JAKARTA - Produk makanan ringan dengan rasa matcha menjadi tren yang sangat populer di Indonesia selama dua tahun ke belakang. Memasuki tahun 2026, arah tren kuliner mulai berpindah ke ube atau ubi ungu yang semakin marak dikreasikan menjadi kudapan serta minuman modern.
"Dulu, orang-orang cari camilan rasa cokelat, kemudian beri-berian. Terus terakhir ada matcha dan sekarang mulai ubi ungu," Direktur Garudafood, Fransiskus Johny Soegiarto dalam wawancara media eksklusif 25 Tahun Garudafood di Jakarta Selatan, Rabu (15/7/2026).
Merespons pergeseran tren ini, salah satu produsen makanan ringan di dalam negeri ikut memproduksi camilan dengan cita rasa ubi ungu melalui produk Gery Snack Bantal Ubi.
Menurut penjelasan Brand Equity Director Garudafood, Niken Esti, pihak perusahaan tidak langsung meniru tren yang tengah viral begitu saja.
Tiap konsep produk baru wajib melalui proses pengujian kepada konsumen terlebih dahulu guna melihat sejauh mana tingkat penerimaan pasar sebelum akhirnya diproduksi secara massal.
Serupa dengan karakteristik matcha, ubi ungu mempunyai keunikan tersendiri melalui visual warnanya yang ungu cerah dan memikat mata.
Perpaduan ini membuatnya kian diminati sebagai bahan baku olahan aneka makanan dan minuman, seiring dengan semakin kuatnya paparan tren kuliner asal Jepang dan Korea Selatan di tanah air.
Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, Niken memaparkan bahwa Gery berhasil membukukan pertumbuhan bisnis hingga dua kali lipat. Capaian ini disokong oleh peluncuran beragam inovasi produk baru, di antaranya biskuit kentang serta makanan ringan dengan rasa matcha.
"Malkist Matcha itu revenue-nya bisa berlipat-lipat. Dua sampai tiga kali lipat hanya karena mengikuti tren matcha yang sebenarnya produk kami sudah ada sebelum tren itu muncul," ucap Niken.
Distribusi pemasaran produk camilan ini pun kian meluas, mengikuti pola konsumsi masyarakat di kawasan Asia Pasifik. Tidak hanya berfokus pada pasar domestik, Gery juga melakukan ekspor camilan dari Indonesia ke berbagai negara seperti Korea Selatan, Thailand, Vietnam, Malaysia, Australia, China, hingga India.
Masyarakat di Indonesia memang sudah dikenal sangat suka mengonsumsi makanan ringan. Merujuk data dari NIQ Indonesia Mid Year Consumer Outlook Guide 2025, persentase konsumen produk Fast Moving Consumer Goods (FMCG) yang menikmati lebih dari dua jenis kategori camilan mencapai 50,1 persen.
Frans mengungkapkan bahwa faktor rasa tetap menjadi indikator utama bagi masyarakat dalam memilih sebuah produk camilan. Di samping hal tersebut, makanan ringan juga sering kali dijadikan alternatif praktis untuk mengganjal perut sebelum waktu makan tiba.
"Tren cara makan produk sekarang juga beda. Kalau dulu mungkin, zamannya 25 tahun lalu, orang buka bungkus camilan, produknya dipegang. Karena ada pandemi, sekarang enggak mau pegang produk langsung," jelas Frans.
Adanya pergeseran selera serta cara menikmati makanan ringan ini menjadi standar bagi perusahaan dalam memformulasikan inovasi pada produk-produk teranyar mereka.
Di sisi lain, konsumen di Indonesia juga dilaporkan semakin memperhatikan faktor kesehatan saat memilih produk makanan. Berdasarkan laporan dari Innova Market Insights, komposisi bahan baku menjadi elemen krusial yang menentukan keputusan pembelian, selain dari faktor rasa dan harga.
Walau begitu, Frans menilai bahwa tren makanan ringan yang sehat belum menjadi prioritas utama bagi seluruh lapisan masyarakat.
Menurut pandangannya, kelompok konsumen tertentu, khususnya pada segmen menengah ke bawah, masih lebih memprioritaskan rasa serta harga yang terjangkau dibandingkan dengan klaim manfaat kesehatan.
"Tapi kalau untuk anak-anak bangsa, kami juga buat produk yang memang kandungannya sehat," ujar dia.
Frans juga melengkapi bahwa seluruh produk makanan yang dilempar ke pasaran dipastikan sudah memenuhi aturan pelabelan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), termasuk dengan mencantumkan rincian takaran gula, garam, serta zat gizi lainnya pada kemasan produk.
"Itu tugas kami sebagai salah satu produsen snack," pungkasnya.