Jaga Rupiah, BI Tahan Suku Bunga dan Tebar Insentif Swap

Jaga Rupiah, BI Tahan Suku Bunga dan Tebar Insentif Swap
Gubernur BI Perry Warjiyo. (Foto: NET)

JAKARTA — Bank Indonesia (BI) menetapkan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate pada posisi 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode Juli 2026. 

Bank sentral lebih memilih menggelontorkan stimulus guna memikat aliran modal asing, yang dinilai jauh lebih manjur dalam menstabilkan nilai tukar rupiah daripada menaikkan suku bunga.

Gubernur BI Perry Warjiyo memaparkan pilihan sulit yang dihadapi bank sentral pada RDG bulan ini. 

Pihaknya dihadapkan pada dua pilihan: menaikkan BI Rate dengan konsekuensi mendongkrak suku bunga kredit domestik atau mempertahankan BI Rate tetapi membuka lebar keran stimulus untuk investor asing.

"Yang kami lakukan hari ini di Rapat Dewan Gubernur, tidak menaikkan BI Rate tapi meningkatkan insentif bagi semakin masuknya aliran portofolio asing. Ini yang kami putuskan hari ini," ungkap Perry dalam pengumuman hasil RDG Juli 2026, Rabu (22/7/2026).

Perry meyakini bahwa langkah memberikan stimulus lindung nilai (hedging) di pasar valuta asing (valas) menjadi bauran kebijakan yang lebih ampuh ketimbang pilihan mengerek suku bunga sebesar 25 basis poin (bps).

Secara terperinci, BI memperlebar kebijakan stimulus pemotongan premi untuk investasi portofolio asing lewat dua instrumen utama. Pertama, menaikkan stimulus untuk Swap Jual Lindung Nilai (Swap Beli Lindung Nilai kepada BI) dari yang sebelumnya 10% menjadi 12,5%. 

Kedua, BI merilis perluasan stimulus baru yang belum ada sebelumnya, yakni stimulus untuk transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) Jual Lindung Nilai dengan porsi mencapai 15%.

Perry menegaskan bahwa kalkulasi efektivitas dari pelonggaran premi Swap dan DNDF ini memberikan dampak yang lebih tinggi terhadap penguatan rupiah, meredam inflasi, menyokong pertumbuhan ekonomi, hingga menjaga kesehatan korporasi ketimbang menerapkan pengetatan lewat kenaikan BI Rate sebesar 25 bps.

Ekspansi Local Currency Transaction

Bukan hanya menyasar dana asing di pasar portofolio, BI pun memperluas stimulus Local Currency Transaction (LCT) guna menekan dominasi dolar Amerika Serikat (AS). Strategi ini dipersiapkan untuk mendiversifikasi pembayaran transaksi perdagangan dan investasi bilateral memakai mata uang lokal.

Hingga saat ini, Indonesia sudah mengikat kerja sama LCT dengan sejumlah negara mitra strategis, seperti Jepang, China, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab (UEA). 

Mengacu pada data BI, transaksi yang memanfaatkan mata uang seperti Rupiah-Renminbi maupun Rupiah-Yen terpantau semakin ramai di pasar domestik.

"Dengan diversifikasi pembayaran perdagangan dan investasi, ini akan mengurangi demand permintaan terhadap dolar," jelas Perry.

Untuk semakin menggairahkan transaksi LCT, BI ikut memberikan stimulus untuk pelaku pasar, yakni berupa penambahan premi Swap Beli Lindung Nilai (Swap Jual Lindung Nilai kepada BI) sebesar 10% dan pemotongan premi DNDF Jual Lindung Nilai sebesar 10%.

Lebih lanjut, Perry optimistis bahwa paket stimulus yang menyasar aliran masuk portofolio asing serta optimalisasi LCT ini bakal menjadi pendorong utama dalam mempercepat pendalaman pasar valas domestik (PUVA).

"Dengan insentif untuk aliran masuk diversifikasi progresif, demikian juga pemanfaatan Local Currency Transaction, ini pasar valas kami akan semakin dalam dan sekaligus memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah," pungkasnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index