Bukan Hanya Stunting, Ini Penyebab Anak Bertubuh Pendek

Kamis, 23 Juli 2026 | 06:07:02 WIB
Ilustrasi - Lambatnya pertumbuhan fisik anak dibanding teman sejawatnya. (Foto: NET)

JAKARTA - Lambatnya pertumbuhan fisik anak dibanding teman sejawatnya kerap kali langsung diartikan secara keliru sebagai dampak dari defisit nutrisi. 

Mayoritas orang tua serta sejumlah tenaga medis terburu-buru mengambil kesimpulan bahwa anak bertubuh pendek sudah pasti terkena stunting. Padahal, kondisi tubuh pendek dapat disebabkan oleh problem medis lain yang memerlukan metode penanganan yang sangat berbeda.

Dokter Spesialis Anak Subspesialis Endokrinologi di Rumah Sakit Pondok Indah, Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp. A, Subsp. End., FAAP, FRCPI (Hon.), mengingatkan warga agar tidak gegabah dalam memberikan label pada kondisi fisik anak.

"Karena penyebab pendek ini bukan hanya stunting ataupun nutrisi. Bisa kelainan hormon, yang dikaitkan kalau kelainan hormon kemungkinan ada masalah di otaknya," kata dr. Aman dalam acara bincang virtual pada Rabu (22/7/2026).

Sebagian warga terpantau masih salah kaprah dalam memahami definisi medis stunting secara menyeluruh. Cukup banyak anak yang mengalami hambatan pertumbuhan akibat persoalan endokrin malah divonis stunting hanya lantaran indikator tinggi fisiknya berada di bawah standar kurva.

"Banyak sekali dirujuk dengan saya stunting ternyata bukan ini. Karena kami definisinya itu asal pendek di bawah min dua dikatakan stunting," ungkap dr. Aman.

Menurut dia, pemberian label ini memicu kecemasan mendalam pada orang tua, terlebih karena adanya persepsi kolektif bahwa stunting dapat menurunkan tingkat kecerdasan anak. 

Definisi resmi dari lembaga kesehatan internasional menetapkan harus terdapat kondisi malnutrisi kronis sebelum seorang anak dikategorikan stunting. 

Anak yang bertubuh pendek akibat faktor kekurangan hormon sesungguhnya mempunyai kondisi fisik yang sehat jika dicermati secara saksama lewat garis kurva berat badannya.

"Stunting itu adalah pendek yang disebabkan malnutrisi kronik ataupun penyakit kronik. Kalau kurvanya itu yang turun lebih cepat tinggi badannya, ya pasti ini bukan stunting. Beratnya normal," ucap dr. Aman.

Dalam mendeteksi akar penyebab terhambatnya tinggi tubuh anak, pemeriksaan kurva sejak momen kelahiran sangatlah esensial. Setiap bayi pada umumnya terlahir membawa panjang badan normal berkisar 48 hingga 50 sentimeter. 

Apabila garis pertambahan tinggi badannya sedikit menurun kemudian bergerak mendatar secara stabil, kondisi tersebut adalah variasi pendek yang dipicu faktor genetik orang tua.

"Tapi kalau dia ternyata ini pendeknya karena kekurangan growth hormone, kurvanya ini akan turun dan bablas," terang dr. Aman.

Defisit hormon pertumbuhan ini bakal menghambat tumbuh kembang anak secara masif dalam jangka waktu panjang. Oleh sebab itu, orang tua diimbau disiplin mencatat arah garis di buku pemantauan dan tidak sekadar mengambil kesimpulan sepihak dari satu kali sesi pengukuran tinggi badan di klinik.

Tren kurva pertumbuhan tidak selalu memperlihatkan penurunan tinggi dan berat badan secara bersamaan. Ketika laju penambahan sentimeter tinggi anak mulai tertinggal, pengecekan kurva berat badan menjadi kunci awal untuk mendeteksi penyakit penyerta yang tersembunyi di dalam tubuh.

"Tapi kalau beratnya mulai turun, pastikan dulu ini anak sakit apa tidak. Kan belum tentu nutrisi," papar dr. Aman.

Anak yang tengah berjuang melawan infeksi jangka panjang akan memperlihatkan kemerosotan berat badan. Tenaga medis wajib menyingkirkan berbagai kemungkinan penyakit kronis tersebut sebelum menarik kesimpulan bahwa anak kekurangan makanan bergizi harian.

"Bisa TBC dia. Bisa sakit saluran kencing. Bisa ternyata diare berulang. Jadi ketika itu anak pendek, apalagi berat badannya duluan turun, pastikan ini anak ada sakit lain-lain apa tidak," ucap dr. Aman.

Kekhawatiran yang mendalam terhadap isu stunting kerap berujung pada tindakan pemberian porsi asupan tinggi kalori dan protein. Apabila fisiknya tidak kunjung bertambah, pemberian makan secara terus-menerus sangat tidak dianjurkan jika indeks massa tubuhnya berada di batas aman. 

Pendekatan nutrisi semacam itu tidak relevan diterapkan pada masa anak-anak bila akar persoalannya bersumber pada kelenjar endokrin. 

Memaksa anak mengonsumsi makanan secara berlebihan demi mengejar pertumbuhan fisik justru memicu problem baru, mulai dari obesitas hingga masa pubertas yang datang terlalu dini.

"Kami kasih susu tinggi kalori berlebihan, kami kasih protein berlebihan, bahaya nanti. Anak berat badan lahir rendah, dia pendek dan tidak kurus, dikasih tinggi kalori dia obesitas, pubertasnya jadi terganggu," terang dr. Aman.

Pemaksaan lauk tinggi protein dengan takaran berlebih juga berisiko merusak fungsi organ vital. Dokter tidak menyarankan orang tua menjejalkan protein secara membabi buta hanya karena terobsesi membuat postur anak menjadi lebih tinggi.

"Saya dapat pasien juga pengin tinggi, makan protein berlebihan sampai 400-500 gram per hari, makan steak dan lain-lain. Ginjalnya enggak kuat, terganggu ginjalnya," pungkas dr. Aman.

Terkini