JAKARTA — Gas bumi memegang peran strategis dalam menopang kebutuhan energi masyarakat. Penyaluran gas bumi fleksibel, dapat disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan dan ketersediaan infrastruktur, baik melalui jaringan pipa maupun dalam bentuk Liquefied Natural Gas (LNG) dan Compressed Natural Gas (CNG).
Compressed Natural Gas (CNG) pun kini makin menjadi pilihan masyarakat karena memiliki berbagai keunggulan dari berbagai aspek, seperti nilai keekonomian dan ramah lingkungan.
Karena itu, keberadaan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) memegang peranan penting dalam rantai distribusi gas CNG yang disiapkan oleh PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGN).
Pada Selasa (21/7/2026), Tim Jelajah Energi Bisnis Indonesia 2026 menyambangi SPBG Pondok Ungu di Kota Bekasi, Jawa Barat. SPBG ini merupakan tempat bersejarah karena paling awal beroperasi.
Stasiun pengisian dengan volume 1 BBTUD (Billion British Thermal Units per Day) ini diresmikan pada 2013 oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) saat itu, Jero Wacik, dan saat ini dioperasikan oleh anak usaha PGN PT Gagas Energi Indonesia atau PGN Gagas.
Di SPBG ini, masyarakat dapat mengakses tiga layanan, yakni Gasku, penjualan bahan bakar gas (BBG) berbasis CNG yang khusus diperuntukkan bagi sektor transportasi.
Layanan ini merupakan alternatif energi yang lebih bersih, ramah lingkungan, dan ekonomis dibandingkan dengan bahan bakar minyak (BBM) konvensional.
Selain itu, tersedia Gaslink, layanan penyaluran CNG sekaligus solusi inovatif untuk menjangkau lokasi pelanggan yang belum memiliki akses jaringan pipa gas bawah tanah (beyond pipeline).
Adapun layanan ketiga adalah Gaslink Cylinder (Ccyl) yang menggunakan tabung silinder portabel dan ditujukan bagi pelanggan industri, komersial, serta UMKM.
Di SPBG Pondok Ungu, gas disalurkan oleh PGN melalui pipa-pipa bawah tanah ke MRS (Metering Regulating System), kemudian menjalani beberapa tahapan proses, yakni disalurkan ke scrubber filter atau penyaring gas dan kondensat.
Dari situ, gas akan disalurkan ke dryer untuk menjalani proses pengeringan atau pengurangan kadar air. Sesudah itu, gas CNG akan diproses di kompresor untuk menekan gas ke tekanan 8 bar sampai maksimal 250 bar.
Setelah menjalani proses kompresi, gas kemudian ditampung di ground storage yang berfungsi sebagai penyimpanan sementara.
Dari sini, gas yang sudah terkompresi akan dialirkan ke dispenser untuk memenuhi tiga layanan, yakni pengisian BBG untuk kendaraan melalui layanan Gasku, penyaluran CNG melalui layanan Gaslink, serta pengisian gas pada tabung-tabung silinder melalui layanan Ccyl.
Pantauan Tim Jelajah Energi Bisnis Indonesia 2026, para petugas sigap melayani pembeli, lengkap dengan atribut alat pelindung diri (APD), mulai dari helm pelindung kepala, baju safety atau wearpack, sarung tangan, hingga sepatu safety.
SPBG ini juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang keamanan dan kedaruratan, mulai dari hidran yang tersebar di tiga titik, 16 unit alat pemadam kebakaran, gas detector untuk mendeteksi kebocoran gas, alat pendeteksi asap, lampu antiledakan, alarm, CCTV, serta titik kumpul kedaruratan.
Selain itu, stasiun ini juga menyiapkan enam petugas untuk memantau keamanan SPBG yang beroperasi 24 jam ini.
Tim Jelajah Energi juga mendapati banyak pengguna kendaraan seperti taksi dan bajaj melakukan pengisian di SPBG ini. Sulaiman, pengemudi bajaj, menceritakan bahwa pada awalnya dia merupakan pengemudi angkutan umum jenis mikrolet.
“Tapi saya tidak nyaman karena mikrolet kan menggunakan bensin dan lebih boros. Begitu tahu gas lebih irit, saya beralih dari angkot ke bajaj,” ujar warga Bekasi ini.
Dia mengaku untuk mengisi CNG sampai penuh di SPBG Pondok Ungu, dia hanya merogoh kocek sebesar Rp25.000. Dengan kapasitas itu, bajaj miliknya bisa beroperasi hingga dua hari kalau penumpang sedang sepi dan seharian jika banyak penumpang yang menggunakan jasanya.
Tidak hanya bagi pengguna gas, sektor usaha seperti restoran pun menjadi salah satu pelanggan SPBG Pondok Ungu. Salah satunya adalah restoran Imperial Kitchen di Kawasan Harapan Indah, Kota Bekasi.
Rudi Agung Wijaksono, Chef Leader di restoran tersebut, mengatakan bahwa ada banyak keunggulan CNG, yakni panas yang dihasilkan lebih tinggi sehingga bahan makanan bisa lebih cepat matang.
“Bahan makanan bisa lebih cepat matang sekitar lima menit. Untuk restoran, efisiensi waktu seperti ini sangat baik karena kami bisa lebih cepat menghidangkan makanan kepada customer. Selain itu, CNG juga lebih aman karena sifatnya lebih ringan dari udara, sehingga jika terjadi kebocoran, gas akan langsung naik dan terurai di udara terbuka, tidak menumpuk di permukaan seperti jenis gas lain” ujarnya.
Abimanyu, Service Leader pada restoran yang sama, menambahkan bahwa pihaknya merasa nyaman menggunakan CNG karena layanan delivery yang disiapkan oleh PGN Gagas selaku pengelola SPBG Pondok Ungu terbilang cepat.
“Kalau kebutuhan mendesak, gas sudah menipis, kami langsung order dan segera diantarkan. Jadi fast response. Dari sisi harga juga tentu lebih hemat menggunakan CNG,” katanya.