Ribuan Permainan Tradisional Indonesia Terancam Punah

Ribuan Permainan Tradisional Indonesia Terancam Punah
Hari Anak 2026: Tantangan Lestarikan Permainan Tradisional. (Foto: NET)

JAKARTA - Eksistensi permainan tradisional yang dahulu melekat pada masa kecil anak-anak Indonesia saat ini tengah berada dalam tekanan besar. Gempuran era digitalisasi beserta pergeseran kebiasaan bermain mengakibatkan banyak permainan rakyat lambat laun tersisih dari aktivitas keseharian anak-anak.

Mohamad Zaini Alif, selaku Wakil Ketua Umum Komite Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional (KPOTI), berpandangan bahwa Hari Anak Nasional 2026 mesti dijadikan momentum demi menengok kembali kondisi permainan tradisional yang kian terpinggirkan. 

Hal ini dikarenakan aktivitas bermain yang dulunya rutin dilakukan anak-anak, kini posisinya makin tersudutkan.

Zaini memaparkan bahwa Indonesia sesungguhnya menyimpan kekayaan yang luar biasa dalam hal variasi permainan tradisional. 

Lewat studi dan riset yang dijalankannya selama hampir dua dekade, ia mencatat terdapat kurang lebih 2.500 sampai 2.600 macam permainan rakyat tradisional yang tersebar luas di penjuru daerah tanah air.

Kendati memiliki jumlah yang sangat melimpah, keberlanjutan permainan tradisional saat ini dibayangi oleh risiko kepunahan. Ia memperkirakan bahwa berkisar antara 30% hingga 40% dari total permainan tersebut dalam status terancam lenyap.

"Sejumlah permainan bahkan sudah tidak lagi dimainkan oleh masyarakat dan hanya dapat ditemukan melalui catatan dalam naskah kuno, arsip kolonial Belanda, maupun dokumen sejarah yang saya telusuri hingga ke Belanda dan Inggris," kata Zaini.

Bila dikomparasikan dengan kondisi satu atau dua dasawarsa lalu, eksistensi permainan tradisional kian terdesak, khususnya pada area perkotaan. 

Hambatan yang dihadapi salah satunya yaitu kian sulitnya menghimpun data serta informasi akurat terkait ragam permainan rakyat yang dahulu pernah eksis di tengah publik.

Menurut Zaini, situasi semacam itu dipicu oleh minimnya saluran media ataupun literatur referensi yang mengarsipkan permainan tradisional. 

Pada masa lampau, aktivitas bermain anak tidak dipandang sebagai subjek yang bernilai untuk diriset atau didokumentasikan, akibatnya tatkala generasi pemainnya telah tiada, permainan itu pun ikut lenyap tanpa bekas.

Di samping itu, lompatan teknologi seperti kehadiran telepon pintar dan gim video juga andil menjadi faktor utama yang mendepak posisi permainan tradisional. 

Generasi muda masa kini disuguhi pilihan sarana hiburan yang lebih instan dan mudah dijangkau, tanpa perlu menghabiskan area bermain yang luas, mengumpulkan banyak teman, ataupun merakit sendiri alat permainannya.

Bukan cuma dipicu oleh disrupsi teknologi, permainan tradisional pun berhadapan dengan problem alih fungsi ruang serta perubahan pola sosial masyarakat. 

Keterbatasan lahan bermain di perkotaan, kelangkaan bahan baku untuk alat permainan, serta menyusutnya tradisi bermain bersama kelompok membuat permainan rakyat makin jarang dipraktikkan.

Padahal, beberapa wilayah terpantau masih menyimpan kekayaan permainan tradisional yang tergolong masif, contohnya Jawa Barat dengan koleksi 250–360 jenis permainan, serta Jawa Tengah dan Jawa Timur yang mengantongi sekitar 213–214 ragam permainan.

"Setidaknya, masih ada sekitar 60% masih bertahan, meski tidak semuanya dimainkan aktif oleh anak-anak sekarang," kata Zaini.

Walaupun posisinya kritis, Zaini berujar bahwa sejumlah wilayah saat ini sudah mulai bergerak untuk memopulerkan kembali permainan tradisional khas mereka masing-masing. 

Berdasarkan penilaiannya, masa depan permainan tradisional sangat bertumpu pada langkah konkret yang aktif dalam memperkenalkan, memainkan, serta mewariskannya secara kontinu kepada generasi penerus.

Faktor krusial yang paling menentukan ialah eksistensi komunitas lokal yang konsisten menggerakkan permainan tradisional, baik di lingkungan masyarakat umum maupun di area institusi sekolah.

Ia menegaskan, gerakan pelestarian tidak akan efektif apabila hanya mandek pada dokumen tertulis, melainkan wajib direalisasikan lewat tindakan nyata agar anak-anak berkesempatan mengenal serta memainkannya kembali.

Pola berbasis komunitas ini dinilai sudah mulai diimplementasikan di sejumlah provinsi, di antaranya Nusa Tenggara Barat (NTB), Maluku, hingga Sumatera Utara, lewat motor penggerak lokal yang menghidupkan kembali permainan khas daerah.

Sebagai contoh di Jawa Timur, muncul inisiatif kolektif seperti Kampung Lali Gadget dan Kampung Dolanan yang berupaya menyediakan kembali ruang bermain ramah tradisional untuk anak-anak. 

Sementara di Jawa Barat, ada Komunitas Hong yang sejak kisaran tahun 2003 secara berkesinambungan mendata, mengedukasi, sekaligus mengadakan festival berkala.

Zaini menambahkan, wilayah yang ditopang oleh komunitas penggerak konservasi permainan rakyat umumnya mempunyai tingkat keberhasilan yang lebih tinggi dalam memelihara eksistensi permainan tradisional. 

Keberadaan para penggerak lokal tersebut sangat penting demi menjamin permainan tidak sekadar berakhir menjadi arsip mati, melainkan tetap lestari dalam kehidupan publik.

"Sebab, jika permainan ini punah, yang hilang bukan cuma hiburan, tapi satu jalur pewarisan nilai kejujuran, kerja sama, dan kearifan terhadap alam yang sudah diwariskan turun-temurun. sekarang di upayakan lewat WBTBTapi tetap sumber info yang kami kekurangan," imbuh Zaini.

Ke depannya, Zaini menaruh harapan agar permainan rakyat mampu memperoleh atensi dan kepedulian yang jauh lebih masif dari seluruh lapisan masyarakat. 

Lewat langkah pelestarian yang berkesinambungan, generasi muda diharapkan tetap memperoleh peluang emas untuk mengetahui, mendalami, dan mempraktikkan aneka ragam permainan tradisional yang berakar dari daerah asal mereka masing-masing.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index