JAKARTA - Para pelaku pasar merespons positif pemaparan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2027 oleh Presiden Prabowo Subianto, pada hari Jumat menjelang akhir pekan lalu (15/8/2026).
Meskipun demikian, langkah ini belum dinilai sebagai indikator positif untuk jangka panjang. Pihak otoritas mengumumkan target pemasukan mencapai Rp 3.426 triliun pada tahun 2027, meningkat sekitar 8,6% dibandingkan APBN 2026.
Di sisi lain, pengeluaran dalam rancangan anggaran tahun tersebut ditetapkan senilai Rp 4.097 triliun, atau mengalami kenaikan 6,6% daripada posisi 2026.
Rancangan anggaran ini mencerminkan defisit sebesar Rp 671 triliun, atau setara kurang lebih 2,4% dari produk domestik bruto (PDB).
Target pertumbuhan ekonomi untuk periode tahun depan dipatok mencapai 6%, tingkat inflasi ditetapkan 2,5% serta nilai tukar rupiah dipatok Rp 17.500 per dolar Amerika Serikat (AS).
Selepas pengumuman tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau mengalami penguatan dalam sesi perdagangan hari Jumat (15/8/2026).
IHSG berakhir naik 1,59% menjadi 6.401,89. Sementara itu, kurs spot rupiah menguat tipis 0,09% ke level Rp 17.811 per dolar AS dibandingkan penutupan sesi sebelumnya.
Kelompok analis Macquarie Capital memberikan catatan khusus terhadap agenda transformasi yang dipaparkan oleh Kepala Negara.
Rencana tersebut mencakup bidang kesehatan, peralihan energi, pembaruan pasar komoditas, serta elektrifikasi kendaraan roda dua.
“Hal ini memperkuat tujuan pemerintah untuk memanfaatkan kebijakan fiskal dan Danantara sebagai penggerak investasi yang berjalan beriringan, dengan potensi dampak jangka menengah bagi sektor kesehatan, infrastruktur, energi terbarukan, kendaraan listrik (EV), dan sektor-sektor yang terkait dengan BUMN,” tulis Ari Jahja, Head of Indonesia Research Macquarie Capital, dalam risetnya, Senin (17/8/2026).
Sektor kesehatan dan sumber daya alam menjadi salah satu fokus utama pembaruan. Pemerintahan antara lain akan menjalankan renovasi terhadap 10.000 puskesmas, mendirikan ataupun merevitalisasi 441 rumahsakit umum daerah (RSUD) serta melaksanakan renovasi fasilitas pendidikan.
Di samping itu, negara akan membentuk Bursa Komoditas Indonesia, memaksimalkan aset BUMN, membangun pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 100 GW, Pusat Finansial Internasional Indonesia, serta menjalankan elektrifikasi kendaraan roda dua.
“Menariknya, program makan gratis maupun koperasi desa tidak disebutkan dalam rencana ini,” imbuh Ari.
Meskipun begitu, Ari berpandangan bahwa pengamatan lebih mendalam masih diperlukan terhadap implementasi berbagai program tersebut guna memantau respons dari pasar.
“Kemajuan dalam pelaksanaan program akan menjadi faktor krusial untuk meningkatkan kepercayaan investor,” sebut Ari.
Oleh karena itu, pada saat ini Macquarie Capital menganjurkan para pemilik modal agar tetap bersikap selektif, kendati tingkat valuasi sudah tampak menarik.
“Pemulihan yang berkelanjutan akan bergantung pada keyakinan terhadap pelaksanaan kebijakan, kredibilitas fiskal, dan hasil tinjauan MSCI,” tegas Ari.