Jangan Keliru, Ini Beda Intoleransi Laktosa dan Alergi Susu

Jangan Keliru, Ini Beda Intoleransi Laktosa dan Alergi Susu
Ilustrasi - Susu. (Foto: NET)

JAKARTA – Masalah pada sistem pencernaan anak sehabis meminum susu sering kali membuat orangtua merasa bingung. Cukup banyak orangtua yang langsung menyimpulkan kondisi tersebut sebagai bentuk alergi susu sapi, padahal reaksi tersebut belum tentu dipicu oleh alergi. 

Di dalam ranah medis sendiri, ada dua gangguan yang berbeda, yakni intoleransi laktosa serta alergi terhadap protein susu sapi. 

Walaupun kedua masalah ini sama-sama dapat timbul sehabis mengonsumsi susu, faktor pemicu, proses terjadinya, hingga gejala yang diperlihatkan sangatlah berlainan. 

Oleh karena itu, para orangtua harus mengerti perbedaan dari kedua gangguan tersebut supaya buah hati mereka bisa memperoleh tindakan medis yang sesuai.

Mengenai perbedaan pemicu dari intoleransi laktosa dan alergi susu sapi, Dokter Konsultan Gastroentero Hepatologi Anak dari Eka Hospital MT Haryono, Dr. dr. Eva Jeumpa Soelaeman, Sp.A. (K) memberikan penjelasan bahwa keduanya adalah dua masalah yang tidak sama, baik dilihat dari pemicunya maupun dari tanda-tanda yang diperlihatkan. 

Dokter Eva menerangkan bahwa intoleransi laktosa terjadi lantaran tubuh anak kesulitan untuk mencerna laktosa, yang merupakan zat gula alami di dalam susu. Masalah ini berkaitan erat dengan minimnya produksi enzim laktase yang memegang peran untuk mengurai laktosa di dalam organ pencernaan.

"Intoleransi laktosa itu beda dengan alergi susu sapi. Kalau intoleransi laktosa itu artinya tubuh tidak tahan terhadap kandungan laktosa dalam susu, yang umumnya 7 persen," kata dr. Eva dalam Media Meet Up Eka Hospital MT. Haryono, di Jakarta Selatan, Selasa (21/7/2026).

Di sisi lain, reaksi alergi terhadap susu sapi muncul lewat proses yang tidak sama. Gangguan ini tidak dipicu oleh kadar laktosa, melainkan akibat kandungan protein yang ada di dalam susu sapi tersebut.

"Sementara itu, di dalam susu sapi ada kandungan protein juga. Alergi ini muncul karena reaksi dari protein susu sapi yang tidak cocok di tubuh," ujarnya.

Lantaran faktor penyebabnya berlainan, metode penanganan yang diberikan untuk kedua gangguan ini pun tidak bisa disamakan. Oleh sebab itu, pemeriksaan dan diagnosis dari pihak medis sangat diperlukan jika anak memperlihatkan gejala tertentu sehabis meminum susu.

Tanda-tanda yang diperlihatkan oleh kedua kondisi ini juga berlainan. Dokter Eva memaparkan bahwa gejala dari intoleransi laktosa serta alergi protein susu sapi mempunyai ciri khas yang tidak sama. 

Pada kasus intoleransi laktosa, gangguan yang timbul umumnya hanya berfokus pada organ pencernaan saja lantaran tubuh tidak sanggup mengurai kadar laktosa dengan baik.

"Gejala keduanya pun berbeda. Intoleransi laktosa biasanya perutnya kembung, keluar gas lebih banyak dari biasanya, dan terkadang saat buang air muncul bau asam," ungkap dr. Eva.

Dampak buruk tersebut bisa timbul sehabis buah hati mengonsumsi susu ataupun produk-produk turunannya. Jika masalah ini terus terjadi secara berulang, orangtua sangat dianjurkan untuk segera memeriksakan anak ke dokter demi memastikan faktor pemicunya. 

Sementara itu, buah hati yang mengidap alergi terhadap protein sapi umumnya memperlihatkan gejala berupa bercak atau ruam kemerahan pada area kulit, masalah pada saluran pernapasan, hingga gangguan pada organ pencernaan.

Kasus alergi terhadap protein susu sapi ini sendiri dinilai lebih sering menyerang bayi, khususnya yang masih berada di bawah umur satu tahun. Menurut dokter Eva, hal tersebut berkaitan dengan kondisi organ pencernaan bayi yang belum tumbuh secara matang.

"Kalau alergi protein susu sapi pada anak biasanya muncul di bayi di bawah usia 1 tahun, karena ibu-ibu itu enggak percaya diri saat menyusui anaknya," tutur dia.

Ada sebagian bayi yang sudah diberikan susu formula semenjak usianya masih tergolong sangat dini. Padahal, pada masa-masa tersebut, organ pencernaan sang bayi sebetulnya belum tumbuh secara sempurna untuk bisa menerima kandungan protein dari susu sapi.

"Alhasil sang anak diberi ASI dengan susu formula. Anak di bawah 6 bulan yang diberi susu formula dapat merangsang alergi susu sapi, karena usus bayi belum matang untuk mencerna susu sapi," kata dr. Eva.

Oleh karena itu, dokter Eva memberikan peringatan kepada para orangtua agar tidak langsung mengira semua keluhan sehabis minum susu sebagai bentuk alergi. 

Memahami perbedaan antara gangguan intoleransi laktosa dan alergi protein susu sapi sangatlah krusial demi membantu pihak dokter dalam mendeteksi pemicu masalah sekaligus menentukan langkah penanganan yang paling pas. 

Melalui diagnosis yang tepat dan akurat, proses tumbuh kembang buah hati bisa tetap berjalan optimal tanpa harus mengorbankan pemenuhan nutrisi penting mereka sehari-hari.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index