JAKARTA - Upaya memikat investasi di sektor energi baru terbarukan (EBT) terus diperkuat oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat.
Langkah ini diwujudkan dengan membuka kesempatan pengembangan infrastruktur pembangkit listrik yang memiliki kapasitas kisaran 1.700 megawatt (MW), demi menyokong transisi energi sekaligus menghadirkan motor penggerak ekonomi baru di wilayah Indonesia bagian timur.
Junda Maulana selaku Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Barat di Mamuju pada Rabu (22/7/2026) mengungkapkan, keseriusan tersebut diwujudkan lewat agenda pertemuan bersama jajaran manajemen Limes Renewable Energy.
Pertemuan itu secara khusus mendiskusikan peluang investasi pembangunan pembangkit listrik berbasis energi bersih di wilayah tersebut.
"Pertemuan ini sejalan dengan komitmen Pemerintah Provinsi Sulbar untuk membuka diri terhadap investasi yang masuk guna mengelola potensi energi daerah, khususnya pembangunan pembangkit listrik," kata Junda.
Junda mengutarakan bahwa pihak pemerintah daerah siap memaksimalkan otoritas yang dimiliki demi menyederhanakan proses masuknya investasi strategis. Hal ini didasari atas kepemilikan sumber daya energi terbarukan di Sulbar yang melimpah namun belum dieksplorasi secara maksimal.
Dipaparkannya, Sulbar setidaknya mempunyai 11 jalur aliran sungai besar yang berdaya guna untuk dialihkan menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM), ataupun Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH).
Di samping itu, letak astronomis yang berdekatan dengan garis ekuator menyajikan potensi masif bagi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), sementara area Kabupaten Majene diproyeksikan menyimpan potensi energi angin untuk Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB).
Kembali dipaparkan oleh Junda, ketertarikan para investor pada sektor EBT di daerah Sulbar menunjukkan tren pertumbuhan.
Kandungan potensi pembangkit mendekati 1.700 MW yang tersebar pada berbagai titik dinilai menjadi daya pikat utama bagi ekspansi investasi, yang diharapkan mampu mendongkrak suplai listrik sekaligus memacu roda perekonomian daerah.
"Minat investasi yang besar ini menunjukkan bahwa Sulbar memiliki daya tarik yang kuat bagi investor di sektor energi terbarukan," ujarnya.
Ia menaruh harapan agar proyek investasi EBT tidak sekadar menciptakan tambahan pasokan listrik saja, melainkan sanggup menghadirkan dampak domino seperti penyerapan pasar tenaga kerja, menghidupkan iklim usaha lokal, serta memperkokoh infrastruktur penunjang kemajuan daerah.
Di sisi lain, William Runturambi yang menjabat sebagai Business Development Director Limes Renewable Energy menguraikan bahwa korporasi asal Italia tempatnya bekerja mempunyai rekam jejak dalam mengelola proyek energi terbarukan di berbagai negara, dengan spesialisasi pada sektor PLTS dan PLTB.
Di kawasan Asia, perusahaan ini telah menanamkan modal di Indonesia dan Vietnam, yang mana pengerjaan proyek PLTS di tanah air sudah dimulai sejak 2023 di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Menurut penilaian William, potret pembangunan PLTS di NTT memperlihatkan bahwa sinergi antara pihak pemda dan penanam modal sanggup membuahkan kemanfaatan ekonomi, sekaligus menyuplai pasokan energi bersih di daerah.
Berdasarkan portofolio internal perusahaan, ia mengestimasikan pendirian PLTS memerlukan area lahan berkisar 1,2 hektare demi menghasilkan kapasitas tiap satu MW.
William menuturkan lebih lanjut jika Limes telah mengantongi kesepakatan tertulis berupa nota kesepahaman dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terkait pengerjaan pembangkit listrik di zona Indonesia Timur.
"Dalam skema tersebut pemerintah daerah menyiapkan lahan, sedangkan perusahaan membangun infrastruktur pembangkit listriknya," katanya.
Pada kesempatan terpisah, Kepala Dinas ESDM Provinsi Sulawesi Barat Bujaeramy Hassan mengonfirmasi bahwa ada beberapa kawasan yang sudah terdaftar dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL), sehingga berpeluang besar dijadikan prioritas proyek investasi PLTS, seperti di Kabupaten Mamuju Tengah dan Kabupaten Polewali Mandar.
Satu di antara lokasi yang dinilai menjanjikan ialah Bendungan Budong-Budong yang terletak di Kabupaten Mamuju Tengah. Mempunyai area genangan air seluas 369 hektare, bendungan ini menyimpan potensi pengerjaan PLTS terapung dengan proyeksi kapasitas mencapai 73,83 MW dan telah masuk daftar RUPTL.
Bukan hanya itu, infrastruktur bendungan ini juga menyimpan daya pengembangan pembangkit listrik tenaga minihidro sebesar 1,63 MW yang memerlukan analisis teknis lebih mendalam.
Bagi Bujaeramy, mendayagunakan bendungan sebagai area PLTS terapung bisa menjadi opsi strategis dalam mengoptimalkan aset infrastruktur fiskal sekalian mempercepat adopsi energi bersih di kawasan Sulbar.
"Pengembangan PLTS terapung di Bendungan Budong-Budong dapat diusulkan kepada Kementerian Pekerjaan Umum sebagai pengelola bendungan untuk mendukung pemanfaatan potensi energi terbarukan di daerah," katanya.