Pakar UGM Ungkap Penyebab Perempuan Lebih Rentan Kena Autoimun

Kamis, 23 Juli 2026 | 06:01:01 WIB
Perempuan memiliki kerentanan yang lebih tinggi terhadap penyakit autoimun dibandingkan laki-laki. (Foto: NET)

JAKARTA – Kerentanan perempuan terhadap penyakit autoimun terus meningkat setiap tahunnya, terutama pada masa usia reproduksi. Faktor hormonal disinyalir menjadi salah satu pemicu utamanya. 

Hormon estrogen yang dimiliki perempuan mempunyai pengaruh besar terhadap sistem imunitas tubuh, sehingga fluktuasi atau ketidakseimbangan hormon tersebut bisa memicu timbulnya autoimun. 

Kondisi ini juga tergolong sangat berbahaya dan dapat mengancam keselamatan jiwa bagi wanita hamil, sehingga sangat perlu diwaspadai oleh mereka yang tengah merencanakan kehamilan.

Pakar Reumatologi, Internis, dan Herbal dari FK-KMK UGM, Prof. Dr. dr. Nyoman Kertia, Sp.PD-KR, memaparkan bahwa penyakit autoimun terjadi karena adanya kekeliruan sel-sel pertahanan tubuh dalam membedakan antara sel tubuh sendiri dengan zat asing. 

Pada kondisi normal, sistem imun bertugas mendeteksi dan membasmi benda asing yang masuk ke tubuh, seperti bakteri, virus, parasit, atau zat berbahaya lainnya. Namun, saat sel imun keliru mengenali sel tubuh sendiri sebagai ancaman, sel-sel tersebut justru akan diserang. 

ampaknya, organ tubuh mana saja bisa menjadi sasaran serangan, mulai dari kulit, ginjal, paru-paru, hati, hingga organ vital lainnya, yang kemudian memicu penyakit autoimun.

“Jumlah penderita autoimun cukup besar. Kalau kami memperkirakan sekitar dua persen populasi orang dewasa mengalami autoimun, maka angkanya bisa mencapai sekitar empat juta orang di Indonesia,” ungkap Nyoman dilansir dari laman resmi UGM.

Menurut Nyoman Kertia, gejala penyakit autoimun pada sebagian individu kerap belum terlihat, tetapi pada tingkatan yang berat, penyakit ini dapat berakibat fatal hingga merenggut nyawa. 

Faktor genetik memang ikut memengaruhi autoimun, namun bukan berarti semua penderita pasti mempunyai riwayat keluarga yang sama. Selain faktor keturunan, faktor lingkungan seperti polusi udara, kebiasaan makan yang tidak sehat, serta tingkat stres juga turut andil.

“Banyak pasien autoimun berusaha memahami penyakitnya dengan mencari berbagai informasi, termasuk melalui internet. Sayangnya, informasi yang tidak dipahami dengan baik justru sering membuat mereka semakin cemas dan stres. Padahal, stres dapat memperburuk kondisi autoimun,” terangnya.

Stres menjadi salah satu faktor paling dominan yang memicu autoimun. Ia memaparkan bahwa potensi stres ini tidak hanya mengintai kelompok pekerja, melainkan juga kalangan mahasiswa akibat dari besarnya tekanan akademik.

“Saya memiliki banyak pasien mahasiswa, baik dari UGM maupun perguruan tinggi lain, yang mengalami autoimun. Awalnya mereka sehat, tetapi setelah menghadapi tekanan akademik dan berbagai beban hidup, penyakitnya muncul,” ungkapnya.

Fenomena ini membuktikan bahwa faktor psikologis memegang peran yang sangat dominan sebagai penyebab munculnya autoimun. 

Nyoman menjelaskan, penyakit autoimun ini dikelompokkan menjadi dua jenis. Pertama adalah autoimun spesifik organ, yakni penyakit yang hanya menyerang satu organ tertentu saja. Contohnya adalah gangguan pada kelenjar tiroid yang disebut Hashimoto. 

Walaupun hanya menyerang tiroid, dampak gejalanya bisa tergolong berat. Saat fungsi tiroid menurun, pasien bisa mengalami pertambahan berat badan, tubuh menjadi lemas, hingga mengganggu aktivitas harian. 

Contoh lainnya adalah serangan autoimun pada pankreas yang memicu diabetes melitus tipe 1 yang umumnya terdeteksi sejak usia muda, serta serangan pada ginjal maupun organ spesifik lainnya.

Kelompok kedua yaitu autoimun sistemik, sebuah kondisi di mana penyakit menyerang banyak organ tubuh sekaligus. 

Contoh yang paling populer adalah lupus, yang dapat merusak berbagai organ mulai dari kulit, persendian, ginjal, paru-paru, hingga bagian tubuh lainnya. 

Karena berdampak pada banyak organ, variasi gejalanya pun sangat beragam. Selain lupus, jenis autoimun sistemik lainnya meliputi rheumatoid arthritis, scleroderma, serta sejumlah penyakit rematik autoimun lainnya.

Penyakit autoimun sebenarnya bisa dialami oleh laki-laki, contohnya seperti ankylosing spondylitis. Namun secara umum, sekitar 80 persen dari total penderita autoimun adalah kaum perempuan, sementara laki-laki hanya sekitar 20 persen. 

