JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong para pelaku industri untuk berkontribusi dalam menjaga pasokan bahan pokok masyarakat, terutama menjelang perayaan Idulfitri 2025. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui penyelenggaraan Bazar Ramadan yang bertujuan untuk menyediakan kebutuhan Lebaran bagi pegawai serta masyarakat umum. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi ajang promosi bagi produk-produk industri dalam negeri, khususnya di sektor industri agro.
“Berbagai upaya strategis terus dilakukan, termasuk penjaminan pasokan bahan baku industri melalui neraca komoditas. Hal ini merupakan komitmen pemerintah sebagaimana arahan Bapak Presiden untuk memastikan ketersediaan bahan pangan pokok selama hari besar keagamaan nasional,” ujar Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Riza, dalam acara pembukaan Bazar Ramadan.
Bazar Ramadan 2025 Hadirkan 93 Perusahaan dengan Beragam Produk
Sebagai bagian dari langkah nyata dalam membantu masyarakat memperoleh bahan pokok dengan harga yang terjangkau, Kemenperin rutin mengadakan Bazar Ramadan setiap tahunnya. Ajang ini juga menjadi kesempatan bagi para pelaku usaha untuk mempromosikan produk unggulan mereka.
“Bazar Ramadan ini merupakan bentuk kepedulian serta partisipasi Kemenperin bersama pelaku industri dalam menjaga ketersediaan dan keterjangkauan harga kebutuhan pokok,” kata Wamen Riza.
Pada tahun lalu, kegiatan serupa berhasil mencatat total transaksi hingga Rp1 miliar dengan partisipasi 80 perusahaan, termasuk sektor industri kecil dan menengah (IKM). Tahun ini, jumlah peserta meningkat menjadi 93 perusahaan dan diharapkan total nilai transaksi juga akan mengalami peningkatan signifikan.
Bazar Ramadan ini berlangsung di Plasa Pameran Industri, Gedung Kemenperin, selama empat hari, dari tanggal 18 hingga 21 Maret 2025. Berbagai produk ditawarkan dalam bazar ini, mulai dari minyak goreng, gula, biskuit, roti, produk kopi, susu, yoghurt, cokelat, es krim, minuman sari buah, saus, mi instan, hingga olahan daging seperti sosis, bakso, dan kornet. Produk kebutuhan sehari-hari lainnya seperti kertas, tisu, minyak atsiri, pet food, porcelain, batik, kerajinan kulit, buku, serta fesyen muslim juga tersedia.
“Permintaan produk makanan dan minuman biasanya meningkat signifikan menjelang Lebaran, sehingga kehadiran bazar ini sangat membantu masyarakat,” tambah Wamen Riza.
Pasokan Minyak Goreng Ditingkatkan Dua Kali Lipat
Salah satu komoditas yang mengalami lonjakan permintaan selama Ramadan dan Idulfitri adalah minyak goreng. Untuk memastikan stok tetap tersedia, Kemenperin telah meminta para produsen untuk meningkatkan pasokan hingga dua kali lipat dibandingkan bulan-bulan biasa.
“Industri siap memasok, dan pemerintah terus mendorong peningkatan kinerja industri dalam memastikan ketersediaan bahan pokok,” ujar Wamen Riza.
Pada kesempatan ini, Bazar Ramadan juga menyediakan 4.000 liter minyak goreng dengan harga terjangkau yang diproduksi oleh Sinarmas Group.
Terkait kasus pelanggaran penyalahgunaan takaran minyak goreng bersubsidi Minyakita yang sempat terjadi beberapa waktu lalu, Wamenperin menegaskan bahwa pemerintah telah mengambil tindakan tegas terhadap pelaku yang terbukti melanggar aturan.
“Kasus ini sangat merugikan masyarakat serta mencederai upaya pemerintah dalam menyediakan dan menjaga harga minyak goreng tetap stabil,” tegasnya.
Senada dengan hal tersebut, Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, menambahkan bahwa kasus tersebut juga mencoreng nama baik para pelaku usaha yang selama ini taat menjalankan aturan.
“Kasus yang kemarin terjadi tentu sangat merugikan industri minyak goreng dan pengemas Minyakita yang selama ini telah beroperasi sesuai regulasi,” imbuh Putu.
Wakaf Al-Quran dan Dukungan untuk Industri Makanan dan Minuman
Selain mengadakan bazar, Kemenperin juga menyalurkan 2.000 mushaf Al-Quran hasil wakaf dari APP Group yang akan didistribusikan kepada masyarakat.
Di sisi lain, Wamenperin juga menyoroti pentingnya industri makanan dan minuman sebagai sektor strategis yang menopang pertumbuhan ekonomi nasional. Data menunjukkan bahwa pada tahun 2024, sektor industri makanan dan minuman menyumbang 40,31% terhadap PDB industri non-migas dan 6,92% terhadap PDB nasional.
“Sepanjang tahun 2024, industri makanan dan minuman mencatat nilai ekspor sebesar USD41,45 miliar dengan neraca dagang positif sebesar USD24,37 miliar. Sektor ini juga masih menarik bagi para investor dengan realisasi investasi mencapai Rp110,57 triliun,” jelasnya.
Dengan adanya dukungan yang terus diberikan oleh pemerintah, baik dalam bentuk kebijakan maupun fasilitasi kegiatan seperti Bazar Ramadan, diharapkan industri dalam negeri semakin berkembang dan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat secara optimal, terutama dalam menghadapi perayaan Lebaran.