Waspada, Ini 5 Dampak Buruk Konsumsi Protein Berlebihan

Kamis, 23 Juli 2026 | 06:04:01 WIB
Ilustrasi - Seseorang yang sedang Sembelit. (Foto: NET)

JAKARTA - Protein memegang peranan krusial dalam pembentukan serta pemeliharaan otot, memberikan efek kenyang, dan memperkuat sistem imunitas tubuh. 

Walakin, fokus yang berlebihan pada pemenuhan zat ini dapat mengakibatkan pola makan menjadi timpang dan memicu munculnya gejala tertentu pada tubuh. 

Belakangan ini, protein menjadi zat gizi yang paling marak diulas di bidang kesehatan dan kebugaran, ditandai dengan kian maraknya produk tinggi protein yang beredar di pasaran, seperti kudapan, sereal, minuman, hingga protein bar.

Akan tetapi, peningkatan konsumsi zat ini tidak selalu berbanding lurus dengan kesehatan. 

Ahli gizi mengingatkan bahwa diet tinggi protein kerap kali membuat seseorang secara tidak sadar memangkas asupan nutrisi esensial lainnya, termasuk serat, vitamin, mineral, dan karbohidrat yang berfungsi sebagai bahan bakar energi tubuh. 

Menurut pakar nutrisi diet terdaftar sekaligus pengembang resep, Mackenzie Burgess, walau protein memegang posisi sebagai "bintang makronutrien", anggapan bahwa jumlah yang lebih banyak pasti lebih baik tidaklah sepenuhnya keliru.

Berikut merupakan beberapa indikator yang memperlihatkan bahwa tubuh kemungkinan telah menerima asupan protein secara berlebih:

1. Sembelit Gejala kelancaran pencernaan yang terganggu ini dapat timbul apabila pola makan tinggi protein menyebabkan pengurangan konsumsi makanan yang kaya serat. 

Ahli gizi Talia Follador menjelaskan, banyak pola makan tinggi protein juga rendah serat karena buah, sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian digantikan dengan lebih banyak protein hewani. 

Padahal, serat memegang peran vital dalam merawat kesehatan sistem pencernaan. Oleh sebab itu, variasi protein nabati layaknya kacang-kacangan, lentil, serta biji-bijian utuh dapat dijadikan alternatif guna mendongkrak protein sekaligus mencukupi keperluan serat.

2. Peningkatan Frekuensi Buang Air Kecil Perubahan pada intensitas berkemih dapat menjadi indikasi berikutnya, terutama setelah terjadi lonjakan konsumsi protein yang drastis. 

Pakar diet terdaftar Johannah Katz memaparkan, asupan protein yang sangat tinggi meningkatkan urea dan limbah nitrogen lain yang harus dikeluarkan oleh ginjal. 

Fenomena ini memicu penambahan volume urine serta melonjakkan keperluan cairan tubuh. Maka dari itu, individu yang menambah porsi protein wajib mencermati kecukupan hidrasi pencernaan. Defisit cairan berisiko memicu rasa haus yang intens, keletihan, pusing, vertigo, hingga disorientasi.

3. Tubuh Terasa Lemas dan Cepat Lelah Zat protein memang krusial untuk memulihkan struktur otot. Kendati demikian, jika keberadaannya menggeser porsi karbohidrat terlalu banyak, tubuh akan kekurangan pasokan energi utama demi menunjang aktivitas harian. 

Ahli gizi terdaftar Sarah Anzlovar mengungkapkan, seseorang dapat merasa lelah atau mengalami penurunan performa saat berolahraga ketika protein menggantikan karbohidrat yang dibutuhkan tubuh. 

Mengingat karbohidrat ialah generator energi primer tubuh, khususnya saat berolahraga, pengaturan menu yang seimbang tetap mutlak diterapkan agar protein dapat mengoptimalkan pemulihan otot sementara karbohidrat bertugas memasok energi belanja harian.

4. Lonjakan Keinginan Mengonsumsi Makanan Manis Meski protein andal dalam memperpanjang rasa kenyang, konsumsi yang berlebih dengan memotong karbohidrat justru berpotensi memicu hasrat menyantap makanan manis. 

Follador menguraikan, orang yang berfokus meningkatkan protein sering kali tanpa sadar mengurangi konsumsi karbohidrat. Imbasnya, tubuh akan berburu pasokan energi instan yang manifestasinya muncul dalam wujud keinginan yang lebih agresif terhadap gula atau kudapan kaya karbohidrat.

5. Terjadinya Kenaikan Berat Badan Perlu diingat bahwa protein tetap memiliki kandungan kalori. Oleh karena itu, konsumsi yang melebihi batas wajar dapat memicu pertambahan bobot tubuh jika zat ini sekadar ditambahkan tanpa merestrukturisasi menu harian. 

Katz menegaskan, situasi ini rawan terjadi tatkala seseorang mengonsumsi minuman protein atau makanan tinggi protein sebagai komplemen di luar porsi makan reguler mereka. 

Solusinya, makanan kaya protein sebaiknya dijadikan substitusi bagi menu yang rendah protein, bukan sekadar diposisikan sebagai makanan tambahan.

Keseimbangan Protein yang Utama Protein tetap menjadi kebutuhan fundamental demi menopang kesehatan menyeluruh secara holistik. 

Namun, takaran ideal bagi tiap individu bervariasi bergantung pada pola aktivitas fisik serta status kesehatan masing-masing. 

Katz merujuk pada panduan diet di Amerika Serikat yang menyarankan kisaran umum sebesar 1,2 sampai 1,6 gram protein per kilogram berat badan setiap harinya bagi kalangan dewasa yang sehat.

Kendati begitu, kalkulasi ini dapat bergeser bagi individu yang kurang aktif bergerak, kelompok lanjut usia, maupun atlet yang intens melakukan latihan beban. 

Oleh karenanya, para ahli merekomendasikan untuk melakukan konsultasi bersama dokter atau praktisi diet demi memformulasikan takaran protein yang presisi. 

Konklusinya, prioritas terhadap pemenuhan protein jangan sampai mengeliminasi zat gizi esensial lainnya. Menu seimbang yang mengombinasikan protein, karbohidrat, serat, vitamin, serta mineral tetap menjadi fondasi utama dalam menjaga kesehatan tubuh.

Terkini