Minyak

Lampu Minyak dari Botol Bekas, Tradisi Tumbilotohe yang Terus Bertahan di Gorontalo

Lampu Minyak dari Botol Bekas, Tradisi Tumbilotohe yang Terus Bertahan di Gorontalo

JAKARTA - Tradisi Tumbilotohe, yang telah berlangsung secara turun-temurun di Gorontalo, kembali menyemarakkan suasana Ramadan dengan cahaya lampu minyak yang menghiasi berbagai sudut kota. Salah satu elemen penting dalam tradisi ini adalah penggunaan lampu minyak yang dibuat dari botol bekas, sebuah praktik yang tidak hanya mempertahankan nilai budaya tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.

Seorang pedagang lampu minyak dari botol bekas di Kota Selatan, Kota Gorontalo, menanti pembeli di tengah keramaian persiapan Tumbilotohe. Dengan harga yang sangat terjangkau, yaitu Rp1.000 per buah, lampu-lampu sederhana ini tetap menjadi pilihan utama masyarakat dalam merayakan malam pasang lampu yang jatuh pada malam ke-27 Ramadan atau tiga hari menjelang Idul Fitri.

Tradisi yang Menyala di Tengah Modernisasi

Tumbilotohe merupakan tradisi khas masyarakat Gorontalo yang sudah berlangsung sejak berabad-abad lalu. Dalam bahasa Gorontalo, "Tumbilotohe" berarti "menyalakan lampu," yang melambangkan harapan dan kegembiraan menyambut hari kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa. Meskipun perkembangan zaman telah membawa berbagai inovasi penerangan, seperti lampu listrik dan LED, masyarakat tetap mempertahankan penggunaan lampu minyak sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan budaya leluhur mereka.

"Tumbilotohe bukan hanya sekadar menerangi malam Ramadan, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan dan penghormatan terhadap tradisi yang diwariskan oleh nenek moyang kami," ujar Ahmad, seorang warga setempat yang turut serta dalam pemasangan lampu minyak di halaman rumahnya.

Ekonomi Kreatif di Balik Lampu Minyak Tradisional

Di balik keindahan cahaya Tumbilotohe, terdapat roda ekonomi kecil yang terus berputar. Pedagang lampu minyak dari botol bekas mendapat keuntungan dari tradisi ini, terutama menjelang malam puncak perayaan. Dengan bahan dasar botol bekas, minyak tanah, dan sumbu kain, lampu minyak ini mudah dibuat dan dapat dijual dengan harga murah sehingga terjangkau bagi masyarakat luas.

"Setiap tahun, saya menjual ratusan lampu minyak ini. Meskipun keuntungan tidak besar, saya tetap melakukannya karena ini adalah bagian dari tradisi yang harus dijaga," kata Rahman, seorang pedagang lampu minyak di Kota Gorontalo.

Selain pedagang, pengumpul botol bekas dan penjual minyak tanah juga merasakan dampak ekonomi dari tradisi ini. Permintaan minyak tanah meningkat pesat menjelang Tumbilotohe, meskipun bahan bakar ini sudah jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Tantangan dan Harapan ke Depan

Meskipun tradisi ini tetap bertahan, beberapa tantangan mulai muncul, terutama terkait ketersediaan minyak tanah. Seiring dengan kebijakan pemerintah yang membatasi penggunaan minyak tanah dan mendorong penggunaan gas elpiji, masyarakat kesulitan mendapatkan bahan bakar utama untuk lampu minyak mereka. Namun, semangat menjaga tradisi membuat mereka mencari berbagai cara agar Tumbilotohe tetap dapat dirayakan.

"Sekarang sulit mendapatkan minyak tanah, tetapi kami tetap berusaha mencari karena tanpa lampu minyak, suasana Tumbilotohe tidak akan sama," ujar Siti, seorang warga Gorontalo yang setiap tahun berpartisipasi dalam perayaan ini.

Selain itu, munculnya lampu-lampu modern berbasis tenaga surya atau listrik juga menggeser popularitas lampu minyak tradisional. Namun, bagi sebagian besar masyarakat, lampu minyak tetap memiliki nilai sentimental yang tidak bisa digantikan oleh teknologi.

Menjaga Warisan Budaya di Era Digital

Di era digital saat ini, upaya pelestarian Tumbilotohe semakin diperkuat dengan keterlibatan generasi muda. Banyak anak muda Gorontalo yang mulai mempromosikan tradisi ini melalui media sosial, berbagi foto dan video keindahan cahaya lampu minyak yang menghiasi kota mereka. Upaya ini membantu meningkatkan kesadaran akan pentingnya mempertahankan budaya lokal di tengah arus modernisasi.

Pemerintah daerah juga terus berupaya mendukung kelangsungan Tumbilotohe dengan mengadakan berbagai acara dan festival yang berkaitan dengan tradisi ini. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Gorontalo, misalnya, mengajak wisatawan untuk datang dan menyaksikan langsung kemeriahan malam pasang lampu.

"Kami ingin memastikan bahwa Tumbilotohe tidak hanya menjadi bagian dari sejarah, tetapi tetap hidup dan berkembang sebagai daya tarik budaya serta pariwisata Gorontalo," ujar Kepala Dinas Pariwisata Gorontalo, Rudi Hartono.

Lampu minyak dari botol bekas bukan sekadar alat penerangan dalam perayaan Tumbilotohe, tetapi juga simbol ketahanan budaya masyarakat Gorontalo dalam menjaga tradisi leluhur mereka. Meskipun menghadapi tantangan, semangat masyarakat dalam mempertahankan tradisi ini tetap kuat, didukung oleh nilai kebersamaan dan ekonomi kreatif yang berputar di dalamnya.

Dengan promosi yang lebih luas dan dukungan dari berbagai pihak, Tumbilotohe diharapkan dapat terus menyala, menerangi malam-malam Ramadan di Gorontalo dan menjadi salah satu warisan budaya Indonesia yang lestari hingga generasi mendatang.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index