Jaga Jam Tidur dan Berat Badan Anak untuk Tumbuh Kembang

Jaga Jam Tidur dan Berat Badan Anak untuk Tumbuh Kembang
Ilustrasi - Jaga Jam Tidur Anak. (Foto: NET)

JAKARTA - Pakar kesehatan anak di bidang endokrinologi Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A, Subsp.Endo(K), FAAP, FRCPI (Hon.), FIAP (Hon.) menjelaskan urgensi mengelola waktu tidur serta bobot tubuh anak demi menjaga stabilitas hormon yang mendukung proses tumbuh kembang mereka.

Dokter alumnus Universitas Indonesia tersebut dalam sebuah acara diskusi bersama media yang dihadiri secara online di Jakarta, Rabu, menerangkan bahwa fase pubertas menjadi momen di mana hormon pertumbuhan (growth hormone/GH) berproduksi secara masif saat anak sedang terlelap.

Aktivitas hormon yang tengah melesat tersebut diharapkan tidak terhambat oleh faktor-faktor luar, misalnya pengurangan durasi istirahat atau membiarkan anak terjaga hingga larut malam meskipun mereka sedang dalam masa libur sekolah.

Dia menegaskan bahwa proses produksi hormon pertumbuhan tidak akan berjalan maksimal jika pola tidur anak tidak teratur, oleh sebab itu para orang tua diimbau untuk menggunakan periode emas ini secara optimal.

Penerapan jadwal tidur secara disiplin dan konsisten dinilai mampu memaksimalkan proses pertumbuhan anak, khususnya agar mereka dapat tumbuh menjadi individu dewasa yang sehat pada masa depan.

"Jadi ya pada masa ini tidur anak tidak boleh diberi diskon, tidur itu harus ada aturannya," ujar dia.

Mengenai perilaku kurang bergerak atau gaya hidup sedentari, Aman memaparkan bahwa kondisi itu tidak memberikan dampak secara langsung terhadap hormon pertumbuhan, melainkan memperbesar risiko anak mengalami kelebihan berat badan hingga obesitas.

Tingginya kadar gula pada asupan makanan harian dapat menjadi pemicu lonjakan berat badan metabolik, yang dalam beberapa kasus memiliki potensi untuk mempercepat datangnya masa pubertas anak.

Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini turut memaparkan implikasi lain dari obesitas pada anak perempuan maupun laki-laki, yaitu munculnya gangguan pada kesehatan reproduksi serta tingkat kesuburan mereka.

"Ada juga risiko sindrom metabolik kayak hipertensi, diabetes dan lain-lain. Jadi obesitas itu pastikan tidak terjadi, jangan sampai memberikan makan berlebihan ya walaupun makanan bergizi akhirnya membuat anak obesitas," tambah dokter yang praktik di Rumah Sakit Pondok Indah-Pondok Indah itu.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index