Pendapatan Alfamidi Tembus Rp11,24 Triliun, Laba Naik 24,4%

Pendapatan Alfamidi Tembus Rp11,24 Triliun, Laba Naik 24,4%
Perusahaan ritel pengelola jaringan Alfamidi, PT Midi Utama Indonesia Tbk. (MIDI) berhasil menorehkan pertumbuhan pendapatan tahunan sebesar 8,9% menjadi Rp11,24 triliun sepanjang semester I/2026. (Foto: NET)

JAKARTA — Perusahaan ritel pengelola jaringan Alfamidi, PT Midi Utama Indonesia Tbk. (MIDI) berhasil menorehkan pertumbuhan pendapatan tahunan sebesar 8,9% menjadi Rp11,24 triliun sepanjang semester I/2026. 

Tren positif pada angka penjualan ini secara langsung mendongkrak perolehan laba tahun berjalan perseroan.

Mengacu pada laporan keuangan interim per tanggal 30 Juni 2026, MIDI mengantongi pendapatan neto senilai Rp11,24 triliun. 

Jumlah tersebut mengalami kenaikan sebesar 8,39% secara tahunan (year-on-year/YoY) jika disandingkan dengan capaian periode yang sama pada tahun sebelumnya yang berada di angka Rp10,37 triliun.

Peningkatan omzet ini turut membawa laba periode berjalan MIDI merangkak naik ke posisi Rp485,97 miliar. Angka tersebut mencerminkan pertumbuhan sebesar 24,44% YoY ketimbang perolehan semester I/2025 yang tercatat sebesar Rp390,52 miliar. 

Laju pertumbuhan keuntungan yang melampaui kenaikan pendapatan ini mengindikasikan adanya efisiensi profitabilitas di tengah berlanjutnya ekspansi pasar ritel modern.

Apabila ditinjau lebih detail dari aspek operasional, laba bruto perseroan terkerek hingga mencapai Rp2,90 triliun, naik sekitar 10,10% YoY dari posisi Rp2,63 triliun pada semester I/2025. 

Walaupun beban pokok pendapatan membengkak menjadi Rp8,35 triliun dari semula Rp7,74 triliun, performa penjualan yang solid tetap mampu mengamankan margin keuntungan kotor.

Di samping itu, MIDI mengamankan laba usaha sebesar Rp623,36 miliar, menguat 22,42% YoY dari capaian Rp509,18 miar pada periode serupa di tahun lalu. 

Lonjakan ini berhasil ditopang oleh perluasan perolehan pendapatan, kendati beban penjualan dan distribusi beserta beban umum dan administrasi ikut merangkak naik akibat perluasan operasional perusahaan.

Pada pos sebelum pajak penghasilan, angka laba sebelum pajak bertengger di Rp606,33 miliar, atau menanjak hingga 36,94% YoY dari level Rp442,79 miliar pada semester pertama tahun 2025.

Melihat kondisi neraca keuangan sampai akhir Juni 2026, jumlah aset total yang dimiliki Perseroan menyentuh Rp9,27 triliun, atau terapresiasi sekitar 1,56% dibanding performa akhir tahun 2025 senilai Rp9,13 triliun. 

Pada saat yang sama, kewajiban atau total liabilitas bergerak naik menuju Rp4,64 triliun dari Rp4,59 triliun, dengan posisi persediaan tercatat di angka Rp2,76 triliun guna membuktikan kesiapan perusahaan menjaga stok barang demi mendukung akselerasi penjualan.

Sebelum ini, Direktur Finance MIDI Suantopo Po mematok target mematok penambahan kurang lebih 200 gerai baru di sepanjang tahun 2026 sebagai bagian dari perwujudan strategi ekspansi organik korporasi.

Agenda perluasan jaringan tersebut disokong oleh penyediaan dana belanja modal (capital expenditure/Capex) mendekati Rp1,5 triliun. Dana ini dialokasikan khusus untuk pendirian gerai baru, memperkuat infrastruktur operasional, serta mengakselerasi lini layanan digital.

Meskipun dihadapkan pada pergeseran regulasi serta dinamika situasi ekonomi, MIDI tetap menaruh optimisme tinggi bahwa prospek bisnis di sektor ritel modern masih sangat potensial hingga pengujung tahun. 

Perseroan memiliki keyakinan penuh bahwa fundamental bisnis mereka tetap kokoh serta sanggup menghasilkan pertumbuhan yang positif.

"Kami berupaya agar kinerja tahun 2026 dapat tumbuh secara moderat dibandingkan tahun 2025. Fundamental perseroan masih cukup kuat untuk mendukung pertumbuhan tersebut," katanya dalam public expose Kamis (4/6/2026).

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index