Kasus ini pun lebih mendominasi pada perempuan usia muda lantaran pada fase usia tersebut sistem kekebalan tubuh mereka masih dalam kondisi yang sangat aktif.

Terdapat tiga hal utama yang wajib diperhatikan terkait faktor pemicu autoimun. Pemicu pertama adalah kelelahan. 

Kendati kondisi pasien telah berangsur membaik dan menunjukkan hasil pemeriksaan yang bagus, mereka harus tetap waspada dan sadar bahwa mereka mengidap penyakit autoimun. 

Oleh karena itu, batasan dalam aktivitas harian harus diterapkan, misalnya dengan menjaga durasi tidur dan tidak memaksakan diri bekerja melampaui batas kemampuan tubuh.

Faktor pemicu yang kedua adalah stres. “Ini memang tidak mudah dihindari, tetapi saya selalu mengatakan kepada pasien mulai sekarang jangan terlalu memikirkan penyakitmu. Serahkan urusan pengobatan kepada saya sebagai dokter,” katanya.

Sedangkan pemicu yang ketiga adalah paparan sinar matahari secara berlebihan. Hal ini bukan berarti penderita sama sekali dilarang terkena matahari, melainkan disarankan untuk menghindari sengatan yang berlebih. 

Apabila terpaksa beraktivitas di luar ruangan, pelindung seperti payung atau penggunaan tabir surya sangat dianjurkan.

“Menurut saya, tiga hal itulah yang paling penting, jangan terlalu lelah, jangan terlalu stres, dan hindari paparan sinar matahari yang berlebihan,” pesannya.

Ia menerangkan bahwa sampai saat ini belum ditemukan bukti ilmiah yang kuat mengenai korelasi makanan tertentu dengan autoimun, sebab setiap individu mempunyai faktor pemicu yang berbeda.

“Karena itu saya selalu menyarankan pasien untuk mengenali tubuhnya sendiri. Dalam bahasa Jawa saya sering mengatakan, dititeni. Artinya, perhatikan dan catat makanan apa yang dikonsumsi, lalu amati apakah setelah itu gejalanya kambuh atau tidak,” terangnya.

Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa tantangan terbesar dalam penanganan penyakit ini terletak pada proses pengobatan serta tingkat pemahaman pasien terhadap kondisi medisnya.

“Ada pasien yang merasa sudah sehat setelah minum obat, lalu menganggap penyakitnya sudah sembuh sehingga berhenti berobat. Sebaliknya, ada juga pasien yang justru mengalami depresi setelah mengetahui dirinya menderita autoimun dan merasa hidupnya tidak akan lama lagi. Kedua kondisi tersebut sama-sama menjadi tantangan dalam penanganan pasien,” terangnya.

Tantangan berikutnya berkaitan dengan penggunaan obat-obatan jenis imunosupresan. Obat ini berfungsi untuk menekan sistem imun agar berhenti menyerang organ tubuh sendiri. 

Namun di sisi lain, sistem imun sebenarnya dibutuhkan untuk membentengi tubuh dari serangan bakteri, virus, dan berbagai kuman.

“Menurut saya, pendekatan yang ideal bukan sekadar menekan sistem imun, melainkan mengembalikan sistem imun agar mampu mengenali mana yang merupakan bagian tubuh sendiri dan mana yang merupakan benda asing,” ungkap dr. Nyoman.

Kondisi tersebut yang memicu ketertarikannya untuk meracik obat herbal. Selama ini, terapi pemulihan autoimun didominasi oleh penggunaan obat kimia yang bekerja menekan sistem kekebalan tubuh. 

Meskipun obat-obatan itu dibutuhkan, efek samping yang ditimbulkan cukup beragam dan berpotensi memicu masalah kesehatan yang baru.

“Karena itulah saya tertarik mengembangkan penelitian mengenai obat herbal. Harapannya, di masa depan dapat ditemukan terapi yang mampu mengembalikan fungsi sistem imun menjadi normal, bukan hanya menekannya,” tuturnya.

Nyoman menegaskan hal terpenting yang perlu dilakukan adalah bagaimana cara menjalani kehidupan dengan perasaan yang tenang. Ia menyarankan agar apa pun pekerjaan yang ditekuni, sebaiknya dinikmati dengan baik.

“Ketika seseorang terus-menerus menjalani sesuatu yang tidak disukai, energinya akan terkuras dua kali. Pertama, untuk melawan perasaan tidak nyaman terhadap pekerjaannya, dan kedua untuk menyelesaikan pekerjaan itu sendiri,” tuturnya.

Kemudian bagi seseorang yang memiliki riwayat keturunan atau faktor genetik, langkah penanganan yang bisa diupayakan adalah dengan meminimalisasi faktor-faktor pemicunya.

“Prinsipnya tetap sama, yaitu menghindari stres berlebihan, tidak memaksakan diri hingga kelelahan, dan membatasi paparan sinar matahari yang berlebihan. Selain itu, tentu tetap menjalankan pola hidup sehat, seperti menghindari rokok, alkohol, dan menjaga lingkungan tetap bersih,” pungkasnya.

Terkini