BISNISINSIGHT.COM — Pentagon melaporkan ke Kongres bahwa biaya perang Amerika Serikat di Iran telah mencapai USD 45,1 miliar hingga awal September. Angka itu belum termasuk perbaikan pangkalan militer yang rusak maupun biaya tidak langsung operasi, sehingga total pengeluaran sesungguhnya diperkirakan lebih besar.
Angka yang disampaikan ke Kongres terdiri atas dua komponen. Sebanyak USD 43,6 miliar merupakan biaya operasi per 3 September, ditambah USD 1,5 miliar untuk tambahan bahan bakar. Dua sumber yang mengetahui laporan tersebut mengonfirmasi rincian itu kepada CNN.
Estimasi Pentagon bukan akuntansi penuh. Perhitungan itu tidak memasukkan penilaian biaya perbaikan pangkalan atau bangunan yang rusak. Pentagon juga tidak memberikan rincian biaya tidak langsung operasi militer seperti yang diminta anggota parlemen.
Belanja Munisi Jadi Komponen Terbesar
Congressional Budget Office (CBO) mencatat sebagian besar pengeluaran berasal dari belanja munisi. Penggantian munisi yang terpakai hingga 1 Agustus ditaksir mencapai USD 21,7 miliar, menjadikannya komponen tunggal terbesar dalam biaya yang ditanggung Departemen Pertahanan selama konflik.
Pemulihan stok munisi AS bisa memakan waktu lima tahun atau lebih. CBO memperkirakan perang masih menelan sekitar USD 2 miliar sampai USD 3 miliar per bulan setelah 1 Agustus, dengan biaya lebih tinggi pada periode pertempuran meningkat.
Angka Pentagon berbeda dari estimasi sebelumnya. CBO memperkirakan biaya perang sekitar USD 38 miliar hingga 1 Agustus, juga tanpa biaya perbaikan fasilitas AS yang rusak. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyebut USD 37,5 miliar hingga 21 Juli dalam kesaksian di Komite Angkatan Bersenjata Senat.
Dampak ke Ekonomi dan Inflasi AS
Di sisi ekonomi, CBO memperkirakan perang menambah inflasi AS sekitar 0,5 poin persentase pada kuartal I 2027. Dorongan terbesar datang dari biaya energi yang lebih tinggi.
Pemicunya adalah berkurangnya pengiriman minyak dan gas alam lewat Selat Hormuz serta gangguan pelayaran di Laut Merah. CBO mencatat gangguan tersebut semakin intens sejak analisis dasar surat itu selesai.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Gangguan di kawasan itu berdampak langsung pada harga energi global, termasuk yang memengaruhi biaya impor bahan bakar Indonesia.
CBO Menolak Akuntansi Penuh
CBO sendiri menolak menyajikan akuntansi penuh biaya perang seperti yang diminta anggota parlemen. Lembaga itu beralasan keterbatasan data yang tersedia.
"Estimasi yang diminta untuk dibuat CBO untuk setiap kategori biaya adalah hasil analisis terpisah yang mencerminkan data, metode, periode waktu, dan besaran ketidakpastian yang berbeda. Karena itu, estimasi tiap kategori tidak dapat dibandingkan atau dijumlahkan secara langsung," tulis CBO dalam surat kepada Kongres.
Kritik dari Demokrat
CBO merilis estimasi tersebut atas permintaan Demokrat di Komite Anggaran DPR AS. Anggota teratas Demokrat di komite itu, Brendan Boyle, menyoroti korban jiwa dalam perang tersebut.
"Di luar korban manusia itu, laporan CBO yang nonpartisan ini menegaskan bahwa perang tersebut juga telah menghabiskan uang pembayar pajak Amerika puluhan miliar dolar dan terus bertambah, sambil terus mendorong kenaikan biaya," kata Boyle dalam pernyataan kepada CNN.
Selisih antara angka Pentagon dan CBO menunjukkan belum ada akuntansi tunggal yang disepakati untuk menghitung total biaya konflik. Anggota parlemen dari Partai Demokrat diperkirakan akan terus menekan pemerintah untuk merinci pengeluaran perang, terutama saat pembahasan anggaran pertahanan berikutnya dimulai.