BISNISINSIGHT.COM — Keputusan ini mengubah struktur permodalan Summit Oto Finance secara signifikan. Perseroan menerbitkan 3.150.535 saham baru seri A dan seri B dengan nilai nominal total mencapai Rp1,575 triliun. Saham tersebut dialokasikan kepada SMMA, SMBCI, dan SAG—para pemegang saham Oto Multiartha yang melebur.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah memberikan persetujuan atas rencana penggabungan ini. Seluruh hak dan kewajiban Oto Multiartha beralih kepada Summit Oto Finance sebagai entitas yang menerima penggabungan.
Penerbitan Saham Tambahan untuk Aturan Kepemilikan Asing
Selain penerbitan saham utama, perseroan turut mengeluarkan 9.934 saham baru senilai Rp9,934 miliar yang seluruhnya diambil oleh SMMA. Langkah ini dimaksudkan untuk memenuhi batas maksimal kepemilikan asing sebesar 85 persen dari modal disetor, sebagaimana diatur dalam POJK 47/2020.
Dengan injeksi modal segar ini, perusahaan pembiayaan tersebut diharapkan memiliki likuiditas yang lebih kuat untuk menggarap pasar kendaraan bermotor dan alat berat. Manajemen menyatakan merger ini memberikan dampak positif terhadap kegiatan operasional dan kondisi keuangan perseroan melalui peningkatan sinergi usaha.
Perombakan Jajaran Komisaris dan Direksi
Restrukturisasi korporasi ini berjalan seiring dengan perubahan susunan pengurus. Yosuke Unigame resmi melepas posisi Presiden Komisaris, digantikan oleh Keishi Iwamoto. Posisi Komisaris kini diisi Takanori Otsuka, sementara kursi Komisaris Independen ditempati Muliawan Gunadi Kartarahardja.
Di jajaran direksi, Rusna kembali dipercaya memimpin sebagai Presiden Direktur. Ia didampingi Kenji Okada, Yanuar Pribadi, dan Kemaludin Fajar sebagai direktur. Adapun Nobuhiroo Moro, Toshiyuki Mitsui, dan Pieter Maruli Panjaitan diangkat sebagai direktur baru dalam struktur organisasi hasil merger.
Arti Penting Merger bagi Industri Pembiayaan
Langkah penggabungan ini menjadi bagian dari konsolidasi di sektor multifinance yang tengah menghadapi tekanan biaya dana dan kompetisi ketat. Dengan penggabungan entitas, perusahaan dapat menggabungkan jaringan cabang, memperluas basis nasabah, serta memangkas biaya operasional ganda.
Manajemen menegaskan bahwa merger tidak berdampak negatif secara material terhadap kelangsungan usaha. Sebaliknya, struktur permodalan yang lebih besar memberikan ruang fiskal bagi perseroan untuk mempercepat ekspansi pembiayaan di tengah permintaan kredit konsumer yang masih tumbuh.
Keputusan korporasi ini sekaligus mempertegas peta persaingan industri pembiayaan Indonesia, di mana pemain dengan skala modal besar semakin diuntungkan untuk bertahan dalam siklus bisnis yang fluktuatif.