JAKARTA — Danantara Indonesia bersama Badan Pengaturan (BP) BUMN terus mematangkan langkah restrukturisasi serta pembenahan kondisi keuangan BUMN Karya sebelum mengeksekusi merger pada kuartal IV/2026.
Mundurnya tenggat merger dari target awal Juni 2026 disebabkan oleh kompleksnya penataan ulang beban utang, serta perbaikan internal yang tengah dilakukan masing-masing perusahaan konstruksi pelat merah.
Penyehatan struktur modal dan arus kas menjadi syarat mutlak sebelum pemerintah mengonsolidasikan tujuh BUMN Karya menjadi tiga entitas utama.
Chief Operating Officer (COO) Danantara sekaligus Kepala BP BUMN Dony Oskaria menjelaskan fokus pembenahan mencakup penuntasan restrukturisasi kewajiban, memperkuat arus kas, serta menekan beban bunga operasional yang dialami para emiten konstruksi, yakni WIKA, WSKT, PTPP, dan ADHI.
“BUMN Karya awalnya kan Juni, yang kemungkinan nanti akan digeser menjadi kuartal keempat karena memang masih banyak restrukturisasi yang harus diselesaikannya,” ujar Dony saat ditemui di Jakarta beberapa waktu lalu.
Dalam proses transisinya, Danantara telah menggelar koordinasi bersama jajaran Direksi Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) serta manajemen BUMN Karya.
Pada awal Juli, Danantara bersama Bank Mandiri, BRI, dan BNI merumuskan skema dukungan pendanaan untuk mendukung penyehatan PTPP dan ADHI. Adapun pembiayaan diarahkan khusus pada proyek-proyek produktif.
Di sisi lain, arah transformasi spesifik disiapkan untuk PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT). Dalam evaluasi bersama manajemen WSKT pada pekan lalu, Danantara mendorong WSKT untuk menggeser fokus bisnisnya ke sektor pengoperasian jalan tol guna memperkuat kinerja keuangan.
Fondasi penajaman fokus bisnis WSKT ditopang oleh penguasaan portofolio infrastruktur melalui PT Waskita Toll Road (WTR) yang mengendalikan enam entitas pengelola ruas tol strategis di Jawa, Sumatra, dan Kalimantan.
“Waskita jadi perusahaan tol kedua setelah Jasa Marga, itu tidak apa-apa asal dihitung dengan benar,” ujar Dony dalam keterangan tertulisnya.
Langkah penyehatan tersebut berjalan seiring dengan perbaikan kinerja operasional WSKT yang berhasil menekan rugi bersih sebesar 16,96% secara tahunan menjadi Rp1,91 triliun pada semester I/2026.
Danantara optimistis perbaikan model bisnis, peningkatan tata kelola, dan penyelesaian kewajiban keuangan di setiap entitas kontraktor pelat merah akan memperkokoh fondasi BUMN Karya sebelum terkonsolidasi pada akhir tahun ini.