Tertekan BREN dan BBRI, IHSG Sesi I Parkir di Zona Merah

Rabu, 29 Juli 2026 | 00:33:31 WIB
IHSG Sesi I Turun 0,60% ke 6.093,59, BREN hingga BYAN Melemah [FOTO: NET].

JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkunci di zona merah pada penutupan perdagangan sesi I hari Rabu (29/7/2026). Deretan saham berkapitalisasi besar (big caps) seperti BREN, BBRI, hingga BYAN menjadi penekan utama yang menahan laju pergerakan indeks komposit.

Mengutip data dari IDX Mobile, IHSG tergerus 0,60% atau berkurang 37 poin menuju posisi 6.093,59. Sebanyak 489 saham tercatat melemah, 292 saham berada di posisi stagnan, dan 184 saham berhasil mengalami kenaikan. 

Sepanjang separuh hari perdagangan ini, transaksi pasar mencatatkan volume sebesar 25,95 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp16,84 triliun, sementara kapitalisasi pasar berada di level Rp10.667 triliun.

Dilihat dari jajaran saham big caps, saham BBCA terpantau menguat 0,40% ke Rp6.250, TLKM terkerek 1,17% ke Rp2.590, serta ASII bertambah 0,40% ke level Rp4.990. Selanjutnya, saham TPIA melesat 2,87% ke Rp2.150, BRPT menguat 1,43% ke Rp1.770, dan DSSA naik 0,60% ke posisi Rp835.

 Sebaliknya, saham BREN melemah 4,08% ke Rp3.290, BBRI terkoreksi 0,34% ke Rp2.920, BYAN melorot 0,82% ke Rp12.050, MORA tertekan 3,91% ke Rp6.150, serta AMMN mengalami penurunan 1% ke level Rp3.970.

Sementara itu, pada deretan top gainers atau saham dengan kenaikan tertinggi sepanjang sesi I hari ini, saham MGNA menduduki posisi puncak dengan lonjakan 27,78% ke Rp115, DWGL naik 18,18% ke Rp338, ECII menanjak 13,82% ke Rp173, dan MTWI terangkat 13,22% ke Rp274. 

Di sisi lain, daftar top losers atau saham dengan penurunan terdalam dipimpin oleh MCAS yang merosot 14,81% ke Rp276, disusul MPRO yang jatuh 14,26% ke Rp10.525, BAJA terpangkas 13,39% ke Rp194, serta PRDL terkoreksi 10,07% ke Rp250.

Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, mencatat bahwa pergerakan IHSG pada sesi pertama hari ini memperlihatkan indikasi indeks komposit tengah menguji kisaran area support. Sejak menguji level resistance 6.340 pada perdagangan 21 Juli 2026 lalu, IHSG secara konsisten membentuk tren lower low hingga saat ini. 

Alrich memaparkan bahwa posisi IHSG saat ini mulai memasuki area target support di level 6.000. Jika laju koreksi mampu bertahan di atas 6.000, terdapat sinyal awal rebound yang disokong oleh indikator Stochastic RSI yang telah mencapai area oversold.

"Meskipun sudah di support, pertimbangkan untuk wait and see dan tunggu hingga terdapat konsolidasi jangka pendek terlebih dulu, minimal 1-2 hari untuk indikasi awal rebound. Karena jika breaklow 6.000, IHSG potensi kembali memasuki fase bearish," kata Alrich, Rabu (29/7/2026).

Saat ini, salah satu sentimen yang membayangi pergerakan IHSG adalah pergerakan nilai tukar rupiah di pasar keuangan. Pada sesi perdagangan Selasa (28/7) lalu, rupiah kembali ditutup melandai 0,41% ke level Rp18.083 per dolar AS di pasar spot, mendekati rekor terendah sepanjang sejarah di kisaran Rp18.190 per dolar AS. 

Menurutnya, tekanan yang berlanjut pada mata uang garuda ini dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Dari sisi eksternal, kondisi ini terdorong oleh penguatan indeks dolar AS menjelang agenda pertemuan The Fed pekan ini.

"Sedangkan dari domestik, investor masih bersikap wait and see di tengah meningkatnya ketidakpastian terkait penunjukkan Gubernur Bank Indonesia definitif berikutnya yang dinilai dapat berpengaruh terhadap kebijakan bank sentral ke depannya," pungkas dia.

Terkini