BPS: Ekspor Juli 2026 Capai US$26,2 Miliar, Migas Tertekan 14,58%

Selasa, 01 September 2026 | 12:06:00 WIB

BISNISINSIGHT.COM — Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data perdagangan luar negeri terbaru. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, memaparkan kinerja ekspor Juli 2026 dalam konferensi pers pada Selasa (1/9/2026).

Secara total, ekspor Indonesia mencapai US$26,2 miliar pada bulan ketujuh tahun ini. Capaian tersebut setara pertumbuhan 6,05% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/yoy).

Migas Jadi Satu-satunya Sektor yang Terkontraksi

Pertumbuhan ekspor hampir sepenuhnya ditopang oleh kelompok non-migas. Nilai ekspor komoditas non-migas tercatat US$25,43 miliar, atau tumbuh signifikan 6,84% (yoy).

Sebaliknya, nasib sektor migas justru berbeda jauh. Ekspor minyak dan gas bumi hanya meraup US$0,79 miliar, terkontraksi hingga 14,58% (yoy). Anjloknya harga komoditas energi global serta menurunnya volume produksi menjadi faktor yang menekan angka ini.

Ekspor Non-Migas Penopang Pertumbuhan, Segmen Ini yang Diuntungkan

Distribusi pertumbuhan yang tidak merata antara migas dan non-migas memberikan sinyal penting bagi pelaku industri. Produsen dan eksportir di sektor manufaktur, perkebunan, serta pertambangan non-migas menikmati daya saing yang lebih baik di pasar global.

Kenaikan ekspor non-migas ini juga menjadi indikator bahwa permintaan eksternal terhadap produk Indonesia masih solid di tengah gejolak harga energi. Bagi investor, data ini menjadi bahan evaluasi untuk sektor-sektor yang berkaitan langsung dengan rantai pasok ekspor, seperti logistik pelabuhan dan perbankan yang mendanai aktivitas perdagangan.

Untuk konteks, komposisi ekspor Juli 2026 menunjukkan ketergantungan yang masih besar pada komoditas non-migas. Kontribusi non-migas mencapai lebih dari 97% dari total nilai ekspor nasional pada bulan tersebut.

Data BPS ini melengkapi indikator makro lain yang dirilis akhir-akhir ini. Kinerja ekspor yang solid menjadi modal berharga untuk menjaga pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026, terutama saat konsumsi domestik menunjukkan tren normalisasi.

Terkini