JAKARTA — Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, memproyeksikan keseluruhan luas panen padi di daerah tersebut menyentuh 3.125 hektare sepanjang Juli 2026, guna memperkuat stabilitas pangan warga setempat.
Kepala Bidang Sarana dan Pengembangan Usaha Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan DPP Kulon Progo Wazan Mudzakir di Kulon Progo, Senin, menyampaikan bahwa volume itu didapatkan dari akumulasi prediksi area panen di 12 kapanewon (kecamatan) se-Kulon Progo sejak awal hingga akhir Juli.
"Berdasarkan data kami, luasan panen padi tersebar di seluruh wilayah dengan kontribusi terbesar berada di Kapanewon Wates dengan estimasi 713 hektare, diikuti Temon sebanyak 572 hektare, dan Nanggulan sebesar 417 hektare," kata Wazan Mudzakir.
Bukan hanya ketiga kawasan itu, persebaran panen padi juga berlangsung di Kapanewon Pengasih (374 hektare), Sentolo (214 hektare), Kalibawang (178 hektare), Samigaluh (163 hektare), Girimulyo (101 hektare), Lendah (94 hektare), Kokap (59 hektare), Panjatan (232 hektare), serta Galur (7 hektare).
Di samping sektor padi, DPP Kulon Progo turut menghimpun hasil yang memuaskan pada sektor hortikultura dalam jangka waktu yang serupa.
Tanaman cabai keriting menjadi salah satu pasokan dominan dengan luas panen rampung menyentuh 241,1 hektare (hasil 1.144,9 ton), dan luas panen tersisa sebesar 354,82 hektare (hasil 2.611,8 ton).
Di sisi lain, tanaman bawang merah mengukuhkan luas panen 61,4 hektare dengan keseluruhan hasil sebanyak 665,7 ton.
Selain jenis komoditas utama tadi, para petani di Kulon Progo pun memetik beraneka ragam sayur serta buah, mencakup sawi (19,5 hektare), kangkung (24,5 hektare), bayam (13,16 hektare), melon (17 hektare), dan semangka (7 hektare).
Wazan menuturkan bahwa di tengah hambatan cuaca ekstrem yang kini melanda, dinasnya terus menjalankan pengawasan intensif terhadap perkembangan budi daya di area persawahan.
"Kami berharap semua pihak bersinergi untuk mengawal dan mengupayakan berbagai langkah strategis guna memastikan tanaman yang ada di lahan tetap terjaga hingga masa panen selesai di tengah kondisi musim kemarau saat ini," katanya.
Wazan mengingatkan para petani beserta penyuluh lapangan untuk mengambil langkah proaktif dalam pengaturan air serta perawatan tanaman demi menekan potensi gagal panen karena kekeringan.
Kolaborasi dari pemerintah daerah, gabungan kelompok tani, serta petugas di lapangan dipandang sebagai faktor krusial dalam mempertahankan stabilitas hasil pangan di Kulon Progo.
"Dengan langkah antisipatif tersebut, DPP Kulon Progo optimistis produktivitas lahan pertanian tetap dapat terjaga guna mendukung ketahanan pangan daerah meski dihadapkan pada tantangan musim kemarau," katanya.