JAKARTA - Wakil Menteri Kehutanan (Wamenhut) Rohmat Marzuki memandang program pemulihan dan proteksi areal hutan mangrove terbukti nyata memberi imbas sosial-ekonomi bagi warga pesisir serta berimbas positif bagi pembenahan alam sekitar.
“Dukungan kolaboratif ini telah menciptakan lapangan kerja bagi 64.386 orang, mendukung lahirnya 63 Peraturan Desa tentang perlindungan dan pengelolaan ekosistem mangrove, serta menyalurkan hibah usaha masyarakat sebesar Rp16,29 miliar,” kata Wamenhut dikutip dari keterangannya di Jakarta, Selasa (28/7/2026).
“Ini menunjukkan bahwa rehabilitasi mangrove mampu memulihkan ekosistem sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara langsung,” ujarnya menambahkan.
Oleh sebab itulah, Wamenhut menekankan tiga pilar utama yang mendasari keberlanjutan ekosistem mangrove di masa depan.
“Oleh karena itu, komitmen, kolaborasi dan inovasi dari seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci keberhasilan dalam melestarikan ekosistem mangrove,” ujarnya.
Kebijakan taktis Kementerian Kehutanan (Kemenhut) ini selaras dengan penerapan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2025 serta Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove (RPPEM) Nasional 2026-2055.
Di samping itu, kebijakan ini juga menjadi bukti riil dari pelaksanaan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dalam menyinkronkan kehidupan yang selaras dengan alam, memaksimalkan blue carbon, dan memacu pertumbuhan ekonomi hijau yang berbasis warga pesisir.
Di sisi lain, Kemenhut konsisten menekankan kontribusi vitalnya dalam melestarikan keberlanjutan ekosistem pesisir tanah air.
Dari keseluruhan 3,45 juta hektare mangrove nasional yang mewakili kisaran 23 persen dari total mangrove global seturut Peta Mangrove Nasional Tahun 2025, seluas 2,73 juta hektare atau berkisar 80 persen bertempat di dalam Kawasan Hutan yang di bawah kewajiban langsung Kemenhut.
Wamenhut menjabarkan capaian kinerja serta aksi nyata Kemenhut dalam pemulihan ekosistem. Sampai penutupan tahun 2025, Kemenhut berbarengan dengan para mitra sukses memulihkan mangrove seluas 91.678 hektare.
Melanjutkan konsistensi tersebut, di tahun 2026 Kemenhut mematok target pemulihan pada lebih dari 17.000 hektare di bermacam daerah Indonesia lewat sinergi lintas mitra pembangunan.
Sejumlah di antaranya seperti Mangroves for Coastal Resilience (M4CR), Forest Programme VI, Japan International Cooperation Agency (JICA), sampai Nature-based Solutions for Climate-Smart Livelihoods in Mangrove Landscapes (Nasclim).