dicermati secara lebih mendalam dengan melihat struktur industrinya. 

Menurutnya, laju ekspansi pembiayaan secara nasional sejauh ini masih didominasi oleh perbankan skala besar, sedangkan pelaku industri di luar kelompok elite tersebut berpeluang mencatatkan pertumbuhan yang cenderung lebih moderat.

“Perkiraan pertumbuhan kredit dari BI sifatnya nasional dan kebanyakan didominasi oleh Himbara. Pertumbuhan kredit non-Himbara bisa lebih konservatif sejalan dengan masih rendahnya daya beli masyarakat,” tuturnya.

Merespons lanskap tersebut, CIMB Niaga bakal menerapkan prinsip kehati-hatian yang lebih ketat dalam membidik segmen penyaluran dana. 

Kendati demikian, perseroan mengidentifikasi sektor kredit korporasi sebagai salah satu lini yang menjanjikan peluang pertumbuhan yang baik, selaras dengan kebutuhan pendanaan yang muncul dari sektor korporasi.

Di samping membenahi struktur pendanaan, CIMB Niaga senantiasa memantau agar kondisi likuiditas internal tetap berada di zona aman. 

Perseroan berkomitmen mengontrol rasio kredit terhadap simpanan (LDR) serta memastikan indikator likuiditas lainnya konsisten mematuhi ambang batas yang ditetapkan regulator.

Upaya-upaya defensif tersebut menjadi sangat fundamental di kala peta pendanaan industri tengah mengalami pergeseran. 

Hasil survei BI mengonfirmasi bahwa penopang utama pertumbuhan DPK ke depan akan lebih banyak digerakkan oleh produk tabungan dan giro, sedangkan instrumen deposito diperkirakan bakal tumbuh dengan lebih lambat.

Memasuki kuartal III/2026, instrumen tabungan diprediksi mencatatkan nilai SBT sebesar 87,08%, diikuti produk giro dengan SBT 76,38%, sementara instrumen deposito hanya mengantongi SBT di level 40,97%.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index