Rupiah Melemah ke Rp17.936 Per Dolar AS, Ini Faktor Penyebabnya

Rupiah Melemah ke Rp17.936 Per Dolar AS, Ini Faktor Penyebabnya
Pergerakan mata uang garuda. (Foto: NET)

JAKARTA - Pergerakan mata uang garuda kembali berakhir di zona merah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada sesi perdagangan Kamis (23/7/2026). Tekanan dari faktor luar negeri tetap menjadi pemicu dominan yang menekan posisi nilai tukar rupiah.

Berdasarkan data dari Bloomberg, Kamis (23/7/2026), mata uang rupiah di pasar spot berakhir pada angka Rp 17.936 per dolar AS. Catatan ini menunjukkan penurunan sebesar 0,11% bila disandingkan dengan hasil penutupan di hari lalu yang berada pada posisi Rp 17.917 per dolar AS.

Selaras dengan kondisi tersebut, nilai rupiah mengacu pada kurs Jisdor Bank Indonesia (BI) juga berakhir jatuh ke angka Rp 17.915 per dolar AS pada sesi transaksi hari ini, merosot dari posisi penutupan di hari sebelumnya yang berada di level Rp 17.909 per dolar AS.

Budi Frensidy selaku Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia (UI) menjelaskan bahwa kemerosotan nilai rupiah ini dipicu oleh proyeksi para pelaku pasar yang memperkirakan bahwa tingkat suku bunga acuan The Federal Reserve (The Fed) bakal tetap berada di level tinggi dalam durasi yang lebih lama.

Pada momen yang bersamaan, eskalasi konflik geopolitik yang terjadi di kawasan Timur Tengah ikut memicu kenaikan harga minyak global, sehingga mendongkrak minat terhadap dolar AS yang berfungsi sebagai aset penyelamat nilai (safe haven).

"Pelaku pasar masih mengantisipasi suku bunga The Fed yang berpotensi bertahan tinggi lebih lama, sementara ketegangan geopolitik di Timur Tengah mendorong kenaikan harga minyak sehingga meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman," ujar Budi, Kamis (23/7/2026).

Menatap sesi perdagangan di hari Jumat (24/7), Budi berpandangan bahwa para pelaku pasar bakal senantiasa mengamati dinamika perselisihan geopolitik di Timur Tengah, fluktuasi indeks dolar AS, proyeksi pasar menjelang pertemuan The Fed, serta perputaran modal asing di sektor saham dan surat utang dalam negeri.

Budi mengestimasi bahwa jika situasi global belum menunjukkan sinyal perbaikan, mata uang rupiah masih berpeluang meneruskan tren pelemahannya, walaupun tingkat tekanannya diprediksi akan berjalan secara terbatas.

"Selama belum ada katalis positif baru, pergerakan rupiah cenderung masih berada dalam tekanan moderat," katanya.

Budi memprediksi pergerakan mata uang rupiah untuk sesi transaksi pada hari Jumat (24/7) akan bergulir pada rentang Rp 17.900 sampai Rp 17.980 per dolar AS.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index