Avtur

Harga Avtur Naik Tajam, Bahlil Pastikan Indonesia Tetap Kompetitif di Asia

Harga Avtur Naik Tajam, Bahlil Pastikan Indonesia Tetap Kompetitif di Asia
Harga Avtur Naik Tajam, Bahlil Pastikan Indonesia Tetap Kompetitif di Asia

JAKARTA - Lonjakan harga avtur di Indonesia menjadi perhatian dalam beberapa waktu terakhir, terutama bagi pelaku industri penerbangan. 

Kenaikan ini terjadi seiring dengan perubahan harga energi di pasar global yang turut memengaruhi biaya operasional maskapai. Meski demikian, pemerintah menilai kondisi tersebut masih dalam batas wajar jika dibandingkan dengan negara lain di kawasan.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berpandangan harga avtur di Indonesia masih kompetitif dibandingkan dengan negara lain di kawasan, meskipun harga bahan bakar sektor penerbangan itu mengalami kenaikan terdampak dinamika di pasar global. Menteri ESDM Bahlil menyebut Pertamina telah melakukan penyesuaian harga avtur. Meski demikian, dia menilai tingkat harga tersebut masih relatif lebih rendah dibandingkan sejumlah negara lain, terutama di kawasan Asia Tenggara.

“Memang ada kenaikan dari Pertamina, tetapi kenaikan itu dibandingkan dengan harga avtur di negara lain khususnya tetangga, itu kita masih jauh lebih kompetitif,” katanya di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta.

Mekanisme Pasar Tentukan Pergerakan Harga Avtur

Pemerintah menegaskan bahwa harga avtur tidak ditentukan secara sepihak, melainkan mengikuti mekanisme pasar yang berlaku secara global. Hal ini berkaitan erat dengan karakter industri penerbangan yang bersifat internasional, di mana pergerakan harga energi menjadi faktor utama dalam penentuan biaya bahan bakar.

Dia mengatakan, harga avtur pada dasarnya mengikuti mekanisme pasar karena berkaitan langsung dengan aktivitas penerbangan internasional yang juga dilayani di bandara-bandara Indonesia. Dia mengatakan pergerakan harga avtur tidak dapat dilepaskan dari dinamika pasar energi global. Hal tersebut terutama karena avtur juga digunakan oleh maskapai internasional yang melakukan pengisian bahan bakar di Indonesia.

“Harga avtur memang ini kan adalah harga pasar, dan otomatis karena ini juga melayani pengisian avtur global, pesawat-pesawat dari luar negeri yang masuk, maka mekanisme pasar yang terjadi adalah mekanisme pasar,” ujarnya.

Penyesuaian Harga oleh Pertamina pada April 2026

PT Pertamina (Persero) sebagai penyedia avtur penerbangan nasional telah merilis harga terbaru yang berlaku untuk periode 1–30 April 2026. Penyesuaian ini menunjukkan adanya peningkatan signifikan dibandingkan bulan sebelumnya, baik untuk pasar domestik maupun internasional.

Untuk domestik, harga avtur terpantau naik rata-rata 70% dibandingkan dengan harga Maret 2026, sedangkan untuk internasional naik 80% (berbeda tiap bandara). Kenaikan ini mencerminkan tekanan yang terjadi di pasar energi global serta meningkatnya biaya pasokan bahan bakar.

Sebagai contoh, untuk Bandara Soekarno-Hatta Tangerang (CGK), harga avtur domestik per 1–31 Maret 2026 adalah Rp13.656,51 per liter, sedangkan pada periode 1–30 April 2026 harganya naik menjadi Rp23.551,08 per liter. Artinya, terdapat lonjakan hingga Rp9.894,57 per liter atau sekitar 72,45% secara bulanan (month-to-month/mtm).

Perbandingan dengan Harga Historis Tunjukkan Lonjakan Tajam

Jika ditarik lebih jauh ke belakang, kenaikan harga avtur saat ini terlihat semakin signifikan. Dibandingkan dengan harga rata-rata pada 2019, lonjakan yang terjadi mencapai hampir tiga kali lipat.

Bahkan, jika dibandingkan dengan harga avtur domestik rata-rata pada 2019 atau pada saat tarif batas atas (TBA) mulai diberlakukan, yaitu Rp7.970, maka kenaikannya mencapai 195%. Angka ini menunjukkan betapa besar tekanan yang dialami sektor energi dalam beberapa tahun terakhir.

Kondisi ini tentu menjadi tantangan bagi industri penerbangan, terutama dalam menjaga efisiensi operasional di tengah kenaikan biaya bahan bakar yang cukup tinggi.

Pemerintah Optimistis Daya Saing Tetap Terjaga

Meski terjadi kenaikan yang cukup tajam, pemerintah tetap optimistis bahwa harga avtur di Indonesia masih mampu bersaing di tingkat regional. Hal ini menjadi penting untuk menjaga daya tarik Indonesia sebagai hub penerbangan internasional sekaligus memastikan kelangsungan operasional maskapai.

Dengan posisi harga yang dinilai masih kompetitif, pemerintah berharap industri penerbangan nasional tetap dapat beroperasi secara optimal tanpa kehilangan daya saing. Selain itu, keberlanjutan layanan penerbangan internasional di bandara-bandara Indonesia juga diharapkan tidak terganggu.

Dalam konteks ini, kebijakan penyesuaian harga dipandang sebagai langkah yang tidak terhindarkan, mengingat kondisi pasar global yang terus berubah. Pemerintah pun terus memantau perkembangan tersebut guna memastikan keseimbangan antara kepentingan industri dan kebutuhan masyarakat tetap terjaga.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index