JAKARTA - Kepala Badan Komunikasi (Ka Bakom) Pemerintah RI Muhammad Qodari menyampaikan bahwa pembangunan proyek ladang gas (LNG) raksasa di Cekungan Abadi, Blok Masela, Maluku, menjadi investasi strategis bagi masa depan Indonesia.
Menurut Qodari, pengerjaan Blok Masela yang sudah dimulai dengan peletakan batu pertama (groundbreaking) pada pekan lalu menjadi bukti nyata dari upaya pemerintah dalam memperkokoh ketahanan energi di tingkat nasional.
"Blok Masela adalah investasi strategis untuk masa depan Indonesia. Ini adalah langkah nyata pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus membangun fondasi menuju swasembada energi. Ketahanan energi bukan hanya soal memiliki sumber daya alam yang melimpah, yang lebih penting adalah memastikan masyarakat dan dunia usaha memiliki pasokan energi yang andal, berkelanjutan, dan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang," ujar Muhammad Qodari melalui siaran resmi Bakom RI yang dikonfirmasi di Jakarta, Selasa (21/7/2026).
Qodari memaparkan bahwa Blok Masela merupakan salah satu wilayah cadangan gas terbesar di tanah air yang menyimpan potensi hingga 18,54 triliun kaki kubik gas. "Nantinya, proyek ini diproyeksikan menghasilkan sekitar 9,5 juta ton gas alam cair setiap tahun," jelas Qodari.
Qodari menambahkan bahwa hasil produksi gas tersebut bakal menjadi pilar utama untuk mencukupi kebutuhan energi domestik.
Menurutnya, kepastian pasokan energi akan memberikan ruang bagi dunia usaha untuk terus tumbuh, menekan biaya produksi agar lebih efisien, serta memperkuat pelaksanaan proyek hilirisasi di bermacam-macam sektor industri.
Kendati demikian, Qodari menggarisbawahi bahwa dampak positif dari proyek Blok Masela ini tidak cuma menyasar sektor energi semata.
"Proyek ini akan menjadi penggerak ekonomi, khususnya di kawasan Indonesia Timur. Kehadirannya akan mendorong investasi baru, meningkatkan penerimaan negara, mempercepat pembangunan infrastruktur, serta memperluas kesempatan bagi masyarakat lokal untuk meningkatkan keterampilan, dan mengambil bagian dalam berbagai aktivitas ekonomi yang tumbuh di sekitar proyek," kata Qodari.
Berdasarkan data dari Kementerian ESDM, total investasi untuk proyek Blok Masela menyentuh angka sekitar 20,9 miliar dolar AS atau setara Rp352 triliun.
Di sisi lain, proyek strategis nasional ini diproyeksikan mampu menyumbang pendapatan langsung bagi negara sekitar 37,8 miliar dolar AS, serta tambahan potensi pajak tidak langsung sebesar 6,43 miliar dolar AS.
Mengenai penyerapan lapangan kerja, proyek Blok Masela diestimasi dapat merekrut hingga 12.000 pekerja langsung pada fase konstruksi. Selanjutnya, ketika proyek sudah mulai berjalan dan beroperasi, ada sekitar 800 hingga 1.000 tenaga kerja yang akan terserap.
"Pemerintah memastikan semua tenaga kerja yang terlibat diutamakan dari warga lokal. Kesempatan ini diharapkan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat, khususnya warga di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, dan wilayah Indonesia Timur secara umum," pungkas Qodari.