Inflasi Agustus 2026 Diproyeksi 2,93%, Harga Pangan dan Emas Jadi Pendorong Utama

Inflasi Agustus 2026 Diproyeksi 2,93%, Harga Pangan dan Emas Jadi Pendorong Utama

BISNISINSIGHT.COM — Kepala Ekonom Maybank Indonesia, Juniman, memproyeksikan inflasi tahunan Agustus 2026 mencapai 2,93 persen, lebih tinggi dari capaian Juli 2026 sebesar 2,88 persen. Rumah tangga perlu bersiap terhadap kenaikan biaya hidup yang tipis namun pasti.

Kenaikan ini utamanya dipicu oleh harga komoditas pangan yang masih fluktuatif dan tren penguatan harga emas di pasar global.

Berapa Besaran Inflasinya?

Secara bulanan, Indeks Harga Konsumen (IHK) diperkirakan deflasi 0,04 persen. Angka ini berbalik arah dari inflasi 0,14 persen pada Juli 2026.

Artinya, harga-harga secara tahunan masih menjalar naik, tetapi dalam sebulan terakhir terjadi sedikit pelonggaran. Pelonggaran itu belum cukup untuk mengubah tren kenaikan.

Proyeksi 2,93 persen masih di bawah rentang sasaran pemerintah dan Bank Indonesia, yaitu 2,5 persen plus minus satu persen. Karena itu, tekanan harga masih terkendali.

Apa yang Mendorong Lonjakan Inflasi?

Dua komoditas menjadi pendorong utama: harga pangan yang fluktuatif dan emas yang sedang menguat di pasar global. Kenaikan harga emas ikut mengerek IHK karena komoditas ini masuk dalam perhitungan indeks.

Investasi emas memang menguntungkan, tetapi biaya membeli perhiasan atau batangan ikut naik. Sementara harga pangan, yang menjadi kebutuhan pokok harian, berdampak langsung pada daya beli kelas menengah ke bawah. Kelompok ini paling rentan terhadap gejolak harga.

Bagaimana Dampaknya ke Kantong Masyarakat?

Dengan inflasi tahunan mendekati 3 persen, pengeluaran rumah tangga untuk makanan, minuman, dan transportasi bertambah. Kenaikan tipis tetap terasa bagi keluarga yang setiap hari berbelanja di pasar tradisional.

Untuk mengantisipasi, rumah tangga bisa menyesuaikan pola belanja, misalnya memanfaatkan komoditas lokal yang lebih stabil. Investor juga bisa memanfaatkan tren kenaikan emas sebagai diversifikasi portofolio.

Dari sisi kebijakan, proyeksi inflasi yang terkendali memberi ruang bagi Bank Indonesia untuk tidak terburu-buru menaikkan suku bunga acuan. Stabilitas harga menjaga fokus kebijakan moneter pada nilai tukar rupiah dan pertumbuhan ekonomi.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index