Ekonom SMF: BI-Rate Berpotensi Naik Jadi 6,75 Persen

Ekonom SMF: BI-Rate Berpotensi Naik Jadi 6,75 Persen
Kepala Ekonom PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) Martin Daniel Siyaranamual. (Foto: NET)

JAKARTA - Kepala Ekonom PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) Martin Daniel Siyaranamual mengungkapkan bahwa institusinya memprediksi BI-Rate pada penghujung tahun 2026 dapat mencapai angka 6,75 persen, dan pada batas moderat mampu berada di level 6,25 persen.

“BI-Rate kemungkinan besar, kalau berdasarkan proyeksi kami, di akhir tahun 2026 ini, itu akan mencapai posisi di 6,75 (persen),” ucapnya dalam agenda Konferensi Pers Kinerja Semester 1 2026 PT SMF (Persero) di Jakarta, Rabu (22/7/2026).

Berdasarkan pandangannya, langkah konkret guna meredam tekanan terhadap nilai tukar rupiah adalah dengan sikap agresif BI dalam mendongkrak BI-Rate. 

Peningkatan ini bertujuan agar penanam modal asing melihat investasi di Indonesia menjadi lebih memikat, seiring dengan melonjaknya permintaan konversi dolar AS ke rupiah.

Tingginya pengeluaran pemerintah serta kondisi cadangan devisa (cadev) yang kurang tebal akibat tren penyusutan di awal tahun menjadi faktor utama yang mengharuskan BI bertindak lebih agresif. 

Dampak yang muncul dari ekspektasi kenaikan suku bunga ini adalah melambungnya bunga Kredit Perumahan Rakyat (KPR) hingga ongkos pendanaan (cost of fund) yang kian mahal.

“Implikasinya apa? Implikasinya perjalanan bisnis PT SMF menghadapi tantangan, tapi itu tidak bisa kami hindari. Kenapa? Karena kondisinya memang saat ini, Bank Indonesia harus bersikap lebih agresif,” ungkap dia.

Di satu sisi otoritas moneter dituntut untuk agresif, lanjut dia, namun di sisi lain tingkat keuntungan Surat Utang Negara (SUN) menunjukkan tren peningkatan yang disertai pula oleh Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). 

Martin menilai opsi paling realistis bagi otoritas moneter adalah memperbesar pinjaman, yang konsekuensinya harus menyajikan tingkat keuntungan yang jauh lebih menarik atau makin agresif.

Pertumbuhan tingkat pengembalian SUN tersebut diprediksi berimbas kepada seluruh perusahaan pembiayaan di industri jasa keuangan, sebab SUN menjadi acuan dasar dalam setiap penerbitan obligasi, termasuk bagi SMF.

“SMF pada saat menerbitkan obligasi, referensinya adalah Surat Utang Negara. Nggak mungkin kami di bawah mereka, pasti kami akan naik. Kalau mereka ikut naik, yang lain pasti akan lebih naik lagi. Itu implikasinya. Itulah yang menyebabkan tantangan tersendiri,” kata Martin.

Berdasarkan pemaparannya, sektor keuangan dalam negeri dinilai masih menempuh periode adaptasi di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah serta proses peninjauan aksesibilitas pasar oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Dalam rentang Maret hingga 17 Juli 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi dari level 8 ribuan ke angka 6.176, seirama dengan menguatnya tekanan jual oleh pemodal asing serta munculnya sikap menghindari risiko (risk-off) di pasar global.

Pada periode yang sama, nilai tukar Rupiah (JISDOR) mengalami pelemahan hingga sempat terperosok ke angka Rp18.200 per dolar AS sebelum akhirnya pulih ke posisi Rp17.944 per dolar AS per 17 Juli 2026.

Fluktuasi tersebut memperlihatkan betapa responsifnya pasar domestik terhadap sirkulasi dana asing, termasuk reaksi para pemodal atas hasil tinjauan MSCI yang menyoroti sektor efisiensi serta keterbukaan pasar modal di Indonesia.

Meski begitu, ketahanan rupiah serta kebangkitan IHSG pada bulan Juni menunjukkan bahwa pandangan para pelaku pasar mulai membaik sejalan dengan penguatan strategi kebijakan otoritas dan berkurangnya tekanan dari luar.

Kondisi serta peningkatan tekanan eksternal ini juga tecermin dari menyusutnya cadangan devisa Indonesia pada awal tahun 2026, yang merosot dari posisi 154,58 miliar dolar AS pada Januari 2026 menjadi tinggal 145,6 miliar dolar AS pada Juni 2026.

Penyusutan cadev tersebut dipicu oleh pemenuhan kewajiban utang luar negeri pemerintah serta langkah stabilisasi mata uang rupiah yang dieksekusi oleh Bank Indonesia (BI) lewat intervensi pasar valas di tengah tingginya ketidakpastian finansial global.

Cadev sendiri berfungsi sebagai penopang utama yang memberi ruang bagi BI untuk mengintervensi pasar demi meminimalkan fluktuasi nilai tukar serta menjamin ketersediaan dana untuk impor krusial saat terjadi guncangan.

Sementara itu, arah kebijakan moneter yang diambil BI memperlihatkan strategi yang kian protektif di tengah melonjaknya hambatan eksternal dan tingginya gejolak sektor keuangan global.

Sebelumnya, BI sempat menurunkan tingkat BI-Rate hingga ke posisi 4,75 persen pada akhir tahun 2025, dan mempertahankan level tersebut hingga April 2026. 

Namun, lewat Rapat Dewan Gubernur (RDG) edisi Mei dan Juni, bank sentral memutuskan mengatrol suku bunga acuan sebanyak 100 basis points (bps), yang membuat BI-Rate terdongkrak ke angka 5,75 persen hingga posisi Juni 2026.

Langkah tersebut membuktikan bahwa fokus BI semakin besar dalam memproteksi nilai tukar rupiah yang menghadapi tekanan berat, serta mengantisipasi tingginya risiko pelarian modal keluar (capital outflow) dari kawasan negara berkembang, termasuk Indonesia.

Divisi Riset Ekonomi (DRE) SMF memperkirakan bahwa BI-Rate masih berpotensi naik kembali masing-masing sebesar 25 bps dengan frekuensi tertinggi sebanyak empat kali hingga penutupan tahun 2026.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index