JAKARTA - Ketegangan hubungan dagang antara Amerika Serikat dan China kembali memanas, dan dampaknya mulai terasa ke berbagai sektor, termasuk industri teknologi global. Salah satu yang terkena imbas serius adalah Apple Inc., produsen iPhone yang sangat bergantung pada lini produksi di Tiongkok.
Kebijakan tarif balasan yang diberlakukan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap produk-produk asal China telah memicu kekhawatiran terjadinya perang dagang global. Dalam skenario terburuk, harga produk Apple, termasuk iPhone seri terbaru, bisa mengalami lonjakan signifikan. Bahkan, varian premium iPhone diproyeksikan dapat menembus angka Rp37 juta per unit jika beban tarif dialihkan sepenuhnya kepada konsumen.
Tarif Impor AS Meningkat, Harga iPhone Melonjak
Laporan dari Reuters, yang mengutip proyeksi analis dari Rosenblatt Securities, menyebutkan bahwa iPhone menjadi salah satu produk Apple yang paling terdampak oleh kebijakan tarif baru yang mulai berlaku. Tarif balasan yang diberlakukan terhadap produk-produk yang dirakit di China mencapai 54 persen, dan hal ini memberikan tekanan besar kepada Apple yang selama ini sangat mengandalkan Tiongkok sebagai pusat produksi.
“Kenaikan tarif ini bisa menyebabkan lonjakan harga antara 30 hingga 40 persen untuk lini produk iPhone,” tulis laporan tersebut.
Berdasarkan perhitungan dari Rosenblatt, model termurah iPhone 16 yang saat ini dijual seharga $799 (sekitar Rp12,7 juta dengan kurs Rp16.000 per dolar AS), bisa melonjak menjadi sekitar $1.142 atau Rp18,3 juta. Sementara itu, untuk iPhone 16 Pro Max, varian paling mewah dengan layar 6,9 inci dan penyimpanan internal 1TB, harga bisa naik dari $1.599 menjadi hampir $2.300 atau Rp36,8 juta.
Produksi Masih Bergantung pada China
Ketergantungan Apple terhadap rantai pasok di China masih sangat tinggi. Hampir seluruh lini iPhone, termasuk suku cadang dan perakitan, dilakukan di pabrik-pabrik yang tersebar di berbagai kota industri besar Tiongkok seperti Shenzhen dan Zhengzhou. Kondisi ini membuat Apple sangat rentan terhadap perubahan kebijakan dagang yang menyasar barang-barang buatan China.
Dengan kenaikan tarif yang kini diberlakukan oleh pemerintah AS, Apple menghadapi dilema besar: apakah menanggung biaya tambahan tersebut secara internal, atau memilih untuk mengalihkan beban itu ke konsumen akhir.
Jika Apple memutuskan untuk tetap menjaga margin keuntungan, maka pilihan untuk menaikkan harga jual iPhone hampir tak terhindarkan. Namun di sisi lain, kenaikan harga yang terlalu tajam bisa mengancam daya beli dan volume penjualan, terutama di pasar utama seperti Amerika Serikat, Eropa, dan China sendiri.
Pasar Merespons Negatif, Saham Apple Anjlok
Dampak dari kebijakan tarif ini langsung terasa di pasar modal. Saham Apple tercatat turun hingga 9,3 persen dalam satu hari perdagangan—penurunan harian terbesar sejak Maret 2020 ketika pandemi COVID-19 mengguncang pasar keuangan global.
Investor khawatir bahwa kenaikan harga akan menyebabkan turunnya permintaan konsumen terhadap iPhone, yang merupakan produk andalan Apple dengan penjualan lebih dari 220 juta unit per tahun secara global.
Pergeseran Produksi: Tantangan dan Peluang
Untuk mengurangi ketergantungan terhadap China, Apple dalam beberapa tahun terakhir sudah mulai diversifikasi lokasi produksi ke negara lain seperti India dan Vietnam. Namun upaya ini belum cukup untuk menggantikan kapasitas produksi besar yang dimiliki China.
Menurut analis Rosenblatt, memindahkan seluruh produksi iPhone dari China ke negara lain dalam waktu singkat adalah hal yang hampir mustahil dilakukan. “Proses relokasi penuh membutuhkan waktu bertahun-tahun dan investasi infrastruktur yang sangat besar,” jelas laporan tersebut.
India, misalnya, saat ini baru menyumbang sebagian kecil dari total produksi iPhone global. Meskipun negara tersebut dinilai memiliki potensi sebagai basis manufaktur, tetapi ekosistem dan rantai pasoknya belum sekuat China.
Konsumen dan Ekosistem Apple Terancam
Dampak kenaikan harga iPhone tidak hanya dirasakan oleh konsumen secara langsung, tetapi juga bisa mengganggu ekosistem Apple secara keseluruhan. Produk-produk seperti Apple Watch, iPad, AirPods, dan Mac juga berpotensi terdampak kebijakan tarif tersebut, mengingat banyak komponennya juga dirakit di China.
Selain itu, produk Apple juga menjadi bagian dari ekosistem teknologi yang lebih luas, mulai dari pengembang aplikasi, penyedia layanan cloud, hingga penyedia layanan perbaikan. Kenaikan harga perangkat keras dapat menghambat adopsi teknologi di kalangan pengguna baru, serta menurunkan siklus upgrade perangkat.
Persaingan Semakin Ketat di Pasar Global
Kenaikan harga iPhone dapat menjadi keuntungan tersendiri bagi para kompetitor Apple di pasar global. Produsen ponsel asal Korea Selatan seperti Samsung atau perusahaan China seperti Xiaomi, Oppo, dan Huawei berpotensi merebut pangsa pasar yang sebelumnya didominasi oleh Apple, terutama di segmen premium.
Dengan harga iPhone yang semakin mahal, konsumen yang sensitif terhadap harga kemungkinan besar akan beralih ke alternatif lain dengan fitur serupa namun harga lebih terjangkau.
Perang Dagang: Ancaman Bagi Inovasi Global
Perang dagang antara AS dan China bukan hanya persoalan neraca dagang semata, tetapi juga menjadi ancaman bagi inovasi global. Ketika tarif impor meningkat, maka biaya produksi teknologi juga ikut naik. Hal ini pada akhirnya menghambat kolaborasi lintas negara dan memperlambat perkembangan teknologi baru.
Pakar perdagangan internasional juga memperingatkan bahwa kebijakan seperti ini dapat memicu efek berantai, di mana negara-negara lain ikut menerapkan kebijakan proteksionis sebagai balasan. Dalam skenario seperti ini, konsumen global yang akan menjadi pihak paling dirugikan.
Harga iPhone Naik, Konsumen Perlu Bersiap
Kenaikan tarif impor akibat perang dagang antara Amerika Serikat dan China menjadi ancaman nyata bagi stabilitas harga teknologi global, termasuk iPhone sebagai salah satu produk paling ikonik dan paling laris di dunia.
Jika tren ini terus berlanjut, masyarakat perlu bersiap menghadapi gelombang kenaikan harga tidak hanya pada smartphone, tetapi juga perangkat teknologi lainnya yang selama ini banyak diproduksi di China. Bagi Apple, tantangan ke depan adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara efisiensi produksi, strategi pasar, dan kepuasan konsumen.
Tag SEO: harga iPhone terbaru 2025, dampak perang dagang AS China, tarif impor Apple, iPhone 16 Pro Max Rp37 juta, produksi iPhone di China, saham Apple turun, harga gadget naik, tarif impor Trump, perang dagang global, efek tarif AS China.