IHSG Berpotensi Terkoreksi Usai Menguat 1,14%, Asing Catat Net Buy Rp1,76 Triliun

IHSG Berpotensi Terkoreksi Usai Menguat 1,14%, Asing Catat Net Buy Rp1,76 Triliun

BISNISINSIGHT.COM — Arus modal asing deras mengalir ke pasar saham domestik pada perdagangan Selasa (1/9). Data mencatat net buy asing mencapai Rp1,76 triliun, dengan pembelian terbesar terkonsentrasi di saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN).

Reli yang terjadi sehari sebelumnya membuat valuasi sejumlah saham menjadi kurang menarik. Kondisi ini membuka peluang terjadinya koreksi teknikal atau aksi ambil untung dalam jangka pendek.

Proyeksi Pergerakan IHSG dan Saham Pilihan Analis

Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, menyampaikan bahwa laju IHSG hari ini berpotensi mengalami koreksi wajar. Ia memperkirakan indeks akan menemukan support di kisaran 6.540 hingga 6.570, sementara resistance terdekat berada di area 6.620-6.700.

Level support tersebut menjadi area krusial yang perlu dicermati investor. Jika IHSG bertahan di atasnya, tekanan jual dipandang masih terkendali dan potensi penguatan kembali terbuka.

Rekomendasi untuk INDY dan Saham Lainnya

Fanny turut memberikan pandangan untuk sejumlah saham pilihan, termasuk PT Indo Tambangraya Megah Tbk (INDY). Untuk emiten batu bara ini, BNI Sekuritas memberi rekomendasi speculative buy dengan area pembelian di rentang Rp2.730 hingga Rp2.770, serta level cut loss di bawah Rp2.730. Adapun target harga terdekat berada di kisaran Rp2.790-Rp2.830.

Selain INDY, saham-saham lain yang masuk dalam radar analis adalah PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR), PT Rukun Raharja Tbk (RAJA), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT J Resources Asia Pasifik Tbk (JARR), dan PT Surya Quantum (SQMI). Pergerakan saham-saham tersebut akan dipengaruhi oleh sentimen pasar dan arah IHSG secara keseluruhan.

Momentum Asing di Pasar Modal

Masuknya dana asing yang besar dalam satu hari perdagangan menunjukkan minat investor global terhadap aset berisiko Indonesia masih tinggi. Hal ini didukung fundamental ekonomi domestik yang relatif stabil di tengah ketidakpastian global.

Kendati demikian, investor ritel disarankan tetap mencermati pergerakan harga dan menerapkan disiplin dalam melakukan cut loss, terutama pada saham yang telah naik tajam dalam beberapa hari terakhir. Koreksi wajar hari ini justru bisa menjadi peluang bagi investor yang belum memiliki posisi untuk masuk pada level harga yang lebih baik, selama support utama IHSG tidak ditembus signifikan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index