JAKARTA – Musim kemarau kini mulai melanda wilayah Kota Samarinda. Penurunan curah hujan ini membuat warga setempat mulai bersiap menghadapi potensi tersendatnya pasokan air bersih, khususnya apabila fenomena intrusi air laut kembali melanda Sungai Mahakam dan mengacaukan pengolahan air baku oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).
Di kala kekhawatiran masyarakat mencuat, para pengemudi tangki air swasta justru mengeluhkan hilangnya masa panen pemesanan air seperti yang biasa mereka rasakan pada tahun-tahun terdahulu.
Kondisi mereka kian terjepit akibat melonjaknya tarif air baku, membengkaknya ongkos operasional, hingga menyusutnya jumlah pelanggan lantaran PDAM kini telah mengoperasikan armada distribusi airnya sendiri.
Yanto (65), seorang penyedia air tandon di Samarinda, memaparkan bahwa datangnya kemarau pada dasarnya tidak langsung memicu krisis air. Persoalan baru akan muncul apabila hujan absen dalam jangka waktu yang lama, sehingga berakibat pada merosotnya debit air Sungai Mahakam.
"Kalau air asin itu sebenarnya tidak ada kaitannya dengan kemarau. Yang jadi masalah bukan kemaraunya, tapi ketika hujan tidak turun dalam waktu lama, debit Sungai Mahakam berkurang sehingga air asin dari muara naik ke hulu," kata Yanto, Kamis (23/7/2026).
Ia menjelaskan, ketika fenomena masuknya air laut tersebut terjadi, fasilitas PDAM tidak akan sanggup mengolah air baku menjadi air konsumsi yang bersih.
"Kalau air asin sudah naik, PDAM tidak bisa memproduksi air. Jadi bukan karena kemarau langsung, tapi karena tidak ada dorongan air tawar dari Sungai Mahakam. Itu yang menyebabkan produksi terganggu," ujarnya.
Yanto menambahkan bahwa pemesanan air bersih via mobil tangki mayoritas berasal dari sektor perkotaan Samarinda. Di sisi lain, warga yang tinggal di kawasan pinggiran kota umumnya masih memakai sumur bor untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Bagi rumah tangga dengan tingkat pemakaian yang tinggi, pasokan satu tangki bervolume 5.000 liter biasanya hanya bertahan kurang lebih satu minggu sebelum mereka mengajukan pesanan baru.
Berkebalikan dengan asumsi yang beredar di masyarakat selama ini, periode kemarau nyatanya tidak lagi membawa berkah bagi para pengemudi tangki swasta. Yanto mengungkapkan bahwa lonjakan pesanan justru mengalir ke armada kepunyaan PDAM, bukan ke pihak swasta.
"Permintaan buat PDAM mungkin naik. Tapi buat kami, swasta, tidak juga," katanya.
Ia berpandangan bahwa situasi ini dipicu oleh langkah Perumdam yang sekarang sudah mengoperasikan armada pengangkut airnya sendiri.
"Dulu kami ini mitra PDAM. Sekarang rasanya sudah jadi saingan," ujarnya.
Apabila dahulu satu unit tangki swasta sanggup melayani hingga 10 konsumen dalam sehari, kini produktivitas mereka anjlok hampir setengahnya.
"Kalau dulu kami bisa mengantar ke 10 pelanggan, sekarang mungkin tinggal lima. Mau bertahan bagaimana?" katanya.
Beban yang harus dipikul para pengusaha pun kian mencekik setelah tarif pembelian air baku melonjak drastis hingga 100 persen. Yanto menyebutkan, harga air yang sebelumnya dipatok Rp 50.000 per tangki ukuran lima meter kubik kini melonjak jadi Rp 100.000.
"Naiknya 100 persen. Sementara harga jual ke masyarakat tidak bisa ikut naik dua kali lipat. Jadi keuntungan kami habis," ujarnya.
Untuk saat ini, pasokan air tersebut dipasarkan ke masyarakat dengan harga berkisar Rp 300.000 per tangki.
Namun, dari total pendapatan itu, sebesar Rp 100.000 mesti langsung dialokasikan untuk membeli air bakunya. Sisa uang yang ada masih harus dibagi lagi untuk menutup biaya pembelian solar, upah sopir, upah kenek, serta ongkos perawatan armada.
