Pendapatan Blue Bird Tumbuh 11,3% Menjadi Rp2,97 Triliun

Pendapatan Blue Bird Tumbuh 11,3% Menjadi Rp2,97 Triliun
Sejumlah taksi Blue Bird menunggu penumpang [FOTO: NET].

JAKARTA - Emiten layanan transportasi taksi yang berada di bawah naungan keluarga Djokosoetono, yakni PT Blue Bird Tbk. (BIRD) sukses membukukan perolehan pendapatan sebesar Rp2,97 triliun, yang mencatatkan tingkat pertumbuhan sebesar 11,3% secara tahunan (year on year/yoy) apabila dikomparasikan dengan perolehan pada periode serupa tahun sebelumnya.

Merujuk pada catatan laporan keuangan resmi milik perseroan, capaian pertumbuhan perolehan pendapatan tersebut turut memicu terealisasikannya perolehan EBITDA sebesar Rp714 miliar serta laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp320,56 miliar hingga penghujung akhir bulan Juni 2026.

Kendati pihak perseroan masih sanggup mencatatkan perolehan laba bersih yang solid, besaran angka tersebut terpantau mengalami koreksi penurunan sekitar 4,44% secara tahunan jika dibandingkan dengan perolehan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk pada paruh semester I/2025 yang kala itu tercatat sebesar Rp335,44 miliar.

Direktur Utama PT Blue Bird Tbk. Andre Djokosoetono menyampaikan Kontribusi terbesar pendapatan Bluebird masih berasal dari segmen layanan taksi yang menyumbang sekitar 69% dari total pendapatan.

"Segmen ini mencatatkan pertumbuhan 11,4% yoy, didorong oleh peningkatan produktivitas armada dan membaiknya kinerja operasional di berbagai wilayah," ujarnya dalam keterangan tertulis dikutip, Rabu (5/8/2026).

Sementara itu, lini segmen bisnis non taksi yang mencakup layanan shuttle, rental kendaraan sewa, armada bus, serta ragam layanan mobilitas penunjang lainnya menyumbangkan kontribusi sekitar 31% dari total keseluruhan pendapatan perusahaan.

Keberhasilan pertumbuhan roda bisnis ini turut disokong oleh optimalisasi pemanfaatan kanal digital yang kian memperluas aksesibilitas para pelanggan terhadap berbagai ekosistem layanan dari Bluebird Group.

Di antara sekian banyak lini lini usaha non taksi yang ada, layanan shuttle melalui merek Cititrans muncul sebagai segmen bisnis dengan laju pertumbuhan paling cepat sepanjang paruh pertama tahun berjalan ini.

Kinerja positif tersebut didukung oleh peningkatan ketersediaan armada, optimalisasi rute perjalanan, serta tingginya mobilitas masyarakat selama periode libur sekolah.

Pada saat yang sama, bisnis bus melalui Bigbird tetap mencatatkan performa solid berkat tingginya permintaan dari segmen korporasi dan perjalanan rombongan. Adapun bisnis rental kendaraan terus tumbuh seiring stabilnya kebutuhan pelanggan korporasi.

Selain terus aktif mengembangkan cakupan layanan mobilitas, Bluebird juga secara konsisten mengoptimalkan pengelolaan siklus hidup armadanya. Pihak perseroan memanfaatkan peluang komersial dari penjualan kendaraan eks-operasional yang telah direkondisi sesuai dengan standar baku operasional Bluebird.

Strategi tersebut dinilai tidak sekadar membantu mengoptimalkan nilai aset perusahaan semata, melainkan turut menjawab tingginya tingkat permintaan pasar terhadap ketersediaan kendaraan bekas yang berkualitas prima. Langkah strategis ini dipandang sebagai elemen krusial dalam menjaga tingkat efisiensi serta keberlangsungan bisnis perseroan ke depan.

Memasuki paruh paruh kedua tahun 2026 ini, jajaran pihak manajemen menyatakan rasa optimisknya bahwa prospek iklim bisnis perusahaan akan senantiasa terjaga dengan baik.

Perseroan merencanakan agenda penguatan portofolio layanan, peningkatan produktivitas armada, serta menjalankan operasional secara disiplin untuk menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan.

"Pada paruh kedua tahun ini, kami akan terus memperkuat portofolio dengan layanan baru, meningkatkan produktivitas armada, serta menjalankan operasional secara disiplin agar dapat terus menghadirkan layanan yang relevan dengan kebutuhan pelanggan," terangnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index