JAKARTA - Gunung Kidul telah menunjukkan perkembangan pesat dalam industri pariwisata, dengan berbagai destinasi yang menarik perhatian wisatawan lokal maupun mancanegara. Salah satu langkah proaktif yang diambil guna meningkatkan kualitas pengalaman berwisata di daerah ini adalah dengan cara mengevaluasi aspek kuliner, khususnya olahan laut, yang menjadi salah satu daya tarik utama di Pantai Ngrenehan.
Pantai Ngrenehan, terletak di Kabupaten Gunung Kidul, tidak hanya menawarkan pemandangan yang indah tetapi juga menyajikan makanan laut yang menjadi andalan. Dari berbagai hidangan laut segar seperti ikan bakar, cumi goreng, hingga udang saus tiram, kulinernya berusaha memberikan pengalaman yang lengkap kepada wisatawan. Namun, bagaimana sebenarnya kualitas dari makanan yang disajikan di pantai ini?
Sebuah penelitian mendalam dilakukan untuk menilai beberapa aspek dari kuliner di Pantai Ngrenehan, antara lain kualitas produk, kualitas makanan, penyajian, harga, bahan baku, dan metode pengolahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa kekurangan dalam penyajian kuliner di sini. Empat dari enam variabel yang dievaluasi memperlihatkan hasil yang tidak memuaskan, di mana para wisatawan meragukan kualitas dari makanan yang mereka konsumsi.
Misalnya, salah satu contoh yang mencolok adalah olahan cumi-cumi yang sering kali dimasak terlalu matang, sehingga teksturnya menjadi keras dan kurang dinikmati oleh konsumen. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya standar operasional prosedur (SOP) yang memadai dalam pengolahan makanan laut. Tidak hanya itu, banyak wisatawan merasa ekspektasi mereka tidak terwujud dengan baik ketika realita penyajian makanan yang mereka dapatkan berbeda dengan apa yang dipromosikan melalui media sosial.
"Meskipun promosi di media sosial berhasil menarik perhatian, namun ketika kenyataan tidak sesuai dengan yang diiklankan, ini tentu menjadi kekecewaan tersendiri bagi wisatawan," ungkap Muhammad Zumar Rahafuna, S.Par., M.Sc., Dosen Tetap di Program Studi S1 Pariwisata Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo.
Namun demikian, ada dua aspek yang diapresiasi oleh wisatawan, yakni harga dan varian olahan. Harga makanan laut di Pantai Ngrenehan relatif lebih terjangkau, dengan rata-rata pengeluaran sekitar Rp 25.000 per porsi. Variasi pengolahan makanan seperti bakar dan goreng juga dianggap cukup aman dan sesuai selera, sehingga memberikan kepuasan tersendiri bagi pengunjung.
Untuk meningkatkan kualitas kuliner di Pantai Ngrenehan dan menjadikannya salah satu destinasi unggulan dalam wisata kuliner bahari, penelitian ini menekankan pentingnya perbaikan dari hulu hingga hilir. Dari segi hulu, diperlukan penggunaan bahan baku yang berkualitas dan memastikan kebersihan serta higienitas penyimpanan makanan. Pada proses pemerosesan, penerapan teknik memasak yang baik dan benar menjadi kunci dalam menyajikan makanan dengan standar yang lebih baik.
Sedangkan di tahap hilir, penyajian harus didesain sedemikian rupa agar menarik dan menggugah selera, sementara harga yang kompetitif tetap dipertahankan. Upaya ini secara langsung akan mendukung perkembangan wisata di Gunung Kidul, baik dari segi ekonomi maupun kepuasan wisatawan. Dengan kualitas yang meningkat, bukan hanya kunjungan wisatawan yang bertambah, tetapi juga perekonomian daerah yang ikut terangkat.
Secara keseluruhan, evaluasi kuliner di Pantai Ngrenehan memberikan gambaran yang jelas akan apa yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan. Pengelola pantai dan pelaku usaha kuliner setempat harus dapat bekerja sama untuk menciptakan pengalaman wisata yang lebih baik dan berkualitas. Dengan berpegang pada prinsip manajemen pariwisata yang baik mulai dari perencanaan hingga evaluasi. Gunung Kidul dapat terus mengembangkan potensinya sebagai salah satu destinasi wisata terkemuka yang mampu bersaing di level nasional bahkan internasional.
Sebagai penutup, Muhammad Zumar Rahafuna menambahkan, "Dengan peningkatan kualitas kuliner, Pantai Ngrenehan memiliki potensi besar untuk menjadi pelopor wisata kuliner bahari berkualitas di Indonesia, yang dapat memberikan kesan tak terlupakan bagi para wisatawan."