Cegah Karhutla, Kemenhut Gelar Operasi Modifikasi Cuaca di Sumsel

Kamis, 23 Juli 2026 | 22:29:31 WIB
Kemenhut Gelar Operasi Modifikasi Cuaca Antisipasi Karhutla di Sumsel [FOTO: NET].

JAKARTA - Kementerian Kehutanan melaksanakan kegiatan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah Provinsi Sumatra Selatan, guna memperkuat langkah pencegahan terhadap eskalasi potensi terjadinya kebakaran hutan serta lahan (karhutla) sepanjang musim kemarau pada tahun ini.

Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan, Thomas Nifinluri, mengungkapkan bahwa penerapan OMC tersebut dilakukan mengingat kondisi iklim yang menuntut peningkatan tingkat kewaspadaan serta kesiapsiagaan secara optimal terhadap ancaman karhutla. 

Adanya fenomena El Nino memicu percepatan proses kekeringan secara meteorologis di pelbagai teritori Indonesia, tidak terkecuali di Sumatra Selatan (Sumsel), sehingga mendongkrak tingkat kerawanan munculnya kebakaran hutan dan lahan selama periode musim kemarau.

“Perubahan paradigma pengendalian karhutla yang kini berfokus pada pencegahan, salah satunya melalui intervensi modifikasi cuaca dengan memanfaatkan awan potensial untuk menginduksi hujan," katanya, Rabu (22/7/2026).

Thomas menjelaskan lebih lanjut bahwa tujuan utama pelaksanaan OMC ini adalah membasahi area lahan agar material mudah terbakar yang ada di lapangan tidak gampang tersulut api, mempertahankan ketinggian Muka Air Tanah (TMAT) pada lahan gambut supaya tetap berada di atas batas kritis, sekaligus mengisi cadangan air pada waduk, kanal, embung, serta kolam penampungan sebagai stok pengaman untuk operasi pemadaman di darat.

“Pelaksanaan OMC di Sumsel berlangsung selama 12 hari ke depan, terhitung mulai tanggal 19 Juli hingga 30 Juli 2026 mendatang yang berposko di Pangkalan Udara (Lanud) Sri Mulyono Herlambang, Palembang,” katanya.

BACA JUGA Karhutla Sumsel Meningkat, Begini Prioritas Penanganannya Pemadaman Karhutla Gambut di OKI Berlanjut, Tim Sisir Sisa Titik Api

Thomas memaparkan bahwa selama kurun waktu dua hari operasional OMC berjalan, telah sukses diterbangkan sebanyak tiga sortie penerbangan yang mencakup target wilayah penyemaian di kawasan Ogan Komering Ilir (OKI), Banyuasin, serta Palembang. Sasaran titik penyemaian tersebut ditentukan berdasarkan pantauan citra radar yang memperlihatkan masih adanya kantong-kantong pertumbuhan awan konvektif dengan potensi memadai untuk dilakukan tindakan penyemaian di area tersebut.

“Berdasarkan laporan pengamatan curah hujan dan overlay track penyemaian awan menunjukkan bahwa teridentifikasi adanya curah hujan di sekitar lokasi penyemaian OMC, terutama di wilayah OKI. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun secara umum kondisi cuaca di wilayah Sumatera Selatan relatif kering, namun potensi hujan masih ada di sekitar wilayah operasi penyemaian,” tutur Thomas.

Thomas menegaskan pula bahwa keberhasilan dari penyelenggaraan OMC ini mustahil dapat tercapai tanpa adanya dukungan kolaborasi serta sinergi yang solid di antara berbagai pihak lintas sektoral. Pihaknya menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya atas kerja sama erat yang terjalin bersama BMKG, jajaran TNI AU, BNPB, BPBD, serta segenap unsur Pemerintah Daerah Sumsel.

“Selama operasi berlangsung, penting untuk memperkuat sinergi dan komunikasi, utamakan keselamatan dengan mematuhi SOP keselamatan penerbangan dan penyemaian bahan, serta optimasi dan pemantauan dampak untuk memastikan target semai sesuai pada wilayah gambut yang rawan,” ujarnya.

Sebelum pelaksanaan di Sumsel ini, Kemenhut tercatat pernah menggelar program OMC serupa bekerja sama dengan pihak BMKG di wilayah Provinsi Riau pada bulan April lalu. 

Pada saat itu, operasi modifikasi cuaca terbukti sukses mendongkrak tingkat curah hujan hingga mencapai 26,42 persen apabila dikomparasikan dengan data historis sebelumnya, serta berhasil menekan kemunculan titik panas atau hotspot hingga nihil terdeteksi.

Terkini