JAKARTA — PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) mencatatkan peningkatan kinerja keuangan pada semester I/2026. Pertumbuhan ini didorong oleh kenaikan penjualan batu bara di pasar domestik serta tambahan kontribusi dari sektor logistik dan ketenagalistrikan.
Berdasarkan laporan keuangan interim, perseroan membukukan pendapatan usaha senilai US$2,55 miliar atau setara dengan Rp45,48 triliun (estimasi kurs Rp17.857,14 per dolar AS) pada semester I/2026.
Angka tersebut mengalami kenaikan sebesar 6,13% jika dibandingkan dengan US$2,40 miliar atau sekitar Rp42,85 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan pendapatan itu turut mengerek perolehan laba bruto perseroan menjadi US$782,70 juta atau sekitar Rp13,98 triliun, meningkat dari catatan sebelumnya sebesar US$695,52 juta atau setara Rp12,42 triliun pada semester I/2025.
Dari sisi laba bersih, AADI mencatatkan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$473,77 juta atau sekitar Rp8,46 triliun pada semester I/2026. Laba bersih ini tumbuh 10,52% dari perolehan tahun sebelumnya yang berada di angka US$428,68 juta atau sekitar Rp7,66 triliun.
Secara rinci, kontribusi pendapatan terbesar masih disumbangkan oleh penjualan batu bara kepada pihak ketiga yang mencapai US$2,22 miliar atau sekitar Rp39,68 triliun.
Jumlah ini terdiri atas penjualan ekspor senilai US$1,82 miliar atau sekitar Rp32,53 triliun dan pasar domestik sebesar US$400,43 juta atau sekitar Rp7,15 triliun. Penjualan ekspor pihak ketiga tercatat sedikit menurun dari US$1,86 miliar, sementara penjualan domestik pihak ketiga meningkat dari US$343,75 juta pada semester I/2025.
Selain itu, AADI juga mencatat kenaikan penjualan batu bara kepada pihak berelasi. Pendapatan dari pasar domestik pihak berelasi naik menjadi US$154,12 juta atau sekitar Rp2,75 triliun dari sebelumnya US$87,53 juta. Sementara itu, ekspor kepada pihak berelasi tercatat naik menjadi US$3,77 juta atau sekitar Rp67,23 miliar dari US$2,66 juta.
Di luar komoditas batu bara, lini bisnis logistik menyumbang pendapatan sebesar US$109,19 juta atau sekitar Rp1,95 triliun pada semester I/2026.
Perseroan juga mulai membukukan kontribusi dari penyewaan aset ketenagalistrikan beserta jasa penunjangnya senilai US$44,21 juta atau sekitar Rp789,46 miliar, yang terdiri atas penyewaan aset sebesar US$40,67 juta serta jasa operasi dan pemeliharaan sebesar US$3,55 juta.
Berdasarkan wilayah tujuan, pasar domestik secara keseluruhan menyumbang pendapatan sebesar US$721,00 juta atau sekitar Rp12,88 triliun, naik dari US$537,27 juta pada semester I/2025. Adapun pasar ekspor AADI tersebar di berbagai negara Asia, dengan perincian sebagai berikut:
* India: US$453,29 juta (turun dari US$464,70 juta)
* Malaysia: US$451,15 juta (naik dari US$433,28 juta)
* Korea: US$219,42 juta (naik dari US$204,26 juta)
* China: US$199,65 juta (turun dari US$218,52 juta)
* Jepang: US$176,80 juta (turun dari US$186,61 juta)
* Hong Kong: US$102,96 juta (naik dari US$77,26 juta)
* Filipina: US$95,43 juta (turun dari US$109,76 juta)
* Negara Lainnya: US$126,89 juta (turun dari US$167,90 juta)
Sejalan dengan peningkatan profitabilitas, laba per saham dasar AADI yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk ikut meningkat menjadi US$0,06084 pada semester I/2026, dari sebelumnya US$0,05505 pada periode yang sama tahun lalu.