Bos Ultrajaya Beberkan Alasan di Balik Akuisisi Frisian Flag Rp14,6 Triliun

Bos Ultrajaya Beberkan Alasan di Balik Akuisisi Frisian Flag Rp14,6 Triliun

BISNISINSIGHT.COM — PT Ultra Jaya Milk Industry & Trading Company Tbk. (ULTJ) menargetkan pengambilalihan 100% saham PT Frisian Flag Indonesia (FFI) senilai sekitar Rp14,6 triliun. Presiden Direktur ULTJ Sabana Prawira Widjaja menyebut transaksi ini sebagai peluang memperkuat kapabilitas operasional dan keuangan perseroan sekaligus memperluas portofolio produk.

Rencana akuisisi itu disampaikan ULTJ melalui keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia. Sabana menegaskan langkah tersebut diharapkan mendukung pertumbuhan usaha jangka panjang serta menciptakan nilai tambah bagi pemegang saham.

"Perseroan meyakini bahwa pengambilalihan seluruh saham FFI merupakan suatu peluang yang diharapkan dapat mendukung kapabilitas operasional dan keuangan Perseroan, memperluas penawaran produk, mendukung pertumbuhan di masa depan, serta memberikan kontribusi terhadap penciptaan nilai jangka panjang bagi Perseroan maupun pemegang saham," ujar Sabana dalam keterbukaan informasi, Jumat (18/9/2026).

Sinergi Portofolio Produk Susu dan Minuman

Ultrajaya selama ini dikenal lewat produk susu cair UHT Ultra Milk dan minuman non-susu seperti Teh Kotak serta Sari Kacang Ijo. Sementara FFI memiliki lini produk yang lebih beragam, mencakup susu kental manis, susu bubuk, nutrisi anak merek Friso, hingga susu cair UHT.

Kombinasi keduanya dinilai bakal memperluas cakupan produk olahan susu dan minuman siap konsumsi milik ULTJ. Sabana menyebut kapabilitas ULTJ dan FFI saling melengkapi di industri susu dalam negeri.

Efisiensi Rantai Pasok hingga Distribusi

Dari sisi manufaktur, ULTJ mengoperasikan pabrik di Padalarang dan Cikarang, Jawa Barat. FFI memiliki fasilitas produksi di Pasar Rebo, Ciracas, dan Cikarang, Jakarta.

Sabana menyatakan tambahan fasilitas itu berpotensi memberi kapasitas produksi lebih besar dan fleksibilitas pengolahan produk susu. Masing-masing pabrik tetap berjalan mandiri, namun koordinasi operasional, alokasi produksi, hingga pemanfaatan sumber daya bersama dapat dilakukan bila diperlukan sesuai aturan berlaku.

Pada sisi pengadaan bahan baku, skala kebutuhan gabungan dinilai dapat memperbaiki perencanaan dan efisiensi. ULTJ menegaskan pengaturan pengadaan akan mengacu pada prinsip kewajaran atau arm's length basis.

ULTJ juga melihat peluang penguatan jaringan distribusi dan logistik. Perseroan saat ini menyalurkan produk lewat ritel modern dan tradisional dengan dukungan logistik sendiri. Setelah transaksi, ULTJ dapat mempertimbangkan penggunaan saluran distribusi yang saling melengkapi.

Peluang Cross-Selling dan Evaluasi Duplikasi Promosi

Sinergi juga menyentuh kegiatan penjualan dan pemasaran. ULTJ dan FFI akan mengevaluasi kemungkinan duplikasi pada aktivitas promosi, pemasaran, maupun administrasi umum, dengan tetap menjaga dukungan memadai bagi tiap merek.

Sabana melihat peluang promosi silang antara produk Ultra Milk dan Frisian Flag di saluran penjualan modern. Langkah itu diharapkan mendorong penjualan kedua merek.

Skema Inbreng dan Dampak Kepemilikan

Akuisisi ini bagian dari kerja sama strategis ULTJ dengan FrieslandCampina. ULTJ berencana menerbitkan hingga sekitar 7,87 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp2.150 per saham untuk mengambil alih 100% saham FFI melalui mekanisme inbreng.

Pemegang saham FFI, yakni FrieslandCampina International Holding B.V., Blue Waves Group Ventures Pte. Ltd., dan PT Bahtera Wiraniaga Internusa, akan ikut mengambil bagian dalam penerbitan saham baru tersebut.

Setelah transaksi, FrieslandCampina diproyeksikan menjadi pengendali baru ULTJ dengan kepemilikan sekitar 28,95%—30,81% dan wajib melaksanakan tender offer. Keluarga Prawirawidjaja tetap menjadi pemegang saham signifikan, sementara Sabana Prawira Widjaja masih menjabat sebagai Presiden Direktur ULTJ.

Rencana transaksi ini masih menunggu persetujuan pemegang saham lewat Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan pada 27 Oktober 2026.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index