Penjualan PT Timah (TINS) Melonjak 85%, China Jadi Pasar Utama

Penjualan PT Timah (TINS) Melonjak 85%, China Jadi Pasar Utama
PT Timah (Persero) Tbk. (TINS). (Foto: NET)

JAKARTA — Negeri Tirai Bambu tetap menjadi destinasi ekspor paling utama bagi PT Timah (Persero) Tbk. (TINS) selama paruh pertama tahun 2026, di tengah pesatnya pertumbuhan produksi serta penjualan logam timah milik perusahaan.

Direktur Utama PT Timah (Persero) Tbk, Restu Widiyantoro menjelaskan bahwa sepanjang semester I/2026, jumlah penjualan logam timah TINS menyentuh angka 10.984 metrik ton. 

Angka ini melesat sebesar 85% jika disandingkan dengan semester I/2025 yang hanya berada di angka 5.933 metrik ton. 

Melalui total tersebut, pasar luar negeri atau ekspor memberikan sumbangsih sebesar 97% bagi keseluruhan penjualan logam timah korporasi, sementara pasar domestik menyumbang porsi sebesar 3%.

Jika dirinci, China menduduki posisi sebagai negara tujuan ekspor paling besar dengan porsi 36% dari total ekspor global. Posisi berikutnya diikuti oleh India yang menyumbang 12%, Korea Selatan sebesar 11%, Singapura 6%, serta Belanda dan Italia masing-masing sebesar 5%.

"Komposisi penjualan tersebut mencerminkan tetap kuatnya daya saing produk timah di pasar internasional serta kepercayaan pelanggan global terhadap kualitas produk dan keandalan pasokan perseroan," jelas Restu dikutip dari keterangan resminya, Rabu (29/7/2026).

Restu menerangkan bahwa peningkatan pada volume penjualan ini juga disokong oleh langkah optimalisasi dalam pengelolaan stok logistik logam timah demi memenuhi kebutuhan pasar global. 

Di sisi yang berbeda, harga jual rata-rata komoditas logam timah sepanjang Semester I/2026 menyentuh level US$49.794 per metrik ton. 

Nilai ini terkerek naik 52% dari Semester I/2025 yang berada di level US$32.816 per metrik ton, beriringan dengan masih kokohnya harga timah di pasar internasional.

Melesatnya angka penjualan ini ditopang oleh semakin kuatnya performa operasional internal perusahaan. 

Tingkat produksi bijih timah menyentuh angka 12.232 ton Sn sepanjang Semester I/2026, atau meroket 75% dibandingkan dengan pencapaian di periode yang sama pada tahun sebelumnya yang sebesar 6.997 ton Sn. 

Lonjakan output penambangan ini dipicu oleh optimalisasi aspek produktivitas serta penambahan unit-unit kerja pada beberapa titik objek produksi, yang mencakup Kapal Isap Produksi (KIP), Ponton Isap Produksi (PIP), hingga tambang darat kemitraan yang meliputi Tambang Kecil dan Tambang Ponton Isap Darat.

Selaras dengan tren positif tersebut, volume produksi logam timah berhasil menyentuh 10.865 metrik ton Sn, atau bertumbuh sebesar 58% jika dibandingkan dengan capaian semester I/2025 yang berada di angka 6.870 metrik ton Sn.

Perusahaan juga menerapkan bermacam-macam strategi guna mengoptimalkan jalannya operasi. 

Strategi tersebut antara lain menambah kuantitas unit penambangan di wilayah darat, memperkokoh agenda eksplorasi lewat pemboran pandu, memaksimalkan operasional unit KIP, menjalankan satu armada Kapal Keruk Singkep 1, mendongkrak tingkat produktivitas PIP, serta memanfaatkan fasilitas Sisa Hasil Pengolahan demi meningkatkan efisiensi alur proses pengolahan. 

Di samping itu, performa produksi ini ikut disokong oleh penguatan aspek pengawasan serta proteksi keamanan pada area Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP) maupun kawasan produksi, termasuk adanya andil dari Satuan Tugas Pemerintah Pusat untuk memelihara kondusivitas jalannya aktivitas operasional lapangan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index