BISNISINSIGHT.COM — Saham bank-bank besar kompak melemah pada perdagangan pekan ini seiring aksi jual bersih investor asing, dengan BMRI mencatat net sell terbesar sekitar Rp 699,9 miliar. Tekanan ini muncul meski likuiditas perbankan masih ditopang penempatan dana SAL pemerintah Rp 200 triliun hingga Juli 2027.
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) memimpin pelemahan saham perbankan dengan penurunan 2,41% dalam sepekan ke level Rp3.650 per saham. Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menyusul dengan koreksi 2,07% menjadi Rp4.260 per saham.
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) turun tipis 0,6% ke Rp3.310 per saham. Meski begitu, secara sepekan BBRI masih mencatat kenaikan 1,22%.
Adapun PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) terkoreksi 0,79% ke level Rp6.300 per saham. Dalam lima hari perdagangan, penurunan BBCA mencapai 0,4%.
Asing Lepas Saham Bank Besar
Arus dana investor asing memperlihatkan tekanan yang lebih dalam. Dalam sepekan, asing membukukan aksi jual bersih pada saham-saham bank besar dengan nilai terbesar di BMRI, yakni sekitar Rp 699,9 miliar.
BBCA menyusul dengan net sell asing sekitar Rp 631,1 miliar. BBNI mencatat net sell Rp 204,4 miliar, sedangkan BBRI sebesar Rp 176 miliar.
Pola ini menunjukkan asing cenderung mengurangi eksposur di sektor perbankan secara merata, bukan hanya pada satu emiten tertentu.
Dana SAL Rp 200 Triliun Jadi Penopang
Di tengah tekanan pasar, likuiditas perbankan mendapat dukungan dari kebijakan pemerintah yang mempertahankan penempatan dana SAL. Pemerintah memastikan dana sebesar Rp 200 triliun tetap ditempatkan di perbankan hingga Juli 2027.
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menyebut kebijakan tersebut merupakan kelanjutan dari komunikasi pemerintah dengan Bank Indonesia (BI) dan perbankan.
"Intinya, akhir tahun tetap sampai Rp 200 triliun dan diperpanjang sampai Juli tahun depan," ujar Juda dalam konferensi pers APBN KiTA Edisi September 2026, Jumat (18/9/2026).
Penempatan dana SAL ini berfungsi menjaga kecukupan likuiditas bank di tengah gejolak pasar keuangan. Dana pemerintah yang mengendap di perbankan memberi ruang bagi bank untuk menyalurkan kredit tanpa terganggu volatilitas portofolio saham.
Tekanan Jangka Pendek, Fondasi Masih Terjaga
Bagi nasabah dan investor ritel, pelemahan harga saham bank besar tidak serta-merta mencerminkan penurunan kinerja operasional. Tekanan lebih banyak bersumber dari perpindahan dana asing antar instrumen keuangan global.
Sejumlah analis menilai koreksi saham perbankan berpotensi terbatas selama likuiditas dan kualitas kredit tetap terjaga. Dukungan dana SAL hingga pertengahan 2027 memberi kepastian bagi bank dalam merencanakan ekspansi kredit.
Yang perlu dicermati adalah arah arus asing dalam beberapa pekan ke depan. Jika net sell berlanjut, tekanan harga saham bank besar bisa bertahan lebih lama meski fundamental emiten tidak berubah.