JAKARTA - Prospek saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) dinilai tetap memikat seiring langkah perseroan memperlebar sayap bisnis lewat pengembangan industri gas serta proyek hidrogen berbasis gas alam.
Sejumlah analis berpendapat bahwa walaupun kontribusi finansialnya belum akan berdampak besar dalam jangka pendek, aksi korporasi ini bakal menjadi fondasi pertumbuhan baru bagi PGAS di masa depan.
Sebagaimana diketahui, PGAS berniat menambah kegiatan usaha pada anak perusahaannya, PT Pertamina Gas (Pertagas), ke sektor industri gas industri (KBLI 20112) dengan nilai investasi mencapai US$ 16,31 juta.
Langkah strategis ini meliputi pembangunan fasilitas hydrogen plant yang diproyeksikan menghasilkan nilai Net Present Value (NPV) positif sebesar US$ 1,68 juta.
Fasilitas hydrogen plant tersebut bakal memanfaatkan bahan baku gas alam dengan teknologi Steam Methane Reforming (SMR), di mana sektor industri oleokimia menjadi target konsumen utamanya.
Langkah ini merupakan bagian dari strategi perseroan dalam mendiversifikasi pendapatan sekaligus mendukung implementasi green energy demi mencapai target Net Zero Emission pada 2060.
Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ester Mulyani, menilai bahwa kebijakan tersebut akan memperluas model bisnis PGAS yang selama ini bertumpu pada transmisi dan niaga gas, hingga kini bertransformasi menjadi penyedia solusi energi bagi sektor industri.
Menurut Ester, proyek hidrogen ini juga berpeluang menciptakan permintaan gas baru secara berkelanjutan lantaran gas alam memegang peran sebagai bahan baku utama dalam proses produksinya.
“Target awalnya adalah industri oleokimia melalui skema anchor customer, sehingga risiko tidak terserapnya produksi dapat lebih terjaga. Proyek juga akan didanai dari kas internal Pertagas, sehingga tekanan terhadap struktur utang PGAS relatif terbatas,” ungkap Ester, Senin (20/7/2026).
Ester menambahkan, pendanaan proyek yang berasal dari kas internal Pertagas juga membuat tekanan terhadap struktur utang PGAS relatif terbatas. Meski demikian, Ester memprediksi kontribusi proyek tersebut terhadap pendapatan maupun laba PGAS belum akan terlihat signifikan dalam waktu dekat.
Hal ini dikarenakan nilai investasinya masih tergolong kecil jika disandingkan dengan total aset PGAS yang menyentuh kisaran US$ 6,2 miliar serta ekuitas sebesar US$ 3,72 miliar per Maret 2026.
"Jadi, dampaknya untuk saat ini lebih bersifat strategis sebagai pembentukan sumber pertumbuhan baru, sedangkan bisnis niaga dan transmisi gas masih akan menjadi kontributor utama," jelasnya.
Ester mencatat, pada kuartal I-2026, segmen niaga dan transmisi gas masih menyumbang sekitar 86% dari total pendapatan PGAS, sehingga kinerja perseroan dalam jangka pendek masih akan sangat bergantung pada bisnis inti tersebut.
Ke depan, ekspansi ke bisnis hidrogen dan industri gas dinilai dapat menjadi salah satu katalis positif bagi PGAS seiring meningkatnya kebutuhan energi yang lebih ramah lingkungan, meski investor tetap perlu mencermati perkembangan realisasi proyek dan kontribusinya terhadap kinerja perseroan.
Sejumlah analis pun memberikan strategi investasi berikut kepada investor: Analis UBS Sekuritas Indonesia Timothy Handerson memberikan rekomendasi untuk buy saham PGAS dengan target harga Rp 1.960 per saham.
Kemudian Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, memberikan rekomendasi untuk buy saham PGAS dengan target harga Rp 2.200 per saham.
Sementara itu, Analis JP Morgan Sekuritas Indonesia, Arnanto Januri, memberikan rekomendasi untuk overweight PGAS dengan target harga Rp 2.150 per saham.