JAKARTA - Memiliki kulit yang halus tanpa rambut kerap menjadi impian dalam perawatan tubuh, sehingga metode waxing dan laser hair removal sering kali menjadi pilihan utama.
Kedua cara ini dinilai mampu memberikan hasil yang lebih awet jika dibandingkan dengan mencukur konvensional.
Meski demikian, jangka waktu kehalusan kulit, tingkat rasa sakit, hingga anggaran yang perlu disiapkan untuk kedua perawatan ini memiliki perbedaan yang cukup signifikan.
Terkait efektivitasnya, laser hair removal bekerja memanfaatkan energi cahaya yang diarahkan pada melanin atau pigmen di batang serta folikel rambut.
Energi tersebut nantinya berubah menjadi panas yang merusak folikel, yaitu bagian yang bertanggung jawab atas pertumbuhan rambut.
Dokter kulit Kseniya Kobets memaparkan bahwa metode laser ini lebih tepat didefinisikan sebagai pengurangan rambut secara jangka panjang, bukan penghilangan yang sepenuhnya permanen.
“Laser hair removal menggunakan energi cahaya untuk menargetkan pigmen atau melanin pada batang dan folikel rambut. Cahaya tersebut berubah menjadi panas di akar folikel dan mencederai bagian folikel yang bertanggung jawab atas pertumbuhan kembali,” ujar Kobets.
Setelah merampungkan rangkaian sesi perawatan, intensitas pertumbuhan rambut umumnya akan berkurang dan rambut yang tumbuh kembali bakal bertekstur lebih tipis. Kendati begitu, perawatan berkala untuk pemeliharaan masih tetap dibutuhkan akibat pengaruh hormon serta genetik.
Di sisi lain, mekanisme waxing dilakukan dengan mengoleskan lilin hangat atau dingin pada permukaan kulit, yang kemudian ditarik agar rambut tercabut sampai ke akarnya.
Emily Perbellini selaku perawat senior mengungkapkan bahwa cara ini seketika membuat kulit terasa mulus lantaran rambut terangkat dari bawah permukaan kulit.
“Waxing menghilangkan rambut di bawah permukaan kulit sehingga hasilnya bertahan lebih lama, tetapi folikel tetap aktif. Rambut akan terus tumbuh kembali,” kata Perbellini.
Pada umumnya, kehalusan kulit dari hasil waxing berkisar antara tiga hingga enam minggu sebelum rambut kembali tumbuh mengikuti siklus alami masing-masing individu.
Kedua metode ini juga memiliki kecocokan yang berbeda pada jenis kulit dan rambut. Secara tradisional, teknologi laser bekerja paling optimal pada kulit yang cenderung terang dengan rambut berwarna gelap karena target utamanya adalah pigmen rambut.
Namun, saat ini sudah ada varian laser khusus yang aman bagi warna kulit yang lebih gelap, asalkan dilakukan dengan pengaturan yang tepat oleh tenaga ahli.
Dokter kulit Mona Gohara menegaskan bahwa pemilihan jenis perangkat dan akurasi pengaturan laser merupakan aspek krusial guna menekan risiko terjadinya luka bakar atau perubahan warna pada kulit.
Sementara itu, waxing cenderung lebih fleksibel karena dapat diaplikasikan pada semua warna kulit dan jenis rambut.
Namun, bagi pemilik kulit yang sangat sensitif, pengidap eksim, psoriasis, jerawat aktif, atau mereka yang sedang menggunakan produk retinoid wajib ekstra waspada karena berisiko memicu iritasi berat hingga pengelupasan kulit.
Dari segi anggaran, waxing menawarkan biaya yang lebih terjangkau untuk setiap kali kedatangan, tetapi total pengeluaran akan terus menumpuk karena tindakan ini wajib diulang secara berkala.
Kebalikannya, terapi laser menuntut biaya yang cukup besar di awal sesi perawatan, terutama bila dikerjakan oleh profesional.
Walau demikian, dokter kulit Kseniya Kobets menilai investasi laser bisa menjadi lebih hemat untuk jangka panjang bagi individu yang memang berniat mengurangi kepadatan rambut sekaligus memangkas rutinitas perawatan.
Kesimpulannya, waxing merupakan opsi yang tepat apabila Anda mendambakan hasil yang instan dengan modal awal yang minim.
Sebaliknya, bagi Anda yang memprioritaskan kulit mulus dalam jangka waktu yang jauh lebih lama dan siap berkomitmen mengikuti beberapa rangkaian sesi perawatan, laser hair removal adalah solusi yang lebih unggul.