RAND Soroti Risiko AI yang Mulai Dihindari Perusahaan Asuransi Global

RAND Soroti Risiko AI yang Mulai Dihindari Perusahaan Asuransi Global

BISNISINSIGHT.COM — Laporan terbaru RAND Corporation mengungkap 713 insiden kecerdasan buatan yang tercatat dalam Artificial Intelligence Incident Database, mulai dari deepfake hingga kebocoran data. Temuan ini memicu sejumlah perusahaan asuransi besar di Amerika Serikat mulai menolak menanggung risiko kerugian akibat AI. Jika tren ini berlanjut, pelaku industri AI dan klien korporatnya terpaksa menunda ekspansi proyek mereka.

RAND Corporation, lembaga riset nirlaba asal Amerika Serikat, baru saja menerbitkan laporan yang menyoroti ketidaksesuaian antara adopsi AI yang melesat di kalangan korporasi dengan kesiapan industri asuransi menanggung risikonya. Laporan itu menyebut kerugian terkait AI sudah mulai bermunculan, mulai dari keluaran yang salah atau menyesatkan, deepfake, pelanggaran privasi, sengketa kekayaan intelektual, penipuan, cacat produk, hingga keputusan yang diskriminatif.

Menurut RAND, berbagai kerugian tersebut memang menciptakan permintaan asuransi baru. Masalahnya, risiko itu tidak masuk dengan rapi ke dalam lini produk asuransi yang sudah ada. Ketidakcocokan inilah yang membuat sejumlah penanggung risiko memilih mundur.

Penanggung Risiko Mulai Pasang Klausul Pengecualian AI

Langkah paling tegas datang dari W. R. Berkley. Perusahaan asuransi itu telah memperkenalkan klausul pengecualian pada produk asuransi D&O (direktur dan pejabat), E&O (kesalahan dan kelalaian), serta Fiduciary Liability. Pengecualian itu berlaku untuk "setiap penggunaan, penerapan, atau pengembangan Kecerdasan Buatan yang aktual maupun diduga."

Dalam panggilan pendapatan kuartal IV 2025, CEO W. Robert Berkley menekankan pentingnya pemahaman penanggung risiko terhadap dampak teknologi baru. Ia menyebut underwriting harus bisa memahami risiko itu agar dapat dikendalikan, dipilih, dan diberi harga yang tepat.

RAND juga mencatat langkah serupa dari Verisk/ISO. Pada Januari 2026, lembaga yang formulir standarnya dipakai di lebih dari 80 persen polis properti dan kecelakaan di AS itu memperkenalkan bahasa opsional bagi perusahaan asuransi. Klausul itu memungkinkan mereka mengecualikan cedera badan, kerusakan properti, dan kerugian lain yang timbul dari AI generatif.

Peta Insiden: Deepfake hingga Kebocoran Data

Untuk menggambarkan skala risiko, laporan RAND merujuk pada Artificial Intelligence Incident Database (AIIDB). Basis data itu mencatat 713 insiden yang dihimpun dari lebih dari 6.000 laporan, mencakup penggunaan AI di luar chatbot.

Rincian kategorinya menunjukkan dominasi masalah informasi. Misinformasi dan manipulasi menempati posisi teratas dengan 586 insiden, disusul deepfake dan media sintetis (346), serta deepfake yang memicu misinformasi (333).

  • Halusinasi dan kesalahan faktual: 215 insiden
  • Konten berbahaya: 92 insiden
  • Kegagalan agen otonom: 84 insiden
  • Kebocoran privasi dan data: 58 insiden
  • Bias dan diskriminasi: 47 insiden
  • Hak cipta dan kekayaan intelektual: 20 insiden
  • Atribusi AI yang salah: 7 insiden

Total angka tersebut melebihi 713 karena sejumlah insiden masuk ke lebih dari satu kategori. Di luar itu, ada sekitar 250 gugatan hukum terkait AI di AS yang sebagian besar menyangkut hak cipta dan kekayaan intelektual, tetapi juga menyinggung privasi, pengawasan, penipuan, kelalaian, tanggung jawab produk, diskriminasi, hak sipil, hingga rahasia dagang.

Sejumlah negara bagian di AS juga telah menerbitkan puluhan aturan yang mengatur citra intim buatan AI, materi pelecehan seksual anak (CSAM) hasil AI, pengambilan keputusan otomatis, hingga penggunaan AI dalam iklan politik. Regulasi semacam ini berpotensi menjerat pelaku usaha yang menerapkan AI.

Asuransi AI Diprediksi Jadi Produk Arus Utama

Meski risiko tampak menggunung, adopsi AI di dunia usaha tidak melambat. RAND menilai celah pasar yang ada justru mulai diisi oleh perusahaan baru maupun lama yang yakin bisa menghitung risikonya.

Untuk merapikan pasar yang terfragmentasi, RAND mendorong peneliti kebijakan, broker, penanggung risiko, dan reasuransi menyusun taksonomi bersama guna melacak insiden dan klaim terkait AI. Lembaga itu juga meminta regulator negara bagian mendorong adanya AI Coverage Notice agar cakupan dan pengecualian polis jelas bagi semua pihak.

RAND memperkirakan asuransi AI akan bergerak melampaui statusnya sebagai produk khusus. Syaratnya, risiko tersebut harus dipahami lebih dulu lalu diberi harga yang sesuai. Proses itu butuh waktu, dan selama masa transisi, industri AI mungkin harus menahan ambisi ekspansinya sambil menunggu industri asuransi selesai menghitung harga dari ketidakpastian yang mereka bawa.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index