Minyak

Harga MinyakKita Mulai Turun, Mendag Klaim Situasi Membaik di Pasaran

Harga MinyakKita Mulai Turun, Mendag Klaim Situasi Membaik di Pasaran
Harga MinyakKita Mulai Turun, Mendag Klaim Situasi Membaik di Pasaran

JAKARTA  – Menteri Perdagangan Budi Santoso memberikan kabar menggembirakan terkait harga minyak goreng 'MinyaKita' yang perlahan-lahan mulai mengalami penurunan di pasaran. Dalam acara peluncuran Trade Expo Indonesia ke-40 yang berlangsung di kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat, Budi memaparkan perkembangan terbaru ini.

"Harga mahal itu tandanya warna merah. Sekarang sudah mulai oranye, artinya sudah turun. Jadi sudah bagus sekarang," ujar Budi Santoso dengan penuh optimisme saat menyampaikan kondisi terkini terkait situasi pasar.

Menyikapi dinamika harga yang terus berubah, Budi menjelaskan bahwa Kementerian Perdagangan memanfaatkan teknologi melalui platform Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP). Sistem ini memungkinkan pemantauan harga pangan secara harian di seluruh wilayah. "Setiap hari dimonitor oleh dinas. Jadi, kalau ada daerah dengan harga mahal, kami langsung tahu. Kami pasti komunikasi dengan daerah tersebut dan cek pasokannya," tegas Budi.

Langkah Cepat untuk Wilayah dengan Harga Tinggi

Budi menambahkan bahwa jika ditemukan wilayah yang masih mengalami harga tinggi untuk MinyaKita, tindakan cepat akan diambil dengan menambah pasokan ke daerah tersebut. Upaya distribusi juga didukung oleh kerjasama Kementerian Perdagangan dengan Perum Bulog dan ID Food, yang bertanggung jawab dalam mempercepat penyaluran minyak goreng ke wilayah-wilayah yang membutuhkan.

"Bulog dan ID Food bekerja sama dengan produsen supaya pasokan lebih banyak. Karena mereka punya banyak distributor di daerah timur, jadi bisa lebih cepat turun," ujarnya, menunjukkan koordinasi antara berbagai pihak untuk memastikan harga tetap stabil dan terjangkau di seluruh penjuru Indonesia.

Penyebab Utama Harga Minyak Masih Tinggi

Meskipun tren penurunan sudah mulai terlihat, harga minyak goreng MinyaKita masih relatif cukup tinggi di beberapa daerah. Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), Sahat Sinaga, telah mengidentifikasi dua alasan utama di balik fenomena ini. Pertama, banyak pedagang pasar terlibat dalam praktik repacking atau pengemasan ulang MinyaKita.

"Disparitas harganya bisa mencapai Rp 3.000 hingga Rp 4.000 lebih tinggi dari harga eceran tertinggi (HET) Rp 15.700 per liter," jelas Sahat dalam sebuah rapat koordinasi yang digelar bersama Badan Pangan Nasional (Bapanas) pekan lalu, Rabu, 12 Februari 2025. Dia menambahkan bahwa pedagang seringkali membeli produk dalam jumlah besar, mengganti kemasannya, dan kemudian menjualnya dengan harga yang lebih tinggi hingga Rp 2.000 per liter.

Strategi Pemerintah dan Tantangan ke Depan

Menghadapi tantangan distribusi dan harga ini, pemerintah tengah merumuskan kebijakan untuk meminimalkan praktik-praktik yang tidak sesuai dengan aturan. Pengetatan pengawasan di lapangan menjadi salah satu solusi untuk memastikan harga terjaga sesuai HET dan diterima di kantong masyarakat menengah ke bawah.

"Dengan adanya pengetatan ini, kami berharap dapat memperkecil peluang praktik penjualan yang cenderung merugikan konsumen," terang Budi, mencerminkan kebijakan pemerintah yang memprioritaskan kesejahteraan rakyat.

Sebagai langkah jangka panjang, Budi juga menyatakan pentingnya peran dari semua pihak termasuk pengusaha dan distributor dalam menstabilkan harga pangan. Dia menghimbau agar kegiatan bisnis dijalankan dengan mematuhi regulasi yang telah ditetapkan agar seluruh lapisan masyarakat dapat merasakan manfaatnya.

Dampak Langsung ke Masyarakat

Tren penurunan harga minyak goreng tentunya membawa dampak langsung bagi para konsumen. Harga yang mulai stabil dapat memberikan sedikit keringanan bagi masyarakat terutama saat kondisi ekonomi masih dalam tahap pemulihan pasca-pandemi. Kebijakan ini dinilai membantu menjaga daya beli masyarakat sekaligus menekan inflasi agar tidak melonjak tinggi.

Masyarakat berharap pemerintah terus konsisten dalam menjalankan langkah-langkah strategis untuk menjaga ketersediaan dan keterjangkauan bahan pangan. Inisiatif seperti yang dilakukan oleh Budi Santoso menunjukkan komitmen penuh pemerintah dalam memastikan kebutuhan pokok tetap terjaga dan dapat diakses oleh seluruh lapisan.

Pada akhirnya, diskusi mengenai harga minyak goreng tidak hanya berhenti pada aspek ekonomi semata, tetapi juga mempengaruhi keseluruhan aspek kehidupan sosial masyarakat. Dengan dukungan dari pemerintah dan kesadaran dari pelaku usaha, diharapkan stabilitas harga minyak dapat terwujud dalam waktu dekat.

Dalam konteks usaha mencapai kestabilan harga, semua upaya dan strategi yang diimplementasikan kini diharapkan tidak hanya berdampak pada perbaikan harga jangka pendek, melainkan juga memberikan pondasi yang kuat untuk kelangsungan ekonomi pangan yang lebih berkelanjutan di masa depan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index