JAKARTA – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) bersama anak usahanya, PT Bank Syariah Nasional (BSN), mendominasi penyaluran kredit rumah subsidi melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).
Sampai akhir Juni 2026, kolaborasi kedua bank ini telah mengalirkan pembiayaan kepada 67.518 masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Jumlah tersebut setara dengan hampir 74% dari total realisasi FLPP secara nasional yang menyentuh angka 91.531 unit rumah. Secara terperinci, BTN menyalurkan FLPP untuk 44.388 MBR, sementara BSN berkontribusi sebanyak 23.130 MBR.
Merujuk pada evaluasi performa bank penyalur FLPP Kuartal II/2026 yang dikeluarkan oleh Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera), BTN berada di posisi teratas sebagai bank penyalur FLPP terbesar, yang kemudian diikuti oleh BSN di urutan kedua.
Direktur Utama BTN, Nixon L.P. Napitupulu mengungkapkan bahwa dominasi yang diraih BTN dan BSN memperlihatkan besarnya peran grup BTN dalam memperluas keterjangkauan masyarakat terhadap hunian subsidi, baik lewat skema konvensional maupun syariah.
"BTN dan BSN menyalurkan hampir 74% dari seluruh pembiayaan FLPP nasional hingga akhir Juni 2026. Capaian ini menunjukkan kuatnya kapasitas, jaringan, dan pengalaman kami dalam membantu masyarakat berpenghasilan rendah memperoleh rumah pertama," ujar Nixon dalam keterangan resmi, Selasa (28/7/2026).
Berdasarkan data dari BP Tapera, jumlah penerima manfaat dari program FLPP ini terus mengalami tren kenaikan. Hingga tanggal 30 Juni 2026, tercatat 91.531 MBR sudah mendapatkan fasilitas pembiayaan FLPP. Jumlah ini terus bertambah hingga menyentuh 107.410 MBR per tanggal 21 Juli 2026.
Nixon berpendapat bahwa lonjakan data tersebut menggambarkan kebutuhan akan tempat tinggal yang layak masih sangat tinggi.
Walakin, laju pertumbuhan penyaluran pembiayaan ini wajib diimbangi dengan standar kualitas bangunan, ketepatan penentuan sasaran penerima, serta tingkat keterhunian dari rumah tersebut.
"Besarnya volume pembiayaan harus selalu diikuti kualitas rumah dan ketepatan penerima manfaat. Rumah subsidi harus benar-benar menjadi rumah pertama yang layak dan siap dihuni," katanya.
Bukan hanya memimpin dalam penyaluran FLPP, BTN pun sukses menyabet peringkat pertama dalam penyaluran Pembiayaan Tapera untuk periode tahun 2021–2025 dengan total realisasi mencapai 12.637 peserta.
Di sisi lain, BSN menempati posisi kedua dengan jumlah 2.811 peserta, yang kemudian disusul oleh BRI dengan raihan 2.347 peserta.
Selain pencapaian itu, BSN juga sukses mendapatkan penghargaan sebagai bank penyalur yang memiliki pelaporan akuHUNI paling banyak serta tingkat validasi e-Monev yang berada di atas 90%.
Hingga bulan Juni 2026, BSN mencatatkan laporan sebanyak 3.381 MBR disertai tingkat validasi yang mencapai 92,58%.
Di bagian lain, BP Tapera terpantau telah menjalankan pengawasan terhadap 48.958 rumah FLPP sampai akhir Juni 2026, di mana tingkat keterhuniannya mencapai angka 93,35%.
Sampai penghujung tahun nanti, lembaga ini menargetkan pemantauan terhadap 75.000 unit rumah yang tersebar di minimal 77 kabupaten/kota.
Menurut pandangan Nixon, kesuksesan dari program rumah subsidi ini tidak semata-mata diukur dari nominal penyaluran pembiayaannya saja, melainkan juga dari aspek kualitas bangunan serta tingkat keterhuniannya.
Oleh sebab itu, BTN terus mengintensifkan koordinasi dengan pihak BP Tapera, pemerintah, sekaligus pengembang guna memastikan rumah subsidi bisa tepat sasaran dan benar-benar ditempati.
Di samping memperluas jangkauan kredit kepada masyarakat luas, BTN juga konsisten mendongkrak pembiayaan kepada para pengembang demi menjaga ketersediaan pasokan rumah subsidi.
Perusahaan juga terus menggulirkan transformasi pada proses kredit agar penyaluran KPR dapat berjalan dengan lebih cepat, praktis, dan efisien tanpa melupakan prinsip kehati-hatian.