JAKARTA – Berjalan kaki kerap dinilai sebagai opsi olahraga yang jauh lebih aman daripada berlari, terutama ketika temperatur udara sedang tinggi.
Walakin, sebuah riset teranyar justru mematahkan anggapan umum tersebut. Saat suhu lingkungan melonjak, berjalan kaki dalam jangka waktu lama berpotensi membuat tubuh menyerap panas dalam jumlah yang lebih masif ketimbang berlari dengan ritme kecepatan yang setara.
Informasi dari Men’s Journal yang dirilis pada Sabtu (25/7/2026) menyebutkan bahwa studi ini telah dimuat dalam European Journal of Applied Physiology.
Riset tersebut membuktikan bahwa lamanya durasi paparan panas menjadi faktor krusial yang memicu lonjakan suhu inti tubuh sekaligus memperbesar risiko hipertermia—sebuah fase di mana temperatur tubuh naik secara drastis di luar batas normal.
Dalam eksperimennya, para ahli membandingkan kondisi fisik para atlet yang melakukan jalan cepat (racewalking) serta berlari di area dengan suhu berkisar 30 derajat Celsius.
Data menunjukkan bahwa partisipan yang menempuh opsi jalan cepat mengalami kenaikan suhu inti tubuh yang lebih signifikan dibandingkan kelompok pelari, walaupun jarak tempuh dan kecepatan yang diterapkan sama.
Fenomena ini muncul lantaran pejalan kaki memerlukan durasi yang lebih panjang untuk mencapai garis finis. Dampaknya, tubuh mereka terpapar terik matahari dalam waktu yang lebih lama sembari terus memproduksi panas internal akibat pergerakan fisik.
Perpaduan antara radiasi panas dari lingkungan sekitar dan energi panas yang dihasilkan oleh organ tubuh membuat mekanisme pendinginan alami menjadi makin berat.
Kendati demikian, temuan ini bukan bermakna bahwa berlari selalu menjadi pilihan yang lebih aman. Olahraga lari sejatinya memicu produksi panas metabolik yang jauh lebih besar.
Hanya saja, apabila lari dilakukan dalam jangka waktu yang lebih singkat dan pada momentum cuaca yang lebih dingin, akumulasi total paparan panas yang diserap tubuh dapat ditekan seminimal mungkin.
Tim peneliti menyimpulkan bahwa penentuan waktu berolahraga memegang peranan yang jauh lebih vital dalam memicu gangguan kesehatan akibat cuaca panas dibandingkan dengan perdebatan memilih antara jalan kaki atau lari.
Berdasarkan pengamatan terhadap pola aktivitas penduduk di sejumlah kota besar, ketika suhu udara mulai menyengat, mayoritas masyarakat secara intuitif menggeser jadwal olahraga mereka ke waktu pagi atau sore hari.
Langkah adaptasi tersebut dipandang sebagai salah satu strategi paling efektif demi mereduksi dampak buruk cuaca panas bagi ketahanan tubuh.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) pun menyarankan publik agar menghindari aktivitas fisik yang menguras energi pada waktu-waktu terpanas, umumnya mulai menjelang siang hingga sore hari.
Di samping itu, tubuh wajib dipersiapkan lewat pemenuhan asupan cairan yang optimal sebelum mulai bergerak, serta wajib diselingi dengan masa rehat di area yang teduh atau ruangan yang sejuk.
Efek paparan panas yang melampaui batas waktu aman bisa mengakibatkan sistem tubuh kewalahan dalam menjaga stabilitas suhu normal. Kondisi ini dapat memicu fase kelelahan akut hingga hipertermia jika tidak diantisipasi sejak awal.
Para peneliti memberikan peringatan bahwa siapa saja yang beraktivitas di luar ruangan wajib membaca sinyal bahaya seperti pusing, mual, linglung, tubuh lemas mendadak, atau rasa lelah yang ekstrem.
Indikasi-indikasi tersebut merupakan alarm pertanda bahwa tubuh mulai kehilangan kendali untuk menyeimbangkan suhunya.
Selain cermat memilih waktu yang lebih sejuk, pemakaian baju yang enteng dan efektif menyerap keringat akan sangat menolong kelancaran proses pendinginan alami tubuh.
Jangka waktu olahraga pun sudah semestinya disesuaikan dengan situasi cuaca sekitar supaya paparan panas tidak berlangsung secara berlebihan.
Pihak peneliti kembali menegaskan bahwa memastikan kecukupan hidrasi—baik sebelum, selama, maupun sesudah berolahraga—adalah proteksi utama untuk menekan risiko gangguan kesehatan akibat sengatan panas.
Masalah dehidrasi akan menurunkan performa tubuh dalam menyalurkan panas lewat keringat, sehingga memicu suhu inti tubuh melonjak lebih cepat.
Oleh sebab itu, masyarakat diimbau untuk tidak langsung mengklaim bahwa jalan kaki secara otomatis jauh lebih aman dibandingkan berlari ketika cuaca sedang ekstrem.
Komponen yang jauh lebih krusial adalah kapan olahraga tersebut dilaksanakan, seberapa lama tubuh terpapar sinar matahari secara langsung, serta tingkat kesiapan tubuh dalam menjaga stabilitas cairan.
Melalui pemilihan waktu olahraga pada pagi atau sore hari, pembatasan durasi pergerakan, konsistensi hidrasi, serta kepekaan terhadap tanda awal kelelahan akibat panas, segala risiko gangguan kesehatan yang mengancam keselamatan tubuh dapat ditekan sekecil mungkin walau suhu lingkungan sedang menyengat.