Perpusnas

Perpusnas Dorong Relima Jadi Motor Utama Penguatan Budaya Literasi Nasional

Perpusnas Dorong Relima Jadi Motor Utama Penguatan Budaya Literasi Nasional
Perpusnas Dorong Relima Jadi Motor Utama Penguatan Budaya Literasi Nasional

JAKARTA - Upaya meningkatkan budaya literasi di Indonesia kini semakin diarahkan pada pendekatan berbasis masyarakat. 

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) menempatkan Relawan Literasi Masyarakat (Relima) sebagai ujung tombak dalam menggerakkan literasi langsung di tengah masyarakat yang beragam.

Kepala Perpusnas E. Aminudin Aziz menegaskan bahwa program Relima memiliki peran strategis dalam membangun kebiasaan literasi yang lebih kuat. Program ini tidak hanya berfokus pada pelaksanaan kegiatan, tetapi juga pada dampak nyata yang dirasakan masyarakat luas.

"Yang dikejar bukan sekadar program berjalan, melainkan dampaknya. Relima memberikan efek besar karena menggerakkan masyarakat langsung. Pada 2026, relawan Relima mencapai 360 orang yang tersebar di kurang lebih 200 kabupaten/kota di Indonesia," katanya dalam keterangan di Jakarta, Selasa.

Keberadaan ratusan relawan yang tersebar di berbagai daerah menjadi kekuatan utama dalam menjangkau masyarakat hingga ke tingkat akar rumput.

Literasi Dipandang sebagai Fondasi Utama Martabat dan Peradaban Bangsa

Dalam pandangan Perpusnas, literasi bukan sekadar kemampuan dasar membaca dan menulis, melainkan fondasi penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Aminudin menekankan bahwa tingkat literasi suatu bangsa sangat menentukan martabat dan kemajuannya.

Menurutnya, literasi mencakup kemampuan berpikir kritis, memahami informasi, hingga menciptakan inovasi yang bermanfaat bagi kehidupan.

"Tidak ada satupun bangsa yang bermartabat jika tingkat literasinya rendah. Literasi adalah fondasi peradaban manusia, dari mengenali lingkungan hingga menciptakan hal baru," ujar Aminudin.

Pandangan ini menegaskan bahwa penguatan literasi menjadi bagian integral dari pembangunan nasional yang berkelanjutan.

Transformasi Perpustakaan Jadi Pusat Aktivitas dan Pemberdayaan Masyarakat

Perpusnas juga terus mendorong perubahan paradigma terkait fungsi perpustakaan. Tidak lagi hanya sebagai tempat penyimpanan buku, perpustakaan kini diarahkan menjadi ruang yang lebih hidup dan dinamis.

Melalui pendekatan berbasis inklusi, perpustakaan diharapkan mampu menjadi pusat aktivitas masyarakat, tempat bertemunya ide, serta wadah kreativitas yang mendorong pemberdayaan.

"Perpustakaan harus menjadi ruang hidup, bukan sekadar tempat buku, melainkan tempat bertemunya ide, gagasan, dan aktivitas masyarakat," tuturnya.

Dengan pendekatan ini, perpustakaan diharapkan mampu menjangkau berbagai lapisan masyarakat, termasuk mereka yang sebelumnya belum memiliki akses terhadap fasilitas literasi.

Dukungan Kebijakan Pemerintah Perkuat Ekosistem Literasi Nasional

Dalam mendukung penguatan budaya literasi, pemerintah juga menghadirkan kebijakan afirmatif melalui sektor pendidikan. Salah satu langkah yang diambil adalah mengalokasikan minimal 10 persen dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk pengadaan buku bacaan non-teks.

Kebijakan ini dinilai sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam memperluas akses terhadap bahan bacaan yang lebih beragam, sehingga mampu meningkatkan minat baca di kalangan pelajar.

Langkah ini juga diharapkan dapat menciptakan ekosistem literasi yang lebih kuat dan berkelanjutan, terutama di lingkungan pendidikan formal.

Dengan ketersediaan bahan bacaan yang memadai, siswa dapat mengembangkan kemampuan literasi secara lebih optimal.

Kolaborasi Lintas Sektor Ditekankan untuk Perkuat Gerakan Literasi

Selain mengandalkan program dan kebijakan, Perpusnas juga menekankan pentingnya kerja sama lintas sektor dalam membangun budaya literasi yang kuat. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan dinilai menjadi kunci keberhasilan program literasi.

Aminudin menyatakan bahwa Perpusnas tidak hanya perlu didengar oleh masyarakat, tetapi juga oleh para pengambil kebijakan, mengingat peran strategis literasi dalam pembangunan manusia.

"Perpusnas harus didengar bukan hanya oleh masyarakat, melainkan juga oleh para pengambil kebijakan, karena di sinilah fondasi pembangunan manusia dibentuk," katanya.

Dengan sinergi yang kuat antar berbagai pihak, diharapkan gerakan literasi di Indonesia dapat berkembang lebih luas dan memberikan dampak nyata bagi kemajuan bangsa.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index