JAKARTA - Penguatan nilai tukar rupiah diproyeksikan bakal terjadi seiring dengan mulai kondusifnya situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah (Timteng), menurut perkiraan analis Doo Financial Futures Lukman Leong.
“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS (Amerika Serikat) di tengah meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, menyusul penghentian aksi saling serang antara AS dan Iran,” katanya di Jakarta, Senin (27/7/2026).
Berdasarkan laporan Anadolu, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran mulai menunjukkan jeda tanpa adanya serangan lanjutan selama dua malam terakhir.
Di sisi lain, Qatar dan Pakistan terus mengupayakan mediasi secara intensif demi mendorong penurunan skala konflik antara Teheran dan Washington.
Merujuk pada Komando Pusat AS (CENTCOM), jeda ketegangan ini terwujud setelah rangkaian gempuran Amerika Serikat selama hampir dua pekan yang menyasar berbagai fasilitas strategis Iran, mulai dari infrastruktur militer, sistem pemantauan pantai, pangkalan rudal dan pesawat nirawak, armada laut, hingga pusat logistik mereka.
Informasi dari otoritas pemerintah Pakistan kepada Anadolu menyebutkan bahwa pihak Islamabad bersama Doha saat ini sedang mempercepat distribusi pesan komunikasi di antara Amerika Serikat dan Iran.
Tindakan tersebut diambil setelah AS dan Iran memberikan respons atas draf formula kesepakatan bersama dari pihak penengah guna menyudahi ketegangan yang telah bergulir dalam beberapa bulan terakhir.
Juru bicara militer Iran Amir Mohammad Akraminia mengatakan strategi Teheran didasarkan pada prinsip "penangkalan melalui pembalasan", sehingga respons militer Iran bergantung pada tindakan Amerika Serikat.
Kendati demikian, Lukman menilai bahwa ruang penguatan bagi mata uang garuda masih akan tertahan.
Hal ini dikarenakan pelaku pasar cenderung bersikap wait and see menanti publikasi rangkaian data ekonomi krusial dari AS, termasuk Produk Domestik Buto (PDB) serta tingkat inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE).
“PDB AS diperkirakan tumbuh 2,3 persen quartal on quartal (QoQ), sedangkan inflasi PCE inti naik 0,1 persen (QoQ),” katanya.
Bukan hanya itu, perhatian pasar global juga tertuju pada rapat Federal Open Market Committee (FOMC) mendatang, yang diprediksi akan menyoroti lonjakan harga minyak mentah global akhir-akhir ini serta kecemasan terhadap munculnya kembali risiko inflasi.
Mengacu pada sejumlah sentimen tersebut, pergerakan nilai tukar rupiah diestimasi akan berada pada kisaran level Rp17.900 hingga Rp18.000 per dolar AS.