BISNISINSIGHT.COM — Minat terhadap instrumen ini bukan tanpa alasan. Tondy menjelaskan, karakteristik emas yang cenderung mempertahankan nilai saat inflasi dan gejolak ekonomi membuatnya cocok sebagai sarana lindung nilai (hedging). Dalam portofolio dana pensiun, aset ini berpotensi menjadi penyeimbang terhadap fluktuasi harga saham dan instrumen pasar uang.
"Sejumlah dapen anggota asosiasi sudah menyatakan minat untuk mengkaji maupun masuk ke instrumen ini," ujar Tondy kepada Kontan, Kamis (28/8).
Kemudahan Transaksi dan Keamanan Aset
Dibandingkan kepemilikan emas fisik, struktur ETF Emas yang diperdagangkan di bursa dinilai menawarkan kemudahan transaksi secara real time. Selain itu, mekanisme kustodian dan dukungan Electronic Gold Receipt disebut dapat memperkuat aspek transparansi serta keamanan aset bagi pengelola dapen.
Kendati demikian, bukan berarti instrumen ini tanpa catatan. Tondy menyoroti sejumlah risiko yang perlu dicermati para pengelola dana pensiun sebelum memutuskan masuk ke ETF Emas.
Risiko Likuiditas dan Batasan Regulasi
Pertama, likuiditas perdagangan di bursa yang masih tergolong baru. Volume transaksinya belum sebesar instrumen investasi lain yang sudah lebih dulu mapan. Kedua, fluktuasi harga emas global yang bisa bergerak tajam. Ketiga, batasan alokasi dan ketentuan investasi yang ditetapkan OJK bagi industri dapen.
Para pemain dapen juga diingatkan untuk memastikan instrumen ini sesuai dengan profil risiko dan horizon investasi peserta. Pasalnya, produk ETF Emas yang tersedia saat ini seluruhnya berbasis struktur syariah, sehingga perlu diselaraskan dengan kebijakan investasi masing-masing dapen.
Proyeksi Adopsi ke Depan
Tondy memproyeksikan minat industri dapen terhadap ETF Emas akan terus meningkat secara bertahap. Sejumlah dapen bahkan telah menyatakan ketertarikan sebelum instrumen ini resmi diluncurkan di pasar.
Momentum adopsi disebut bisa semakin kuat jika ada dukungan insentif dari pemerintah, likuiditas pasar yang terus membaik, dan kian banyak varian produk ETF Emas yang tersedia. Semakin beragam pilihan, semakin besar peluang pengelola dapen untuk menyesuaikan dengan kebutuhan portofolionya.
Meski begitu, tingkat adopsi saat ini masih bergantung pada dua faktor utama: perkembangan likuiditas pasar dan kejelasan aturan turunan yang mengatur batasan alokasi investasi dari OJK. Tanpa keduanya, minat yang ada mungkin baru akan terwujud secara perlahan.