JAKARTA — Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini, Selasa (21/7/2026), diproyeksikan bakal berfluktuasi namun berpotensi berakhir melemah pada kisaran Rp17.940 sampai Rp18.000 per dolar AS.
Pada penutupan perdagangan sebelumnya, Senin (20/7/2026), mata uang garuda terkoreksi sebesar 27 poin atau 0,15 persen ke posisi Rp17.948 per dolar AS.
Menurut penjelasan Ibrahim Assuaibi selaku Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, penyusutan nilai rupiah tersebut dipicu oleh penguatan mata uang dolar AS seiring konflik bersenjata antara AS dan Iran yang kembali memanas sepanjang akhir pekan lalu.
"Serangan baru ini terjadi setelah serangan Iran terhadap pangkalan AS di Yordania menewaskan sedikitnya dua tentara AS dan melukai banyak lainnya. Militer Amerika terlihat menyerang berbagai target yang lebih luas di Iran, sementara Iran juga meningkatkan serangannya terhadap negara-negara Teluk di sekitarnya," jelas Ibrahim, Senin (20/7/2026).
Ketegangan di kawasan Timur Tengah tersebut masih berpusat pada kendali di Jalur Selat Hormuz. Konflik yang kembali eskalatif ini menjadi bentrokan terparah antara pihak AS dan Iran semenjak periode gencatan senjata pada April lalu, sehingga memicu lonjakan harga minyak dunia.
Ibrahim juga memaparkan bahwa indikator inflasi serta kondisi bursa tenaga kerja di AS belakangan ini mengindikasikan perlambatan ekonomi.
Kendati demikian, perhatian para investor saat ini tetap tertuju pada dampak kenaikan harga energi yang berisiko mempersulit langkah The Federal Reserve dalam meredam laju inflasi.
"Harga minyak yang lebih tinggi telah memperbarui kekhawatiran bahwa inflasi dapat tetap di atas target Federal Reserve, yang berpotensi memaksa para pembuat kebijakan untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ketat lebih lama," kata Ibrahim.
Sementara dari faktor domestik, laju pertumbuhan ekonomi nasional diproyeksikan tertahan di bawah angka 5 persen akibat lesunya tingkat konsumsi rumah tangga serta melambatnya investasi domestik.
"PDB Indonesia pada kuartal II/2026 diperkirakan hanya mencapai sekitar 4,9% secara tahunan (yoy). Meski realisasi investasi mencapai Rp511,8 triliun atau tumbuh 7,1% yoy, kontribusinya dinilai belum mampu mengompensasi perlambatan di sisi permintaan domestik," ujar Ibrahim.
Adapun pada sesi pembukaan perdagangan Selasa (21/7/2026) pagi pukul 09.05 WIB, nilai tukar rupiah sempat menguat tipis sebesar 0,05 persen atau naik 9 poin menuju level Rp17.939 per dolar AS.
Pada waktu yang bersamaan, indeks dolar AS (DXY) terpantau merangkak naik sebesar 0,01 persen ke posisi 100,96.