JAKARTA - Warga di empat desa Kecamatan Air Putih, Kabupaten Batubara, kembali diliputi kecemasan setelah tanggul Sungai Dalu-dalu yang baru selesai diperbaiki dengan anggaran lebih dari Rp11 miliar mengalami kerusakan lagi. Infrastruktur yang seharusnya menjadi benteng pertahanan dari ancaman banjir kini justru menimbulkan kekhawatiran karena kondisinya yang tampak rapuh.
Proyek perbaikan tanggul ini dikerjakan oleh CV. Razasa Agung, namun hanya dalam waktu tiga bulan pasca penyelesaian, berbagai indikasi pengerjaan yang tidak sesuai standar mulai terlihat. Besi penahan bangunan tampak miring, sementara beton pengunci telah mengalami banyak keretakan. Dugaan kuat muncul bahwa campuran semen yang digunakan tidak sesuai dengan standar kualitas yang semestinya atau perancah beton dibuka terlalu cepat sebelum struktur benar-benar mengering dan kuat.
Salah satu warga setempat, Ridwan (45), mengungkapkan kekecewaannya terhadap kualitas perbaikan tanggul tersebut. “Kami tadinya lega karena tanggul sudah diperbaiki, tapi sekarang malah lebih khawatir. Kondisinya sudah mulai retak dan tidak kokoh, kami takut kalau hujan deras datang, tanggul bisa jebol lagi,” ujarnya kepada wartawan, Rabu 26 Maret 2025.
Selain masalah struktur beton, teknik pengerjaan yang diterapkan juga dipertanyakan. Perbaikan tanggul ini diduga dilakukan secara asal-asalan, terutama dalam pemadatan tanah uruk yang digunakan sebagai dasar tanggul. Seharusnya, proses pemadatan dilakukan dengan alat berat seperti Bomag atau Woles untuk memastikan daya tahan maksimal. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa tanah uruk yang digunakan tidak dipadatkan dengan baik. Bahkan, alih-alih menggunakan material tanah uruk yang padat, pihak pelaksana proyek justru menggunakan pasir yang memiliki tingkat kepadatan lebih rendah, sehingga berisiko lebih mudah longsor saat terkena arus sungai yang deras.
Kepala Desa Sei Balai, Sumarno, juga mengungkapkan kekhawatiran serupa. Menurutnya, proyek ini seharusnya menjadi solusi jangka panjang bagi masyarakat yang setiap tahun menghadapi ancaman banjir. Namun, dengan kondisi tanggul yang sudah mulai mengalami kerusakan dalam waktu singkat, ia menilai ada ketidaksesuaian dalam pelaksanaan proyek tersebut. “Kalau pengerjaannya tidak sesuai standar, masyarakat yang akan menanggung akibatnya. Harus ada evaluasi dan tindakan tegas agar perbaikan yang dilakukan benar-benar berkualitas,” katanya.
Dari sisi teknis, pemerhati infrastruktur lokal, Ir. Antoni Siregar, menyoroti aspek pengerjaan yang tidak memenuhi standar kualitas. Menurutnya, beton yang sudah mengalami retak dalam hitungan bulan menunjukkan indikasi kegagalan struktur. “Salah satu kemungkinan terbesar adalah pencampuran material yang tidak sesuai atau proses pengerjaan yang tidak mengikuti prosedur standar. Selain itu, jika penggunaan pasir memang benar adanya, ini jelas sebuah kesalahan fatal karena pasir tidak memiliki daya rekat dan kepadatan yang cukup untuk menopang struktur tanggul,” jelasnya.
Warga setempat kini berharap ada tindakan tegas dari pemerintah daerah dan pihak terkait untuk mengaudit proyek ini serta memastikan adanya perbaikan ulang dengan standar yang lebih ketat. Mereka juga meminta agar kontraktor yang mengerjakan proyek ini bertanggung jawab atas kerusakan yang terjadi.
Menanggapi keluhan warga, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Batubara, Hendra Saputra, menyatakan bahwa pihaknya akan segera melakukan inspeksi ke lokasi. “Kami akan mengevaluasi kembali proyek ini dan memanggil pihak kontraktor untuk menjelaskan permasalahan yang terjadi. Jika ditemukan kelalaian dalam pelaksanaan proyek, kami tidak akan ragu untuk mengambil langkah tegas,” ujarnya.
Sementara itu, aktivis lingkungan dan pemerhati pembangunan daerah, Ahmad Fauzi, mengingatkan bahwa proyek infrastruktur seperti tanggul memiliki dampak yang sangat besar bagi keselamatan warga. Oleh karena itu, ia meminta agar semua pihak terkait lebih transparan dalam pengerjaan proyek dan memastikan bahwa dana yang digunakan benar-benar dialokasikan dengan baik. “Jangan sampai proyek bernilai miliaran rupiah hanya menghasilkan konstruksi yang rapuh. Masyarakat berhak mendapatkan infrastruktur yang berkualitas dan aman,” tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, kondisi tanggul masih dalam tahap pemantauan oleh warga setempat, dengan harapan segera ada perbaikan yang lebih baik agar mereka tidak lagi dihantui ancaman banjir akibat kegagalan struktur ini. Pemerintah daerah diharapkan segera mengambil langkah konkret untuk mencegah terjadinya kerusakan lebih parah di masa mendatang.