JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan bahwa kehadiran bank emas atau bullion bank mampu menjamin ketersediaan pasokan bahan baku bagi sektor industri perhiasan di tanah air.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin Reni Yanita saat ditemui di Jakarta, Kamis menjelaskan bahwa sektor industri perhiasan memerlukan akses bahan baku yang jauh lebih pasti, baik dalam aspek volume maupun mutu.
Kehadiran bank emas diharapkan dapat menjadi solusi yang memberikan garansi ketersediaan bahan baku dari sisi kuantitas dan kualitas.
"Manfaatnya sebenarnya itu jaminan akan bahan baku yang secara kuantitas dan kualitas aman," ungkap Reni.
Reni Yanita menilai bahwa kepastian ketersediaan bahan baku ini bakal mendongkrak daya saing sektor industri perhiasan, khususnya bagi para pelaku bisnis yang menyasar pasar ekspor.
Hal tersebut dikarenakan proses transaksi ekspor perhiasan kerap kali diselesaikan menggunakan instrumen emas atau logam mulia, tidak melulu dalam bentuk mata uang.
Reni Yanita mengimbuhkan, jika pemenuhan keperluan bahan baku tersebut mampu disuplai dari pasar domestik, sektor industri perhiasan bakal mendulang banyak profit, mulai dari penghematan ongkos operasional hingga efisiensi waktu pengerjaan produksi.
"Kalau logam mulianya-nya, bahan bakunya bisa didapat di dalam negeri, otomatis kan lebih murah, lebih terjamin, dan dari waktu lebih cepat," tuturnya.
Berdasarkan catatan Kemenperin, performa industri perhiasan di dalam negeri terus memperlihatkan grafik yang kian impresif. Sepanjang periode Januari–Desember 2025, angka ekspor komoditas perhiasan serta barang berharga menyentuh 9,1 miliar dolar AS.
Angka tersebut melesat sebesar 64,73 persen jika dikomparasikan dengan raihan tahun 2024 yang bertengger di angka 5,5 billion dolar AS.
Di samping itu, merujuk data dari World Gold Council, level permintaan emas batangan di kancah global terus merangkak naik hingga menyentuh 1.402 ton pada tahun 2025, alias melambung 16 persen dari tahun sebelumnya yang berada di angka 1.208 ton.
Di tempat terpisah, Presiden Prabowo Subianto melayangkan apresiasi terhadap performa layanan bank emas nasional atau bullion bank yang sukses menghimpun dan mengelola 153 ton emas. Nilai kelolaan tersebut diproyeksikan menembus 20 miliar dolar AS sejak pertama kali beroperasi pada tahun 2025.
Kepala Negara sewaktu memimpin agenda Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (20/7), memaparkan bahwa ada banyak capaian positif yang berhasil diwujudkan selama kurun waktu 20 bulan masa pemerintahannya.
Salah satu pencapaian yang menonjol adalah pembentukan fasilitas layanan bank emas yang diarsiteki oleh Pegadaian bersama Bank Syariah Indonesia (BSI).
"Untuk pertama kali dalam sejarah Republik Indonesia, Indonesia punya bank emas, bullion, yang sekarang sudah mengelola 153 ton emas," kata Prabowo.