"Sekarang harga air sudah Rp 100.000 untuk satu tangki lima kubik. Itu baru harga airnya, belum solar, belum gaji sopir, belum kenek," katanya.
Imbasnya, keuntungan bersih yang tadinya bisa menyentuh angka Rp 100.000 untuk tiap rit perjalanan, kini terpangkas hingga hanya tersisa sekitar Rp 50.000, bahkan kerap kali habis tidak tersisa untuk menutupi ongkos operasional kendaraan.
"Jangan bicara untung. Buat makan saja sudah susah," ucap Yanto.
Kondisi pendapatan yang merosot secara berkala ini memaksa sebagian pelaku usaha di bidang tersebut mulai angkat tangan. Yanto menuturkan bahwa populasi pemilik mobil tangki swasta di wilayah Samarinda terus menyusut karena terbentur ketidakmampuan menutup ongkos harian kendaraan.
"Dulu yang punya mobil tangki banyak. Sekarang tinggal sedikit. Mungkin sebentar lagi habis. Kalau ada yang mau beli mobil saya, mungkin saya jual," katanya.
Ia menaruh harapan agar pihak PDAM bersedia memulihkan pola kerja sama yang lebih adil dan seimbang bagi para pengusaha tangki swasta.
"Dulu kami benar-benar mitra PDAM. Kalau mereka kesulitan, kami membantu distribusi air. Sekarang mereka sudah mandiri. Tidak perlu kami lagi," ujarnya.
Menurut penilaian Yanto, para pengemudi truk tangki swasta hanya mengharapkan adanya kebijakan yang berpihak kepada mereka, misalnya melalui pemberian tarif air khusus yang lebih murah bagi para mitra.
"Harusnya ada solusi. Misalnya kemitraan diperbaiki lagi atau harga air bagi mitra diringankan. Kami tidak minta subsidi. Hidup mati kami tanggung sendiri. Tapi paling tidak ada keberpihakan kepada mitra," katanya.
Ia menyatakan bahwa pengajuan saran tersebut sudah pernah dilayangkan secara resmi melalui surat kepada PDAM, akan tetapi belum mendapatkan respons atau tindak lanjut hingga detik ini.
Keluhan serupa turut dilontarkan oleh Ipul (65), yang juga berprofesi sebagai pengantar air tandon di Samarinda. Ia menilai ekspansi jumlah armada tangki yang dilakukan oleh PDAM kian mempersempit ruang gerak usaha swasta.
"Saya dengar kalau ada keluhan masyarakat, nanti malah ditambah unit lagi. Kalau unit ditambah, kami semakin habis. Dulu dengan jumlah unit yang sedikit kami masih bisa melayani. Sekarang unitnya sudah bertambah menjadi tujuh, padahal dulu hanya dua," katanya.
Ipul menambahkan bahwa ketimpangan modal biaya operasional menjadikan harga jual air yang dipatok oleh PDAM jauh lebih murah di pasaran.
"Kami menjual air Rp 300.000, sementara mereka bisa Rp 200.000. Bagi ibu-ibu rumah tangga tentu memilih yang Rp 200.000. Selisihnya terlalu jauh," ujarnya.
Bukan hanya itu, ia juga memberikan sorotan tajam pada sistem rekrutmen pengemudi truk tangki PDAM. Sistem tersebut dinilai belum memberikan ruang atau kesempatan kerja bagi para pengemudi swasta yang sebenarnya sudah mempunyai pengalaman kerja selama puluhan tahun di bidang ini.
"Kami di sini tidak pernah ditawari menjadi sopir. Yang diambil justru orang-orang dari mereka," katanya.
Ipul mengakui bahwa para pengemudi swasta sebenarnya memiliki keinginan untuk menyuarakan aspirasi mereka secara bersama-sama. Kendati demikian, mereka dibayangi ketakutan akan kehilangan sumber mata pencaharian utama mereka.
"Kami sebenarnya ingin kompak, tetapi sulit. Kalau melawan, ada potensi kehilangan pekerjaan. Potensi itu pasti ada," ujarnya.